Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Karhutla Kebakaran Hutan Kemenhut Lintas Peristiwa Spesial

    Kemenhut dan Tim Gabungan Tetap Perkuat Pengendalian Karhutla di 6 Provinsi - SindoNews

    11 min read

     

    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.

    Sabtu, 05 September 2026 - 17:36 WIB

    Kemenhut dan Tim Gabungan...

    Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas. Foto/Dok. Kemenhut

    A A A

    JAKARTA - Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan ( karhutla ) di enam provinsi prioritas. Perkembangan positif terpantau di Kalimantan Barat setelah sebagian wilayah pada 4 September 2026 diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Namun, kewaspadaan tetap dijaga karena hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terdeteksi di sejumlah wilayah.

    Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, Jumat (4/9/2026) pukul 21.15 WIB secara nasional terdeteksi 818 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence). ”Pada enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, sebaran hotspot high confidence tercatat Kalimantan Tengah 252 titik; Sumatera Selatan 165 titik; Kalimantan Barat 124 titik;

    Jambi 14 titik; Riau 13 titik; dan Kalimantan Selatan 4 titik,” demikian siaran pers Kementerian Kehutanan, Sabtu (5/9/2026). Baca juga: Karhutla di Kalbar Masih Terjadi, 370 Hektare Lahan Masih Terbakar

    Data tersebut menunjukkan perhatian operasi saat ini terutama diarahkan pada Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat yang mencatat hotspot high confidence tertinggi di antara enam provinsi prioritas. Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran.

    Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap perlu diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan. Tim gabungan terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan, serta pemantauan untuk mencegah penyalaan kembali.

    Selain operasi darat, pemerintah mengerahkan 53 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas. Dari jumlah tersebut, 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sementara 34 armada lainnya dikerahkan untuk operasi water bombing.

    Pengerahan armada udara dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan untuk mempercepat pengendalian api, terutama pada wilayah yang sulit dijangkau melalui operasi darat. OMC juga terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis.

    Perkembangan positif terpantau di Kalimantan Barat, di mana pada Kamis, 4 September 2026, hujan turun di sebagian wilayah dengan intensitas sedang hingga lebat. Turunnya hujan membantu pembasahan lahan dan mendukung upaya pengendalian karhutla, meskipun kondisi tersebut belum berarti seluruh wilayah telah terbebas dari risiko kebakaran.

    Kewaspadaan karena itu tetap dipertahankan, terutama pada lokasi yang masih kering maupun menyimpan bara di bawah permukaan. Pada lahan gambut, pemadaman dan pendinginan tetap dilakukan secara berulang untuk memastikan api bawah tidak kembali menyala.

    Pemantauan kualitas udara berbasis PM2,5 menunjukkan mayoritas wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Kalimantan masih menunjukkan kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan terdapat area yang memerlukan perhatian lebih karena kualitas udara yang lebih buruk.

    Kondisi jarak pandang juga terus dipantau bersama BMKG. Berdasarkan informasi BMKG untuk 5 September 2026, jarak pandang di wilayah Pontianak diprakirakan sekitar 10 kilometer pada dini hingga pagi hari. Kondisi serupa diprakirakan di Banjarmasin dengan jarak pandang sekitar 10 kilometer pada pagi hari.

    Di Pekanbaru, kondisi berbeda masih perlu diperhatikan. BMKG memprakirakan udara kabur pada pagi hari, dengan jarak pandang kurang dari 5 kilometer sekitar pukul 05.00 WIB dan kurang dari 6 kilometer sekitar pukul 08.00 WIB. Kondisi diprakirakan membaik pada siang hingga sore hari. Baca juga: Kemenhut Selamatkan dan Translokasikan Orangutan di Kalbar

    Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kondisi asap dan jarak pandang dapat berubah dalam waktu relatif cepat mengikuti aktivitas kebakaran, curah hujan, arah dan kecepatan angin, kelembapan, serta dinamika atmosfer. Karena itu, hotspot, kondisi api di lapangan, kualitas udara, cuaca, sebaran asap, dan jarak pandang terus dipantau secara terpadu sebagai dasar penentuan prioritas operasi.

    Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat di wilayah terdampak asap juga diminta terus mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan kondisi cuaca serta menyesuaikan aktivitas apabila kondisi lingkungan memburuk.

    (poe)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Berita Terkait

    Rekomendasi

    Infografis

    6 Pulau yang Jadi Target...

    6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran

    Terpopuler

    1

    2

    3

    4

    5

    Berita Terkini

    Profil Irjen Pol Ruslan...

    Misteri Suara Dentuman...

    AHY: Kekuasaan Bukan...

    Imigrasi Tangkap 55...

    LBH Gema Keadilan Siapkan...

    AHY: Demokrat Bagian...

    Komentar
    Additional JS