Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured KM Virgo Lintas Peristiwa Spesial

    Kapal Penumpang Kembali Tenggelam, DPR Desak Kemenhub Ambil Kebijakan Radikal Keselamatan Transportasi Laut - Aktual

    3 min read

     

    Jakarta, Aktual.com – Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda mendesak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengambil kebijakan radikal untuk memperketat keselamatan transportasi laut menyusul kecelakaan kapal penumpang yang kembali terjadi.

    Desakan tersebut disampaikan setelah Kapal Virgo Transport 8 rute Surabaya-Banjarmasin sempat hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026). Kapal tersebut membawa 243 orang.

    “Kita tidak boleh lagi menganggap musibah di laut sebagai sekadar ‘takdir’ atau faktor cuaca semata. Ini adalah akumulasi dari kelalaian sistemik dan lemahnya pengawasan. Saya mendesak Kemenhub untuk mengambil kebijakan radikal, bukan lagi sekadar teguran administratif atau inspeksi reaktif pasca-kejadian,” ujar Huda di Jakarta, Minggu (13/9/2026).

    Menurut Huda, sejumlah kecelakaan kapal penumpang dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan masih adanya persoalan serius dalam sistem keselamatan transportasi laut.

    Ia menyebut sejumlah insiden yang melibatkan KMP Mutiara Sentosa II, KM Prince Soya, KMP Putri Yasmin, dan KM Nurul Salsa. Rentetan kecelakaan tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga menyebabkan korban jiwa dan meninggalkan duka bagi keluarga korban.

    Huda menilai respons pemerintah terhadap berbagai kecelakaan kapal penumpang selama ini belum cukup memberikan efek jera. Karena itu, diperlukan intervensi mendasar dan langkah tegas untuk mencegah kecelakaan serupa kembali terjadi.

    “Kalau tidak ada langkah yang bersifat mendasar dan tegas kami khawatir kecelakaan laut yang melibatkan kapal penumpang dengan jumlah korban jiwa besar akan terus terjadi di waktu mendatang,” tegas politikus PKB tersebut.

    Ia menilai sanksi terhadap operator pelayaran yang melanggar aturan keselamatan masih terlalu ringan. Huda juga menyoroti potensi pengoperasian kapal yang tidak memenuhi standar kelaiklautan serta lemahnya pengawasan manifes penumpang.

    “Kami akan segera memanggil pihak Kementerian Perhubungan, Otoritas Pelabuhan (Syahbandar), serta operator terkait untuk meminta pertanggungjawaban penuh atas insiden KMP Virgo Transport 8,” ujarnya.

    Huda mengusulkan tiga langkah darurat. Pertama, pemerintah diminta menghentikan sementara operasional kapal yang tidak memenuhi standar keselamatan, khususnya pada rute penyeberangan yang padat penumpang.

    Kedua, pemerintah diminta mencabut izin operasi secara permanen terhadap perusahaan pelayaran yang terbukti melakukan pelanggaran kapasitas muatan atau memalsukan manifes. Ia juga meminta oknum regulator yang terbukti melakukan kongkalikong diproses secara hukum.

    “Ketiga kami mendesak adanya integrasi sistem perizinan berlayar dengan data kependudukan secara real-time guna memastikan akurasi data penumpang di atas kapal,” kata Huda.

    Sementara itu, operasi pencarian dan penyelamatan terhadap penumpang Kapal Virgo Transport 8 terus dilakukan tim SAR gabungan.

    Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana mengatakan hingga pukul 12.00 WITA, sebanyak 103 orang telah berhasil dievakuasi dari kapal tersebut. Dari jumlah itu, satu orang dilaporkan meninggal dunia.

    Sebanyak 16 orang dievakuasi menggunakan TB Mauhaw IX, terdiri atas 15 orang selamat dan satu meninggal dunia. Kemudian TB TCP mengevakuasi 38 orang dalam kondisi selamat, sedangkan MV Haida mengevakuasi 49 orang selamat.

    Dengan demikian, masih terdapat 140 orang yang belum termasuk dalam data evakuasi tersebut dan operasi SAR masih terus dilakukan.

    “Kami telah menerima laporan terkait hilang kontaknya kapal Virgo Transport 8 dan segera mengerahkan personel serta KN SAR Laksmana 241 menuju lokasi perkiraan posisi terakhir,” ujar Putu.

    Sebelumnya, kapal tersebut dilaporkan hilang kontak sekitar pukul 02.00 WITA setelah menghadapi kondisi cuaca buruk dalam perjalanan. Posisi terakhir kapal diperkirakan sekitar 80 mil laut dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin.

    Kantor SAR Banjarmasin menerima laporan hilang kontak pada pukul 04.10 WITA dan selanjutnya mengerahkan personel serta KN SAR Laksmana 241 menuju lokasi perkiraan posisi terakhir.

    Operasi SAR melibatkan sejumlah unsur, antara lain TB Mauhaw IX, TB TCP, MV Haida, KN SAR Laksamana, KRI Nala dan KM Kunyit, serta berkoordinasi dengan KSOP Banjarmasin, Lanal Banjarmasin, Ditpolairud Polda Kalimantan Selatan, Distrik Navigasi Banjarmasin, Pelindo Banjarmasin dan agen kapal Virgo.

    Huda meminta Basarnas dan seluruh unsur terkait mengoptimalkan pencarian serta penyelamatan korban. Ia juga meminta pemerintah memberikan pendampingan psikologis dan hak kompensasi yang layak bagi keluarga korban.

    “Kami mendengar jika saat ini tim Basarnas dan stakeholder terkait telah turun lapangan memaksimalkan pencarian korban. Kami berharap proses pencarian dan penyelamatan ini berlangsung optimal,” pungkasnya.

    Artikel ini ditulis oleh:

    Eka Permadhi

    Komentar
    Additional JS