Identifikasi Jenazah Surakhman ABK Kapal Rombongan Jurnalis Dapat Dipertanggungjawabkan - Berita Nasional

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki. (BeritaNasional/Bachtiar)
BeritaNasional.com - Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki menegaskan hasil identifikasi oleh Tim DVI melalui Pusdokkes Polri terhadap jenazah Anak Buah Kapal (ABK) KM Arupadhatu I, Surakhman bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.
Perlu diketahui, Surakhman adalah ABK yang saat itu sempat membawa rombongan jurnalis yang meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang sempat hilang kontak.
BACA JUGA
"Secara keahlian dari Biddokkes Polri yang melakukan DNA dapat dipertanggungjawabkan secara hukum," kata Hengki saat jumpa pers pada Rabu (23/9/2026).
Jasad pria yang sempat ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, dipastikan identik dengan Surakhman berdasarkan hasil pemeriksaan nomor PM/62/P.ENGGANO/01, dengan sampel Yayat anak kandungnya sesuai data primer sidik jari, gigi, dan DNA.
"Hasil identifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap seorang mayat Mr X yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu bahwa secara genetik teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK kapal,” ujarnya.
Proses identifikasi kemudian dilakukan oleh Polda Bengkulu dengan berkomunikasi dengan Polda Banten. Tim DVI kemudian melakukan pencocokan jasad dengan data antemortem yang sebelumnya sudah dikumpulkan.
Karena data identitasnya telah dipastikan, maka dalam waktu dekat jenazah dari Surakhman akan dipindahkan dari Bengkulu ke Jakarta via Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) untuk nantinya dimakamkan di kampung halamannya.
“Akan diberangkatkan besok dari Kabid Dokkes Bengkulu menuju Bandara Soekarno-Hatta yang akan kita terima bersama Gubernur, Basarnas, dan tim terpadu,” terang dia.
Adapun dari insiden hilangnya rombongan jurnalis, menyisakan tujuh orang yang belum ditemukan. Yakni, Warta (55) selaku Kapten Kapal, Heriyanto (49) selaku guide, M. Bagus Khoirunnas (Jurnalis Antara), Arie Basuki (Jurnalis Merdeka), Yudistiro Pranoto (Jurnalis Inews), Anadolu Firdaus Wajidi (Jurnalis Anadolu), dan Donal Husni (Freelance).