Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Makan Bergizi Gratis Sekolah Rakyat Kulon Progo Spesial

    Dulu Terima MBG, Siswa Sekolah Rakyat Kulon Progo Kini Makan Prasmanan 3 Kali - Kompas

    10 min read

     

    KULON PROGO, KOMPAS.com - Ayam crispy, tumis sawi putih dengan tahu, bakwan, nasi, dan potongan semangka tersaji di hadapan Arya Satya Mahardika, Selasa (8/9/2026) siang.

    Siswa kelas 10 Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu segera menyantap makan siangnya.

    Tak banyak bicara, Arya menghabiskan makanan di piringnya. Hanya kulit semangka yang tersisa.

    Teman-temannya yang duduk di kanan dan kirinya pun melakukan hal serupa. Piring mereka nyaris bersih tanpa sisa.

    Viral Tempe MBG di Depan Toilet Usai 216 Siswa Blora Diduga Keracunan

    Usai makan, mereka bercengkerama dan sesekali bercanda sambil tetap duduk rapi di aula makan asrama Sekolah Rakyat di Desa Gulurejo.

    Baca juga: Mensos: Lulusan Sekolah Rakyat Jadi Pekerja Terampil atau Melanjutkan ke Perguruan Tinggi

    Ketika ditanya soal rasa makanan, jawaban Arya singkat.

    “Alhamdulillah enak,” kata Arya sambil melebarkan senyum.

    Bagi Arya, salah satu perbedaan yang ia rasakan dengan makanan yang pernah diterimanya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah kondisi makanan saat disantap.

    Baca juga: Potret Kantin 300, Rest Area Paling Lengkap dan Murah di Jalan Lintas Medan-Parapat

    Menurut dia, makanan di Sekolah Rakyat biasanya masih hangat karena tidak disiapkan terlalu lama sebelum waktu makan.

    Pengalaman Arya menerima MBG terjadi ketika ia masih duduk di kelas 9 di salah satu SMP di Kapanewon Galur.

    Beberapa menu dari masa itu masih diingatnya. Ia pernah mendapat nasi goreng yang menurutnya aromanya sudah tidak segar, meski tetap dimakan.

    Baca juga: Cerita Sunhaji Penjual Es Teh Dapat Bantuan Uang hingga Umrah Usai Dihina Miftah

    Ia juga pernah mendapat ikan lele yang menurutnya masih berbau amis.

    “Kalau sekarang belum pernah (dapat ikan amis),” kata Arya.

    Namun, pengalaman Arya di Sekolah Rakyat juga tidak selalu sempurna. Ia mengaku pernah menemukan ayam yang bagian dalamnya masih merah. Ia juga pernah mengalami sakit perut setelah mengonsumsi sambal yang disediakan bersama makanan.

    Baca juga: Buntut 70 Siswa Keracunan di Sleman, Ibu-ibu Pukuli Panci Minta MBG Dihentikan!

    Pengalaman mengenai MBG juga diceritakan Maeta Tesya Kurniawati, siswi kelas 10 Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kulon Progo.

    Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Maeta mengaku alumni MTs Muhammadiyah Wonosari, Gunungkidul. Ia juga pernah menerima MBG.

    Menurut Maeta, rasa makanan yang diterimanya saat itu tidak selalu sama. Kadang makanan terasa asin, tetapi pada kesempatan lain justru hambar.

    Baca juga: Imbas Keracunan Ikan Tongkol MBG di Karo, Siswa Diduga Alami Gangguan Ingatan

    Ada satu pengalaman yang paling diingatnya. Saat pertama kali menerima MBG, Maeta menemukan seekor lalat pada telur rebus yang menjadi bagian dari makanannya.

    Ia kemudian memilih tidak memakannya.

    “Dulu waktu pertama kali makan MBG itu, di telur rebusnya ada lalat. Terus enggak saya makan,” kata Maeta.

    Soal porsi, pengalaman Maeta juga tidak selalu sama. Ia mengatakan makanan yang diterimanya terkadang cukup, tetapi pada kesempatan lain masih kurang.

    Baca juga: Alan, Balita yang Diduga Keracunan MBG di Agam Sempat Kejang Setelah Makan 2 Telur Puyuh

    Kini, pola makan Maeta berubah setelah tinggal di Sekolah Rakyat.

    Di sekolah berasrama tersebut, ia mendapat makanan tiga kali sehari dan dapat mengambil sendiri sesuai kebutuhan.

    “Kalau di sini, jumlah porsinya tercukupi,” ujar Maeta.

    Baca juga: Gubernur DIY Sultan HB X Soroti Dugaan Keracunan MBG: Tidak Disengaja, Tapi Teledor

    Prasmanan, Bisa Pilih yang Disuka

    Jadwal makan menjadi salah satu bagian dari rutinitas baru Arya dan Maeta. Sarapan dilakukan sekitar pukul 06.00 WIB. Makan siang berlangsung setelah shalat dzuhur, sekitar pukul 12.15 WIB. Sementara makan malam dilakukan setelah shalat maghrib, sekitar pukul 18.30 WIB.

