Gunung Anak Krakatau Erupsi, Bandara Changi Ikut Kacau! Puluhan Penerbangan ke Jakarta Dibatalkan - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu gangguan penerbangan antara Singapura dan Jakarta akibat abu vulkanik yang membahayakan operasional pesawat.
- Sebanyak 33 penerbangan Changi-Jakarta dibatalkan, sementara total 301 penerbangan terdampak akibat pembatalan, keterlambatan, pengalihan, dan gangguan operasional.
- Singapore Airlines dan Malaysia Airlines ikut membatalkan penerbangan, sementara penumpang diminta rutin mengecek status penerbangan karena kondisi masih terus berubah.
TRIBUNNEWS.COM - Kekacauan perjalanan udara melanda Bandara Changi, Singapura, dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, setelah abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau mengganggu operasional penerbangan pada Minggu (6/9/2026).
Dampak erupsi tersebut membuat sejumlah penerbangan antara Singapura dan Jakarta dibatalkan, ditunda, maupun mengalami penyesuaian jadwal.
Sebanyak 33 penerbangan terjadwal dari Bandara Changi menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu dibatalkan akibat dampak abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Dalam pernyataan, juru bicara Changi Airport Group mengatakan kondisi di lapangan masih terus berubah.
Karena itu, jadwal penerbangan masih dapat disesuaikan oleh masing-masing maskapai sesuai dengan perkembangan kondisi abu vulkanik dan keamanan penerbangan.
“Para pelancong disarankan untuk mengecek status penerbangan terbaru dengan maskapai masing-masing sebelum menuju bandara,” demikian imbauan Changi Airport Group.
Penumpang juga diminta memantau informasi melalui situs resmi Bandara Changi maupun aplikasi Changi untuk mengetahui perkembangan terbaru terkait penerbangan mereka.
Ratusan Penerbangan Terdampak
Gangguan penerbangan tidak hanya terjadi pada rute Singapura-Jakarta.
Berdasarkan data penerbangan antara pukul 01.30 hingga 13.30 pada Minggu, sebanyak 301 penerbangan dilaporkan terdampak.
Baca juga: 4 Gunung Api Erupsi Bersamaan, Pemerintah Didesak Tak Telat Beri Peringatan Bencana
Dari jumlah tersebut, 233 penerbangan merupakan penerbangan domestik, 58 penerbangan internasional, dan 10 penerbangan kargo.
Gangguan tersebut mencakup pembatalan, penundaan, pengalihan penerbangan ke bandara lain, serta gangguan operasional lainnya.
Operasional penerbangan diharapkan dapat kembali berjalan pada pukul 22.30 waktu Singapura, tetapi kondisi tersebut tetap bergantung pada perkembangan abu vulkanik dan penilaian keselamatan penerbangan.
Penutupan atau pembatasan operasional bandara dilakukan sebagai langkah keselamatan karena abu vulkanik dapat membahayakan pesawat apabila masuk ke dalam mesin atau mengganggu sistem penerbangan.
Singapore Airlines Batalkan 19 Penerbangan
Salah satu maskapai yang terdampak adalah Singapore Airlines (SIA).
Singapore Airlines membatalkan sejumlah penerbangan yang melayani rute Singapura-Jakarta dan Jakarta-Singapura pada Minggu (6/9/2026).
Dalam keterangan resminya, SIA menyatakan terdapat 19 penerbangan yang terdampak pembatalan akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Penerbangan yang dibatalkan mencakup perjalanan dari Singapura menuju Jakarta maupun penerbangan dari Jakarta menuju Singapura.
SIA mengatakan kondisi akibat aktivitas vulkanik masih berkembang sehingga maskapai terus melakukan pemantauan.
“Mengingat situasi yang masih dinamis, penerbangan SIA lainnya antara Singapura dan Indonesia mungkin akan terdampak,” tulis Singapore Airlines dalam keterangannya.
Maskapai tersebut meminta penumpang untuk memantau status penerbangan melalui layanan Flight Status.
Penumpang juga diminta memastikan informasi kontak mereka telah diperbarui melalui fitur Manage Booking atau berlangganan layanan notifikasi seluler agar dapat menerima pemberitahuan apabila terjadi perubahan jadwal.
Malaysia Airlines Batalkan 12 Penerbangan
Gangguan penerbangan juga berdampak pada Malaysia Airlines.
