Kapal Virgo Transport 8 tenggelam di Laut Jawa, bawa 243 penumpang - BBC Indonesia
Kapal Virgo Transport 8 tenggelam di Laut Jawa, enam orang meninggal dan ratusan lainnya masih dalam pencarian - 'Apa pun keadaannya saya harap bisa ditemukan'

Sumber gambar, Donny Muslim
- Penulis, Donny Muslim
- Peranan, Jurnalis di Kalimantan Selatan
- Penulis, Roni Fauzan
- Peranan, Jurnalis di Surabaya
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 10 menit
Kapal Virgo Transport 8 dipastikan tenggelam di perairan Laut Jawa, menurut Basarnas. Sebanyak enam orang dilaporkan meninggal dunia dan ratusan lainnya masih dalam pencarian.
Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin menerima laporan terkait kapal Virgo Transport 8 yang hilang kontak dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin, Minggu (13/09). Kapal tersebut membawa sebanyak 243 orang.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin melalui SAR Mission Coordinator (SMC), I Putu Sudayana, mengatakan hingga pukul 15.00 WITA sebanyak 113 orang telah dievakuasi ke empat kapal yang berada di sekitar lokasi kejadian. Rinciannya: 107 selamat dan 6 meninggal dunia.
Menurutnya, TB Mauhaw IX telah mengevakuasi 16 orang, TB TCP mengevakuasi 6 orang, sedangkan MV Haida mengevakuasi 69 orang. Adapun KM Cahaya Bahari Jaya mengevakuasi 22 orang.
Ditambahkannya, TB Mauhaw IX akan menuju Pelabuhan Tuban, Jawa Timur. Sedangkan TB TCP dan MV Haida akan menuju Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sumber gambar, Donny Muslim
Posko Operasi SAR untuk penanganan kecelakaan Virgo Transport 8 didirikan di kawasan Pelabuhan Trisakti, Minggu (13/09) pagi.
Pantauan di lokasi, keluarga penumpang dan awak kapal mulai berdatangan ke posko. Mereka terlihat menunggu informasi terbaru mengenai kondisi kerabat yang berada di dalam kapal.
Bagaimana kronologi kejadian?
Informasi kejadian diterima Kantor SAR Banjarmasin pada Minggu (13/09) pukul 04.10 WITA dari Yoel Rihi selaku General Manager PT Virgo.
Berdasarkan informasi yang diterima kantor SAR Banjarmasin, kapal Virgo Transport 8 hilang kontak pada Minggu (13/09) sekitar pukul 02.00 WITA setelah dilaporkan menghadapi cuaca buruk dalam perjalanan menuju Banjarmasin.

Sumber gambar, Reuters
Kapal Virgo Transport 8 diketahui berangkat dari Surabaya pada Sabtu (12/09) pukul 10.13. Hingga laporan diterima, kapal belum dapat dihubungi dan keberadaannya belum diketahui.
Menurut kantor SAR Banjarmasin, posisi terakhir kapal itu berada di perairan Laut Jawa, dengan jarak sekitar 80 mil laut dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Kantor SAR Banjarmasin memberangkatkan satu regu penyelamat berjumlah enam personel menuju Dermaga SAR Basirih, pada Minggu (13/09) pukul 04.30 WITA.
Tim selanjutnya akan melanjutkan perjalanan menuju lokasi perkiraan posisi terakhir menggunakan KN SAR Laksmana 241, dengan estimasi waktu tempuh sekitar lima jam.

Sumber gambar, Vessel Finder
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin melalui SAR Mission Coordinator (SMC), I Putu Sudayana, menyampaikan bahwa pencarian akan dilakukan secara optimal dengan melibatkan seluruh unsur terkait.
"Mengingat jumlah penumpang dan awak kapal yang cukup banyak, kami mengoptimalkan koordinasi dengan seluruh unsur terkait untuk mempercepat proses pencarian dan memastikan keselamatan seluruh penumpang serta awak kapal," ujar I Putu Sudayana