    Makanan disajikan secara prasmanan. Siswa bisa memilih mana yang disuka. Sedangkan yang masih lapar diperbolehkan mengambil tambahan.

    Arya mengaku jarang mengambil makanan tambahan karena porsi yang diberikan sudah cukup untuknya.

    Baca juga: Siswa Korban Keracunan MBG di Lasem Trauma, Pilih Bawa Bekal dari Rumah

    Maeta justru memiliki kebiasaan kecil setiap kali waktu makan tiba. Ia kerap penasaran dengan menu yang akan disajikan.

    “Sering nebak-nebak, tiap mau makan itu nebak makannya apa,” katanya.

    Selain makanan utama, para siswa juga mendapat susu dan makanan ringan pada waktu tertentu.

    Ketika ada siswa yang sakit dan tidak dapat makan bersama teman-temannya, makanan akan dibawakan kepada mereka.

    Baca juga: Puluhan Siswa SDN 1 Sumberagung Bantul Belum Masuk Sekolah Usai Dugaan Keracunan MBG

    Bukan soal Sepiring Makanan

    Bagi kedua siswa itu, kehidupan di Sekolah Rakyat tidak hanya berubah soal makanan. Sekolah sekaligus menjadi tempat tinggal mereka. Mereka belajar, berolahraga, makan, dan tidur di lingkungan yang sama.

    Maeta mengaku senang dengan kegiatan olahraga yang tersedia. “Bisa olahraga, olahraganya juga banyak,” katanya.

    Ia juga menikmati suasana belajar dan keberadaan teman-teman yang memiliki pengalaman serupa.

    Baca juga: 69 Siswa Keracunan MBG di Turi Sleman, Orangtua Korban: Mbok Udah Dihentiin Aja

    Sementara Arya mengaku nyaman tinggal di asrama. Untuk urusan tidur, ia tidak memiliki keluhan. “Ya enak, alhamdulillah,” ujarnya.

    Jauh dari keluarga juga tidak berarti mereka sepenuhnya kehilangan kesempatan bertemu orangtua. Dalam sepekan, orangtua dapat datang menjenguk dua kali secara bergantian dengan jadwal penggunaan telepon seluler.

    Hal-hal sederhana itu perlahan menjadi bagian dari keseharian mereka. Bagi Arya, semua rutinitas tersebut perlahan membuat kehidupan di Sekolah Rakyat terasa biasa.

    Baca juga: PJJ Diperpanjang, Dapur MBG di Lampung Batal Masak Mendadak

    “Selama ini jadi betah,” kata Arya.

    Jawaban serupa datang dari keseharian Maeta. Ia menikmati makanan, kegiatan olahraga, suasana belajar, serta kebersamaan dengan teman-temannya.

    Bagi mereka, sepiring makanan mungkin hanya bagian kecil dari kehidupan di Sekolah Rakyat.

    Namun, dari meja makan itulah terlihat bagaimana dua siswa yang sebelumnya memiliki pengalaman dengan MBG kini menjalani pola hidup baru: makan tiga kali sehari, belajar dan berolahraga bersama, tidur di asrama, serta tetap memiliki ruang untuk bertemu keluarga.

    Mereka terus belajar beradaptasi.

    Baca juga: Siswa Korban Keracunan MBG di Lasem Trauma, Pilih Bawa Bekal dari Rumah

    Sekolah Masih Berbenah

    Plt Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kulon Progo Agus Ristanto mengatakan, pola makan dan kehidupan asrama merupakan bagian dari sistem yang sedang dibangun di sekolah tersebut.

    Menurut Agus, karena Sekolah Rakyat menerapkan sistem berasrama, kebutuhan siswa bukan hanya pembelajaran di kelas. Pengasuhan dan kehidupan sehari-hari juga harus mendapat perhatian.

    Baca juga: Kronologi Siswa di Pati Diduga Keracunan MBG: Makan Siang, Malam Mulai Sakit Perut

    Ia mengatakan sekolah juga terus mengedukasi siswa agar memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan bersama, termasuk dalam hal mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menjaga kebersihan.

    “Pokok dasarnya adalah mengedukasi. Jadi kepemilikan ini bukan hanya milik manajemen sekolah, guru, siswa memiliki semuanya,” kata Agus.

    Untuk kebutuhan makan, Agus menyebut alokasi yang disiapkan sekitar Rp 60.000 per anak per hari atau sekitar Rp 15.000 untuk setiap kali makan.

    Menurut dia, penyediaan makanan sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan baru bagi siswa yang tinggal di asrama.

    Sekolah, kata Agus, masih terus melakukan pembenahan di berbagai sisi seiring pelaksanaan program yang masih berjalan.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS