Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Kekeringan Lintas Peristiwa Spesial

    Kemarau Panjang, Warga Mriyan Boyolali Jual Ternak dan Berutang demi Air Bersih - Tribunnews

    6 min read

     

    Freepik A-A+ ILUSTRASI KEMARAU - Warga Desa Mriyan, Boyolali, alami krisis air bersih selama 3–4 bulan akibat kemarau panjang. Sumur mengering, warga terpaksa membeli air tangki Rp175–300 ribu, bahkan menjual ternak atau berutang. Bantuan air datang dua kali, namun warga berharap solusi berkelanjutan seperti pembangunan sumur bor. 
    Ringkasan Berita:
    • Warga Desa Mriyan, Boyolali, alami krisis air bersih selama 3–4 bulan akibat kemarau panjang. 
    • Sumur mengering, warga terpaksa membeli air tangki Rp175–300 ribu, bahkan menjual ternak atau berutang.
    • Bantuan air datang dua kali, namun warga berharap solusi berkelanjutan seperti pembangunan sumur bor

    TRIBUNNEWS.COM - Krisis air bersih melanda warga Desa Mriyan, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, selama sekitar tiga hingga empat bulan terakhir.

    Sumber air warga mengering akibat kemarau panjang, sehingga kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi dengan membeli air tangki atau mengandalkan bantuan.

    Kondisi tersebut menjadi beban bagi warga dengan keterbatasan ekonomi.

    Sejumlah warga mengaku harus menjual barang dan hewan ternak, bahkan berutang, untuk mendapatkan air bersih.

    Baca juga: Cegah Karhutla, Pemprov Jabar Larang Pendakian Gunung dan Hutan Selama Musim Kemarau

    Salah satunya Marsi, warga Desa Mriyan. Ia mengaku membeli satu tangki air bersih dari penyedia swasta dengan harga sekitar Rp175.000.

    Air tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama anaknya. Suami Marsi telah meninggal dunia.

    "Biasanya beli air tangki Rp175.000 untuk satu tangki. Kadang sebulan sekali. Cukup, karena anggota keluarga tidak banyak, hanya saya dan anak saya, suami sudah meninggal," tutur Marsi saat ditemui usai mengambil air dari tangki, Minggu (6/9/2026).

    Menurut Marsi, ketersediaan air di desanya sangat bergantung pada musim hujan. Saat kemarau, saluran air dari sumber setempat mengering sehingga warga harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan air.

    Untuk membeli air, Marsi bahkan terpaksa menjual satu-satunya hewan ternak yang dimilikinya.

    "Untuk membeli air, saya menjual apa saja yang ada di rumah. Ternak itu milik saya satu-satunya, dijual lalu nanti beli sapi lagi kalau ada rezeki," kata Marsi.

    Warga Andalkan Bantuan Air

    Di tengah keterbatasan tersebut, bantuan distribusi air bersih menjadi salah satu sumber pasokan bagi warga. Marsi mengatakan bantuan telah datang ke wilayahnya sebanyak dua kali.

    Air bantuan digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, termasuk mencuci, memasak, dan memberi minum ternak.

    Warga lainnya, Sumarmi, mengatakan krisis air bersih telah berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan. Sumur-sumur warga mengering dan upaya menggali lebih dalam belum menemukan sumber air.

    "Ya sudah sekitar 3-4 bulan lah, Mas. Tidak turun. Air sudah tidak ada memang, kering. Di sini sumur tidak ada airnya. Sampai dikeduk ke bawah juga tidak ada airnya," kata Sumarmi.

    Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga membeli air tangki yang didatangkan dari wilayah yang lebih rendah. Harga air berbeda bergantung pada lokasi pengiriman.

    Warga di wilayah yang lebih mudah dijangkau membayar sekitar Rp200.000 per tangki. Sementara warga yang tinggal di wilayah lebih tinggi harus mengeluarkan biaya hingga Rp300.000.

    "Satu tangki ya Rp200 ribu sampai kalau yang di atas sana sampai Rp300 ribu. Ya kalau yang boros paling ya 10 hari, setengah bulan habis airnya. Kalau yang tidak boros ya mungkin sampai 20 hari, 25 hari," jelas Sumarmi.

    Baca juga: Kemarau Tekan Industri Kokas, Pasokan Air Morowali dan Angkutan Batubara Mulai Terganggu

    Warga Harapkan Sumur Bor

    Keterbatasan ekonomi membuat sebagian warga memilih menjual ternak untuk membeli air. Warga yang tidak memiliki barang atau ternak untuk dijual terpaksa berutang.

    Bantuan air bersih dari pemerintah maupun komunitas masyarakat pun disambut warga untuk memenuhi kebutuhan selama musim kemarau.

    Namun, warga berharap penanganan kekeringan tidak hanya mengandalkan distribusi air tangki. Mereka menginginkan adanya sumber air yang dapat digunakan secara berkelanjutan ketika musim kemarau kembali terjadi.

    Salah satu solusi yang diharapkan warga adalah pembangunan sumur bor.

    "Ya dibuatkan sumur yang bisa keluar airnya," harap Sumarmi.

    Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul 4 Bulan Kekeringan, Warga Mriyan Boyolali Jual Ternak hingga Berutang untuk Beli Air

    Komentar
    Additional JS