Sumber gambar, Vessel Finder
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akhir dari Whatsapp
Sementara Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii mengatakan KM Virgo terkonfirmasi tenggelam.
Menurut Syafii, sebelum kondisi kapal memburuk, awak kapal telah melaporkan kepada perusahaan bahwa mereka menghadapi cuaca buruk.
"Pada saat kapal mengalami kondisi menghadapi cuaca buruk, dari awak kapal sudah menyampaikan kepada perusahaan bahwa kapal mengalami atau menghadapi cuaca yang tidak baik," kata Syafii dalam konferensi pers di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Minggu sore.
Beberapa jam kemudian, kondisi kapal dilaporkan mengalami perubahan center of gravity atau kemiringan.
Pada saat itu, kapal mengirimkan broadcast bahwa mereka membutuhkan bantuan. Awak kapal juga mengaktifkan perangkat darurat EPIRB yang tersedia di kapal untuk meminta pertolongan.
Syafii mengatakan posisi lokasi kejadian menjadi salah satu tantangan dalam proses penanganan. Dari Banjarmasin, lokasi tersebut membutuhkan waktu tempuh sekitar enam jam.
"Namun yang ingin saya sampaikan kepada rekan-rekan bahwa posisi lokasi kejadian kalau ditempuh dari Banjarmasin memakan waktu kira-kira 6 jam," ujarnya.
Setelah menerima informasi tersebut, Kantor SAR Banjarmasin yang memiliki kewenangan di wilayah perairan kejadian melakukan analisis cepat dan melaporkannya kepada Basarnas Command Center.
Basarnas Command Center kemudian mendeklarasikan adanya kondisi kedaruratan kepada seluruh pengguna lalu lintas laut di kawasan Laut Jawa agar dapat memberikan bantuan terhadap kapal yang mengalami keadaan darurat.
Syafii mengatakan operasi pencarian dan pertolongan kemudian digelar dengan melibatkan berbagai unsur.
"Mohon dukungan teman-teman media, mohon doa dari seluruh rakyat Indonesia mudah-mudahan operasi ini bisa kita laksanakan dengan baik dan bisa mengevakuasi seluruh korban," kata Syafii.
Berdasarkan data dua situs pemantauan kapal, Vessel Finder dan Marine Traffic, posisi terakhir KM Virgo Transport 8 berada di perairan Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Data itu menyebut, kapal Virgo Transport 8 berangkat dari Surabaya pada Sabtu (12/09) pukul 10.33 WIB dan dijadwalkan tiba di Banjarmasin pada Minggu (13/09) pukul 14.00 WIB.
Masih berdasarkan data situs pemantauan kapal, KM Virgo Transport 8 sebelumnya bernama Ferry Kurushima. Kapal itu rampung dibuat di galangan kapal Shin Kurushima Onishi pada 1987.
Di Jepang, kapal itu terakhir kali melayani penumpang antara Pelabuhan Kokura dan Pelabuhan Matsuyama, pada 30 Juni 2025.
'Mudah-mudahan lekas ditemukan'
Suasana Pelabuhan Trisakti Banjarmasin semakin sibuk, Minggu (13/9/2026), menyusul proses evakuasi korban kapal Virgo Transport 8 yang hilang kontak di perairan Laut Jawa.
Rusmilawati, warga Banjarmasin, datang mencari kabar delapan kerabatnya yang menumpang kapal tersebut. Mereka dalam perjalanan kembali ke Banjarmasin setelah berziarah ke sejumlah makam ulama di Jawa.
"Awalnya berangkat pakai pesawat, baliknya handak mencoba pakai kapal," ujarnya.
Hingga Minggu siang, Rusmilawati mengatakan belum menerima informasi dari petugas mengenai apakah delapan kerabatnya termasuk dalam penumpang yang telah dievakuasi.
Keluarga terakhir kali mendapat kabar dari salah satu kerabat melalui status WhatsApp. Dalam unggahan tersebut, kerabatnya menulis, "Ngeri banar ombaknya malam ini. Atau dasar kaya itu kah lah bekapal baguyangan bahantam lawan kapal."
Rusmilawati berharap delapan kerabatnya selamat dan segera mendapatkan kabar.
"Mudahan-mudahan selamat saja," ucapnya.

Sumber gambar, Donny Muslim
Di sisi lain, suasana haru terlihat ketika Misnah mendapat kabar suaminya, Ahmad Supandi, selamat. Ahmad merupakan sopir ekspedisi yang berada di dalam Virgo Transport 8 dan kemudian dievakuasi menggunakan MV Haida.
Misnah menangis haru setelah mengetahui suaminya termasuk korban yang berhasil dievakuasi.
Sedangkan anggota keluarga yang lain masih menanti kepastian.
Jenah, misalnya, menyatakan bahwa sang kakak turut menaiki Kapal Virgo Transport 8.
Sang kakak, Jenah menceritakan, tengah merantau ke Madura, Jawa Timur. Malam kemarin, dia memutuskan untuk balik ke Banjarmasin.

