Kasus Influenza A Naik, Kenali Langkah Penanganan nya - Kompas
KOMPAS.com - Lonjakan kasus flu pada awal Oktober 2025 perlu menjadi alarm bagi masyarakat untuk lebih sigap dalam menjaga kesehatan.
Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan pada bulan tersebut, tren infeksi penyakit flu mencatatkan peningkatan tajam hingga menyentuh angka 38 persen.
Dari sekian banyak laporan medis yang masuk, paparan virus influenza A mendominasi sebagai pemicu paling utama di balik merebaknya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Baca juga: Ramai Disebut Superflu, Begini Cara Mencegah Influenza A Tipe H3N2
Belakangan ini, kasus influenza A kembali meningkat di kalangan masyarakat, berdasarkan penelusuran di media sosial Threads, Minggu (13/9/2026).
Cara BMKG Atasi Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Menilik hal tersebut, berikut cara penanganan influenza A agar tidak semakin parah dan menyebabkan komplikasi.
Panduan penanganan influenza A
Perlu diketahui, influenza A tidak bisa disamakan dengan batuk pilek biasa yang bisa diabaikan.
Baca juga: Bagaimana Bakteri Salmonella hingga E. coli Sebabkan Keracunan Makanan? Ini Kata Guru Besar UGM
Sebab, infeksi ini membawa ancaman komplikasi berat apabila penderitanya terlambat mendapatkan intervensi pengobatan.
Menurut praktisi kesehatan dari RS Pondok Indah, dr. Hastomo Prabowo MARS, terdapat tiga kelompok besar influenza yang kerap menyerang kekebalan tubuh manusia, yakni tipe A, B, dan C.
"Dari ketiga tipe tersebut, virus influenza A cenderung menyebabkan penyakit flu yang gejalanya lebih berat dan kerap menjadi penyebab wabah flu musiman, bahkan pandemi global," kata dr. Hastomo kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.
Baca juga: Kenali Beda Influenza A dan B pada Anak Serta Gejalanya
Kenali gejala awal secara mandiri
Langkah penanganan pertama dan paling penting bermula dari kemampuan penderita untuk mendeteksi tanda infeksi sedini mungkin.
Berbeda dengan varian B, tata laksana influenza A membutuhkan proteksi ekstra karena patogen ini bisa menular dari inang hewan.
Kemampuan mutasinya yang luar biasa cepat membuat virus ini dapat menembus benteng pertahanan imun melalui percikan udara (droplet) saat bersin, maupun lewat kontak fisik dengan benda yang telah terkontaminasi.
Baca juga: Anak Keracunan Makanan, Pahami Dampak Jangka Pendek dan Panjang
Fase kritis sering kali terlewat karena banyak orang terlambat menyadari gejala awal penyakit ini, yang mana serangan kerap kali datang secara mendadak tanpa keluhan bertahap.
"Mengingat cara penularannya yang mudah, terkadang seseorang bahkan tidak sadar hingga akhirnya gejala muncul mendadak pada 1-4 hari setelah terpapar virus. Gejala influenza A umumnya lebih berat dibandingkan dengan flu biasa," kata dr. Hastomo.
Penderita umumnya akan mengalami batuk kering atau berdahak, diiringi lonjakan demam yang sangat tinggi dan sensasi menggigil.
Baca juga: Kombinasi BBL dan MOXI, Solusi Kulit Jerawat hingga Melasma
Fase ini sering kali berlanjut pada sakit kepala berdenyut, nyeri otot yang menyulitkan pergerakan, hingga sensasi mual yang bermuara pada muntah.
Apabila gejala-gejala ini tidak segera diberikan penanganan yang tepat, dampaknya dapat merusak jaringan organ vital dan berujung pada komplikasi pneumonia.
Pentingnya tes PCR untuk diagnosis akurat
Ketika tubuh mulai mengalami gejala berat, pertolongan pertama yang paling direkomendasikan bukanlah sembarangan membeli obat di warung, melainkan segera menemui tenaga medis profesional.
Baca juga: Inovasi Terapi Sel T CAR Jadi Alternatif untuk Pengobatan Limfoma
Guna memastikan pengobatannya tidak meleset, dokter akan mengarahkan pasien untuk menjalani uji Polymerase Chain Reaction (PCR).
Metode tes di laboratorium ini dianjurkan karena dapat mengidentifikasi secara akurat hingga 19 jenis varian virus serta empat jenis bakteri.
Mendapatkan diagnosis yang tegak sejak hari pertama keluhan sangatlah penting untuk menghindari kesalahan prosedur pengobatan.
Baca juga: Super Flu Influenza A H3N2 Masuk Indonesia, Ini Asal-usul dan Jalur Penyebarannya
Terapi medis dan manajemen nutrisi harian
Begitu jenis infeksi dipastikan, dokter akan memberikan obat yang sesuai dengan kondisi tersebut, mencakup obat pereda nyeri, penurun panas, dan obat antivirus untuk mencegah komplikasi.
"Kasus influenza A yang masih tergolong ringan biasanya dapat sembuh dalam 5-7 hari," kata dr. Hastomo.
Di luar konsumsi obat, modifikasi rutinitas harian wajib dilakukan guna menjamin percepatan kesembuhan. Penderita wajib beristirahat total.
Baca juga: Makan Makanan yang Sama, Kenapa Dampak Keracunan Anak Bisa Beda?
Selain itu, asupan porsi makan harus dievaluasi dengan memprioritaskan sajian padat kalori dan kaya protein agar regenerasi sel yang rusak dapat berjalan maksimal.
Rangkaian penanganan ini pun harus dilengkapi dengan pemenuhan hidrasi tubuh secara terus-menerus demi menangkal risiko dehidrasi yang berpotensi memperburuk kondisi fisik.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.