Keracunan MBG di Berastagi, Ditemukan Bakteri Bacillus Cereus, Staphylococcus Aureus dan E.Coli Dalam Makanan - Tubasmedia
JAKARTA, (tubasmedia.com) – Kasus keracunan ratusan siswa di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara pada 13 Agustus 2026, hingga kini masih ramai jadi perbincangan.
Salah satunya yang jadi perhatian karena masih ada salah satu siswi yang hingga kini kondisi kesehatannya belum pulih, bahkan dikategorikan memburuk karena daya ingatnya hilang hingga 70 persen. Siswi berprestasi itu bernama Febiola Purba.
Selain kondisinya yang jadi perhatian netizen, kini hasil uji laboratorium yang sudah dikeluarkan pihak terkait juga jadi perbincangan. Pegiat media sosial, Herwin Sudikta turut angkat suara terkait hal tersebut.
“Hasil lab kasus keracunan MBG di SMA Berastagi menemukan Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan E. coli pada sampel makanan,” kata Herwin Sudikta dikutip Rabu (9/9/2026).
“Salmonella memang negatif. Tapi itu bukan berarti makanannya otomatis aman.”
Karena itu, menurutnya, kasus keracunan MBG yang selama ini terjadi di sejumlah daerah hingga mengakibatkan kalangan orang tua selalu was-was, menimbulkan sejumlah pertanyaan terkait program yang jadi prioritas rezim Prabowo Subianto ini.
“Karena pertanyaannya bukan cuma, “Ada Salmonella atau tidak?”
Pertanyaannya jauh lebih sederhana:
Bagaimana makanan yang dibagikan melalui program pemerintah bisa sampai terkontaminasi bakteri seperti ini?” katanya.
Sekiranya jawaban atas pertanyaan tersebut ada pada proses pengolahan hingga distribusi MBG, Herwin memastikan bahwa memang terdapat sistem yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Apa Fungsi BGN
“Kalau jawabannya karena penyimpanan, pengolahan, kebersihan penjamah makanan, distribusi, atau pengawasan yang gagal, berarti ada bagian dari sistem MBG yang memang tidak bekerja sebagaimana mestinya,” tandasnya.
Pada posisi itulah menurutnya, Badan Gizi Nasional (BGN) yang menjadi penanggung jawab utama program yang menghabiskan anggaran negara ratusan triliun itu harus diuji.
“Dan di sinilah fungsi BGN seharusnya diuji,” tandasnya.
Dia menambahkan, BGN yang mengelola triliunan rupiah anggaran untuk program MBG tersebut, semestinya tidak sekadar memastikan menu MBG sampai di tangan siswa dan penerima manfaat lainnya, tapi yang jauh lebih penting adalah makanan tersebut layak dan betul-betul bergizi sebagaimana cita-cita program tersebut.
“BGN bukan cuma bertugas memastikan makanan sampai ke sekolah. Tugasnya juga memastikan makanan itu layak dan aman dimakan anak-anak,” imbuhnya.
Sayangnya, yang banyak terjadi di balik peristiwa-peristiwa tersebut, pemerintah dinilai justru terus mencari pembenaran bahwa program tersebut tidak bermasalah.
“Kalau makanan sudah dibagikan, anak-anak keracunan, kemudian ditemukan bakteri dalam sampel, tetapi yang sibuk justru mencari pembenaran bahwa programnya tidak bermasalah…, lalu apa sebenarnya yang diawasi BGN?” kata Herwin Sudikta.(sabar)