Sumber gambar, Donny Muslim
Terakhir kali Jenah berkontak dengan sang kakak adalah sebelum berangkat. Ketika Jenah kembali menghubunginya, pesannya hanya centang satu.
"Mudah-mudahan cepat ditemukan," tegasnya.
'Apa pun keadaannya saya harap ditemukan'
Sementara di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, keluarga kru Kapal Virgo Transport 8 mencari informasi mengenai keberadaan anggota keluarganya.
Salah seorang keluarga kru, Fredy, warga Mojokerto, mengatakan adik kandungnya yang bungsu, Stevie Manuhua, merupakan pemain keyboard atau organ hiburan di atas kapal KM Virgo Transport 8.
Fredy menyebut, komunikasi terakhir dengan Stevie terjadi sekitar dua hari lalu, saat kapal masih bersandar di Surabaya. Setelah itu, ia mengaku tidak lagi mendapatkan kabar.
"Di komunikasi dua hari lalu Pak, sandar di Surabaya, setelah itu tidak ada kabar lagi sampai sekarang," ujar Fredy.
Fredy mengaku hingga kini belum mendapatkan informasi mengenai kondisi kapal maupun keberadaan adiknya. Ia masih menunggu informasi resmi dari pihak terkait.
"Belum, belum ada. Belum ada masuk. Saya masih tunggu dari pihak yang bersangkutan untuk ngasih info ke kita," katanya.
Menurut Fredy, informasi mengenai kejadian tersebut pertama kali diterimanya dari seorang teman yang mengetahui adanya peristiwa di kapal. Setelah itu, ia menghubungi sejumlah rekannya dan diarahkan untuk datang ke Pelabuhan Tanjung Perak guna mencari informasi lebih lanjut.
Fredy berharap adiknya dapat segera ditemukan dalam kondisi apa pun.
"Semoga bisa ditemukan. Apa pun keadaannya saya harap bisa ditemukan," ungkapnya.

Sumber gambar, Roni Fauzan
Ia mengatakan Stevie selama bekerja sebagai pemain musik di kapal kerap datang ke rumah sebelum berangkat bekerja. Jika mendapat pekerjaan di kapal, Fredy biasanya mengantarkan langsung adiknya menuju kapal. Begitu pula saat sedang cuti, Stevie akan kembali ke rumah.
Fredy menuturkan Stevie merupakan kru laki-laki yang sudah bekerja di kapal tersebut. Sebelumnya, Stevie bekerja di kapal DLN Mandalika sebelum kemudian berpindah ke KM Virgo Transport 8.
Hingga kini, Fredy bersama keluarga masih menunggu informasi resmi mengenai kondisi Stevie Manuhua serta penumpang dan kru KM Virgo Transport 8 lainnya.
Diselamatkan nelayan
Selain keluarga kru Stevie Manuhua, keluarga penumpang KM Virgo Transport 8 juga mendatangi Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya untuk mencari informasi mengenai keberadaan anggota keluarganya.
Salah satunya Istiana, warga Sidoarjo, yang datang ke Pelabuhan Tanjung Perak untuk mencari informasi mengenai keponakannya, Dede Farandika (29), warga Banyuwangi yang tercatat sebagai penumpang KM Virgo Transport 8.
Istiana mengaku pertama kali mendapat informasi mengenai kejadian tersebut dari keluarganya yang berada di Banyuwangi. Ia kemudian datang ke Surabaya karena lokasi Pelabuhan Tanjung Perak lebih dekat dengan tempat tinggalnya.

Sumber gambar, Roni Fauzan
Namun, saat berada di lokasi, Istiana mendapat kabar terbaru bahwa Dede Farandika telah ditemukan dan disebut diselamatkan oleh nelayan.
"Katanya saya sudah diselamatkan sama nelayan," ujar Istiana.
Istiana mengatakan dirinya juga telah berkomunikasi dengan keluarga di Banyuwangi. Setelah mendapat informasi tersebut, ia diminta untuk kembali pulang.
"Jadi saya sekarang sudah disuruh pulang sama yang Banyuwangi," katanya.
Menurut Istiana, nama Dede Farandika juga tercantum dalam daftar penumpang yang berkaitan dengan KM Virgo Transport 8. Ia menyebut Dede sebagai ABK di bagian dek kapal tersebut selama sekitar dua hingga tiga tahun terakhir.
Pemerintah akan lakukan investigasi
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan kecelakaan KMP Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa akan diinvestigasi secara menyeluruh oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Dudy mengatakan investigasi dilakukan untuk mengetahui penyebab kecelakaan sekaligus menjadi dasar perbaikan sistem keselamatan transportasi.
"Terkait penyebab terjadinya musibah ini, pemerintah akan melakukan investigasi secara menyeluruh. Proses tersebut akan dilaksanakan oleh KNKT sesuai dengan kewenangannya," kata Dudy saat konferensi pers di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Minggu (13/9) sore.
Dudy meminta seluruh pihak memberikan kesempatan kepada KNKT untuk menjalankan investigasi secara profesional dan independen.
Menurutnya, hasil investigasi nantinya diharapkan menjadi dasar untuk memperbaiki aspek keselamatan transportasi.