Maskapai asal Malaysia tersebut membatalkan sejumlah penerbangan rute Kuala Lumpur-Jakarta pada Minggu (6/9/2026).
Pembatalan dilakukan setelah aktivitas erupsi dan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Dalam pengumuman bertanggal 6 September 2026, Malaysia Airlines menyatakan pembatalan berlaku terhadap sejumlah penerbangan yang menghubungkan Bandara Internasional Kuala Lumpur (KUL) dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK).
“Karena letusan gunung berapi dan aktivitas abu vulkanik baru-baru ini dari Gunung Anak Krakatau, Indonesia, yang mempengaruhi operasional bandara di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta (CGK), Malaysia Airlines membatalkan sejumlah penerbangan pada 6 September 2026,” tulis Malaysia Airlines dalam keterangannya.
Malaysia Airlines mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan situasi.
Informasi terbaru mengenai penerbangan yang terdampak akan disampaikan langsung kepada penumpang seiring perkembangan kondisi di sekitar Jakarta.
Penumpang Terpaksa Mengubah Rencana Perjalanan
Buntut pembatalan penerbangan, banyak penumpang harus mengubah rencana perjalanan mereka.
Salah satunya adalah Catrine Carina (31), yang sedang hamil tujuh bulan dan berencana pulang ke Indonesia untuk melahirkan.
Carina seharusnya melakukan perjalanan dari Bandara Changi pada Minggu bersama suaminya, Weng Ming Xing, 29 tahun.
Namun, rencana tersebut berubah setelah penerbangannya mengalami penundaan dan kemudian dibatalkan akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Carina berencana tinggal di Indonesia hingga tahun depan setelah melahirkan. Sementara itu, suaminya dijadwalkan kembali ke Singapura setelah berada di Indonesia selama sekitar satu minggu.
Situasi tersebut membuat Carina harus mempertimbangkan kembali jadwal perjalanan karena perubahan waktu penerbangan dapat memengaruhi dokumen kesehatan yang diperlukan untuk melakukan perjalanan udara saat hamil.
Ia mengatakan kemungkinan perlu memperoleh surat keterangan kesehatan atau layak terbang yang baru apabila penerbangan pengganti berlangsung setelah masa berlaku dokumen sebelumnya.
“Kami masih berpikir, penerbangan dua jam seharusnya tidak masalah bagi saya, tiba-tiba hal ini terjadi,” kata Carina, dikutip dari CNA.
Gangguan penerbangan juga menimbulkan persoalan komunikasi antara maskapai dan penumpang.
Weng mengatakan dirinya dan Carina telah memeriksa situs Singapore Airlines sebelum berangkat ke bandara.
Saat itu, mereka tidak melihat indikasi bahwa penerbangan akan dibatalkan.
Weng kemudian menyadari bahwa maskapai sebenarnya telah mengirimkan pesan singkat mengenai perubahan penerbangan. Namun, pesan tersebut terlewat karena mereka terburu-buru menuju bandara.
Sejumlah penumpang lainnya juga mengaku mengalami persoalan serupa, termasuk tidak menerima informasi atau mendapatkan informasi yang berbeda dari aplikasi maskapai.
Salah satunya adalah Tina Seng, 47 tahun, yang berencana pergi ke Jakarta bersama suami dan dua putrinya untuk berlibur sekaligus mengunjungi keluarga.
Seng mengatakan dirinya menerima pesan dari Scoot yang menyatakan penerbangannya dibatalkan.
Namun, ia sempat meragukan keabsahan informasi tersebut karena pemesanan dilakukan melalui Singapore Airlines dan nomor referensi dalam pesan yang diterimanya berbeda.
Ketika memeriksa aplikasi Singapore Airlines, status penerbangan justru masih tercatat sebagai “dikonfirmasi”.
Karena itu, keluarga Seng tetap berangkat ke bandara. Setelah tiba di bandara, pihak Singapore Airlines membantu proses pemesanan ulang penerbangan mereka.
Namun, Seng masih mempertimbangkan apakah perjalanan ke Jakarta tetap dilanjutkan.
Ia khawatir situasi abu vulkanik kembali memburuk setelah mereka tiba di Indonesia.
Dengan demikian, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya berdampak pada wilayah sekitar gunung, tetapi juga mengganggu konektivitas penerbangan internasional dan domestik.
(Tribunnews.com/Namira)