Jangan Bercanda Tarik Kursi, Dosen IPB Ingatkan Hal Ini Bisa Ancam Nyawa - detik
Daftar Isi
Jakarta -
Candaan tarik kursi kembali menelan korban jiwa. Siswa di Pariaman, Sumatera Barat meninggal dunia beberapa waktu lalu usai cedera karena jatuh saat kursinya ditarik di sekolah.
Kendati sempat tampak membaik setelah mengalami cedera, siswa tersebut kemudian mengembuskan napas terakhir. Kabar ini kemudian meluas di media sosial TikTok.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Citra Ariani, Sp KP, M Biomed membenarkan bahwa jatuh akibat candaan tarik kursi di lingkungan sekolah dapat menimbulkan cedera serius. Benturan pada tulang belakang dalam kondisi tertentu bisa menyebabkan cedera sumsum tulang belakang atau spinal cord injury (SCI).
Citra menjelaskan, cedera sumsum tulang belakang terjadi saat trauma atau luka fisik merusak bagian dari sistem saraf pusat di dalam tulang belakang. Kerusakan ini dapat terjadi langsung saat benturan maupun setelahnya, yang berkembang lewat proses cedera sekunder.
Akibatnya, orang yang mengalami cedera sumsum tulang belakang terganggu dalam fungsi gerak, sensorik dan reflek organ tubuh, bahkan berpotensi kehilangan nyawa.
Perkembangan Cedera Bisa Berbulan-bulan Setelah Jatuh
Citra mengatakan, trauma keras pada tulang belakang dapat menyebabkan cedera primer dan cedera sekunder. Cedera primer dapat merusak sel-sel saraf atau pembuluh darah yang memperdarahi serabut saraf.
Sedangkan cedera sekunder berupa rangkaian reaksi biologis yang memperluas kerusakan melalui proses peradangan.
"Proses cedera sekunder dapat terjadi dari hitungan menit hingga berbulan-bulan setelah trauma terjadi," ucapnya, dikutip dari keterangan IPB, Jumat (11/9/2026).
Sulit Tahan Buang Air Kecil-Kelumpuhan
Ia menjelaskan, orang yang mengalami kerusakan pada bagian tertentu dari sumsum tulang belakang bisa kehilangan fungsi sensorik, motorik, atau keduanya. Pada aktivitas sehari-hari, orang tersebut bisa kehilangan kemampuannya untuk merasakan sentuhan dan panas; atau nyeri; serta mengalami kelemahan atau kelumpuhan.
Sejumlah tanda bahaya cedera setelah prank tarik kursi meliputi nyeri punggung hebat, rasa menekan di leher atau kepala, kelumpuhan mendadak, kesulitan menggerakkan bagian tubuh, rasa baal, hilangnya kontrol buang air kecil atau besar, serta penurunan kesadaran.
"Spinal cord injury juga dapat mengganggu fungsi saraf otonom. Salah satunya adalah hilangnya kontrol untuk menahan buang air kecil. Nyeri neuropatik akibat cedera sekunder pun dapat bertahan lama dan mengganggu kualitas hidup," ucapnya.
Kenapa Prank Tarik Kursi Mengancam Nyawa?
Tidak semua korban prank tarik kursi di sekolah menunjukkan kesakitan berat hingga tidak dapat duduk. Sebagian lainnya masih sadar dan dapat bicara setelah jatuh.
Kendati demikian, hal tersebut menurut Citra tidak menjadikan prank tarik kursi aman. Ia mengingatkan, cedera tulang belakang tidak selalu langsung terlihat berat, tetapi tetap berisiko fatal.
Ia menjelaskan, orang yang cedera berat karena jatuh karena prank tarik kursi juga dapat mengalami risiko gagal napas.
"Pada cedera servikal yang berat, juga terdapat kemungkinan gagal napas karena gangguan saraf yang mengendalikan otot-otot pernapasan," ucapnya.
Jangan Asal Dipindahkan
Jika jatuh karena kena candaan tarik kursi, maka seseorang harus segera mendapatkan pertolongan medis. Namun, Citra mengingatkan, korban tidak boleh dipindahkan tanpa stabilisasi yang baik karena cedera bisa menjadi lebih parah.
Untuk menghindari bahaya cedera, Citra mengimbau agar siswa diajarkan bermain dan olahraga dengan aman.
"Orang tua dan guru perlu memberi contoh kepada anak-anak untuk melakukan kegiatan permainan atau olahraga secara aman," ucapnya.
(twu/nah)