Sumber gambar, Donny Muslim
Insiden transportasi laut di Indonesia sepanjang 2026 bukan kali ini saja terjadi.
Juli lalu, KM Nurul Salsa tenggelam di perairan sebelah barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Korban selamat yakni 58 orang, sementara tiga lainnya ditemukan meninggal dunia. Sisanya, 14 orang, belum diketahui keberadaannya.
Data Mahkamah Pelayaran Kementerian Perhubungan menunjukkan sepanjang periode 2020 sampai 2026 tercatat telah muncul 111 kejadian kecelakaan kapal.
Dari total itu, peristiwa tubrukan merupakan jenis kecelakaan yang mendominasi dengan 40 kasus (36%), disusul tenggelam sebanyak 28 kasus (24%), kandas 24 kasus (22%), serta kebakaran 20 kasus (18%).
Kenapa kasus tenggelamnya kapal kerap terjadi?
Pakar transportasi laut dan Dekan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Surabaya, Setyo Nugroho, menyebut faktor manusia bertanggung jawab paling besar atas mayoritas kecelakan kapal di Indonesia.
"Hampir 90% kecelakaan kapal terjadi karena kelalaian manusia," kata Setyo sebagaimana dikutip dari situs universitas tersebut.
Analisis Setyo berangkat dari peristiwa tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jawa di perairan Selat Bali pada 2025 kemarin.
Alumnus Magister Delft University of Technology, Belanda ini juga mengatakan kelalaian berwujud dari mulai kurangnya pemeliharaan pada mesin sampai dengan tidak dilakukannya perhitungan stabilitas muatan.
"Dari faktor kelalaian manusia tersebut, sebanyak 80%-nya terjadi karena muatan yang tidak ditangani dengan benar," ujar Setyo.
Meski begitu peran cuaca ekstrem juga tidak dapat diabaikan. "Cuaca yang tidak stabil menyebabkan tingginya gelombang air laut yang membahayakan kapal."
Oleh karena itu katanya adalah penting untuk mengevaluasi standar operasional pelayaran, termasuk prosedur pemuatan, perawatan kapal, hingga pengelolaan navigasi.
Tidak hanya itu, sistem manajemen muatan pun perlu diperbaiki agar setiap kapal memuat sesuai kapasitas dan stabilitasnya diperhitungkan secara akurat.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Menyambung tentang cuaca, dosen dan praktisi infrastruktur serta transportasi Universitas Hasanuddin, Lucky Caroles, bilang bahwa tak jarang kapal tetap melaju meski sudah terdapat peringatan tentang adanya ketinggian gelombang.
Lucky berkaca dari peristiwa tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan Sulawesi pada tahun ini.
Lucky menyoroti bagaimana akar masalah kecelakaan kapal ialah belum ada kesadaran untuk membuat suatu manajemen yang dapat meminimalkan kecelakaan. Misalnya, melakukan kontrol dan memperketat penyeberangan.
"Biasanya kalau sudah terjadi kecelakaan baru kita ribut," tegasnya.
Lucky bilang faktor keselamatan penumpang kapal juga dapat diukur dengan jumlah jaket pelampung yang tersedia di atas kapal, serta teknologi yang dapat mendeteksi kecepatan arah angin, ketinggian gelombang, adanya kebocoran, hingga melaporkan posisi kapal.
Untuk dapat mencegah kasus kecelakaan macam yang dialami kapal KM Nurul Salsa tersebut terulang, kata Lucky, hal yang dapat dilakukan adalah dengan mematuhi semua regulasi terkait keselamatan dan mitigasi kecelakaan.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Komite Nasional dan Keselamatan Transportasi (KNKT) menyoroti bahwa persoalan kecelakaan kapal merupakan masalah sistemik, sehingga langkah preventifnya tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah.
Dalam kasus tenggelamnya Kapal Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, KNKT meminta sejumlah pihak untuk menempuh evaluasi.
Untuk KSOP Kelas II Tanjung Wangi, misalnya, KNKT meminta mereka membuat petunjuk teknis penundaan pelayanan Kapal Angkutan Penyeberangan (KAP) dengan memperhatikan cuaca buruk di perairan Pelabuhan Ketapang, Pelabuhan Gilimanuk, dan Selat Bali.
Kemudian untuk Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, KNKT mendesak adanya kajian mengenai kondisi gelombang di perairan yang terdapat lintasan penyeberangan Kapal Angkutan Penyeberangan, terutama di Selat Bali.
Lalu untuk penyedia jasa kapal sendiri, PT Raputra Jaya, KNKT meminta supaya mereka memperbaiki akurasi sistem manifes kapal, di samping rekomendasi yang sifatnya teknis seperti mematuhi ketentuan garis muat kapal terkait pemuatan kendaraan.
Berita akan diperbarui secara berkala.



