Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita BMKG Featured Gempa Bumi Lintas Peristiwa Megathrust Spesial

    BMKG Imbau Warga Tak Panik Hadapi Potensi Megathrust - RRI

    2 min read

     

    • 26 Sep 2026 10:00 WIB
    •  Toli Toli
    BMKG Imbau Warga Tak Panik Hadapi Potensi Megathrust
    Hendrik Leopatty menegaskan kesiapsiagaan menghadapi gempa dan tsunami bukan hanya melalui kajian, tetapi juga dengan membangun literasi kebencanaan lintas generasi, Senin (22/9). Foto: RRI

    RRI.CO.ID, Tolitoli – Masyarakat di Sulawesi Tengah diimbau tidak panik menyikapi informasi mengenai potensi gempa besar dan megathrust yang beredar di media sosial. BMKG memastikan kajian dan edukasi kebencanaan terus dilakukan, termasuk pemetaan jalur serta lokasi evakuasi di wilayah pesisir Tolitoli dan Buol.

    Aktivitas kegempaan di Sulawesi Tengah dipengaruhi keberadaan sejumlah sesar atau patahan aktif yang menjadi sumber gempa bumi di wilayah Sulawesi. Pengamat Meteorologi dan Geofisika Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Hendrik Leopatty, menjelaskan Pulau Sulawesi memiliki sekitar 45 hingga 50 sesar dangkal yang berkaitan dengan kondisi geologi dan pertemuan beberapa lempeng bumi.

    Baca juga:

    Menurut Hendrik, sejumlah sumber gempa besar di Sulawesi Tengah antara lain Sesar Palu-Koro dan Sesar Matano. Sementara di bagian utara Sulawesi terdapat zona subduksi yang berada di sebelah utara Kabupaten Tolitoli hingga arah Manado serta melewati wilayah Buol.

    Hendrik mengatakan sumber gempa dari sesar dangkal memiliki karakter berbeda dengan gempa yang bersumber dari zona megathrust. Zona megathrust dapat menjadi sumber gempa besar yang berpotensi memicu tsunami, sehingga masyarakat di wilayah pesisir perlu memahami langkah penyelamatan diri.

    Baca juga:

    “Zona megathrust dapat menjadi sumber gempa besar yang berpotensi memicu tsunami. Karena itu, masyarakat pesisir perlu memahami langkah penyelamatan diri, terutama ketika merasakan guncangan gempa yang kuat,” ujar Hendrik.

    Untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, BMKG bersama pemerintah daerah dan komunitas kebencanaan telah melakukan sejumlah kajian sejak 2021. Kajian tersebut mencakup potensi genangan tsunami, jalur evakuasi, hingga waktu yang dibutuhkan masyarakat untuk berjalan kaki menuju lokasi aman.

    Hendrik Leopatty menegaskan kesiapsiagaan menghadapi gempa dan tsunami tidak hanya dilakukan melalui kajian, tetapi juga dengan membangun literasi kebencanaan lintas generasi. Masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan memastikan informasi kebencanaan melalui BMKG, BPBD, BNPB, pemerintah daerah maupun media massa.

    “Pastikan informasi kebencanaan diperoleh dari sumber yang terverifikasi. Jangan mudah mempercayai informasi yang beredar dan belum jelas sumbernya,” tegas Hendrik Leopatty.

    Komentar
    Additional JS