Kerugian Ekonomi Akibat Karhutla Kalimantan dan Sumatera, Celios: Tembus Rp123 Triliun - Inilah
Rabu, 9 September 2026 - 15:09 WIB
Share

Regu Pemadam Kebakaran HSE Operations PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) saat melaksanakan upaya pemadaman kebakaran berkolaborasi dengan stakeholders di Rokan Hilir, Riau. (Foto: Antara/HO-PHR)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
KecilBesar
Akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera dan sejumlah daerah lainnya, tentu saja memicu kerugian ekonomi yang cukup besar. Kira-kira berapa?
Peneliti Celios (Center for Economic and Law Studies), Galau D. Muhammad menyebut angka kerugian akibat karhutla Sumatera dan Kalimantan saja, sekitar Rp123 triliun.
"Celios mengevaluasi, memproyeksikan sekitar Rp123 triliun kerugian akibat karhutla Sumatera dan Kalimantan. Itu memicu kita bicara soal kerugian material yang ditanggung publik atau masyarakat," ujar Galau dihubungi Inilah.com, Jakarta, dikutip Rabu (9/9/2026).
Dia mengatakan, jika anggaran sejumlah lembaga yang memiliki fungsi kebencanaan dijumlahkan, paling besar nilainya hanya Rp6,3 triliun. Yakni, anggaran untuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Rinciannya, anggaran BMKG sebesar Rp2,5 triliun, Basarnas Rp1,56 triliun, KLH Rp1,2 triliun, sementara BNPB sekitar Rp1 triliun.
Celios menilai, lanjut Galau, anggaran sebesar Rp6,3 triliun itu, tidak sepenuhnya layak disebut sebagai anggaran khusus. "Dan itu bukan anggaran standby untuk mitigasi bencana. Itu masih sebagian besar dukungan manajemen. Jadi sebagian besar itu habis untuk operasional internal kelembagaan," katanya.
Kualitas Udara Memburuk
Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga akhir Agustus 2026, karhutla berdampak ke 7 provinsi. Yakni, Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Timur (Kaltim), Jambi, Riau, serta Sumatera Selatan (Sumsel).
Jika ditotal, jumlah penduduk yang terkena imbas karhutla di Kalimantan dan Sumatera, mencapai lebih dari 10 juta orang. Asap karhutla menyebabkan kualitas udara memburuk, berdampak kepada berbagai gangguan kesehatan. Mulai dari batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, penyakit paru-paru, iritasi kulit, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Dari semuanya, ISPA paling masif ditemukan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan kasus ISPA menyentuh hampir 14 ribu laporan, berasal dari 63 kabupaten atau kota di provinsi-provinsi terjadinya karhutla.
Kualitas udara tak luput dari masalah. Karhutla membuat udara yang dihirup hidung masuk kategori sangat tidak sehat sampai berbahaya. Di Pontianak, Kalimantan Barat, misalnya, nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sempat menyentuh 328 atau tergolong berbahaya.
Begitu pula di Tebo (Jambi), Barito Selatan (Kalteng), hingga Pali (Sumsel) yang masing-masing ISPU-nya berada di atas 250.
0 suka
0 bookmark
![]()
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Share




