Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Blora Desil Featured Kasus Kesehatan KIS Spesial

    Penjual Mi Ayam di Blora Sakit Tak Bisa Berobat Gratis, Masuk Desil 8 Bikin KIS Nonaktif - Kompas

    8 min read

     


    Kompas.com, 11 September 2026, 06:03 WIB
    Lihat Foto
    hh

    BLORA, KOMPAS.com - Surono (53), pedagang mi ayam keliling asal Kelurahan Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, harus berhenti bekerja setelah kondisi kesehatannya memburuk.

    Sudah lebih dari sebulan gerobak mi ayam milik Surono tidak lagi digunakan. Gerobak itu kini hanya terparkir di samping rumah dan mulai dipenuhi debu.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Sejak sakit, Surono lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Kakinya dibalut kaos kaki dan ia tidak lagi mampu mendorong gerobak untuk berjualan seperti sebelumnya.

    Kondisi tersebut membuat pemasukan keluarga berhenti. Puji Lestari (53), istri Surono, yang biasanya mendampingi suaminya berjualan, juga tidak lagi memiliki aktivitas berjualan.

    Viral Tempe MBG di Depan Toilet Usai 216 Siswa Blora Diduga Keracunan

    Keduanya kini bertahan menggunakan sisa tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    KIS Surono Tidak Aktif Saat Datangi Puskesmas

    Persoalan semakin berat ketika Surono membutuhkan pengobatan. Kartu Indonesia Sehat (KIS) miliknya diketahui sudah tidak aktif saat Puji membawanya berobat ke Puskesmas Ngawen.

    Awalnya, petugas pendaftaran menanyakan kepesertaan KIS Surono. Puji menyampaikan bahwa suaminya memiliki KIS.

    Namun, pengecekan menggunakan KTP menunjukkan kepesertaan KIS Surono sudah tidak aktif.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    "Pas bapaknya sakit terus saya bawa ke Puskesmas. Di tempat pendaftaran ditanyain petugas, punya KIS enggak?" kata Puji dilansir dari TribunJateng, Rabu (9/9/2026).

    "Saya jawab, punya. Terus dicek lewat KTP, katanya sudah enggak aktif," tambahnya.

    Puji kemudian berupaya mengurus kembali kepesertaan KIS tersebut. Ia terlebih dahulu mendatangi kantor kelurahan setelah mendapat arahan dari pihak Puskesmas.

    Dari kelurahan, Puji diarahkan menuju Mall Pelayanan Publik (MPP) Blora. Saat dilakukan pengecekan, keluarganya tercatat berada dalam desil 8.

    Status tersebut membuat KIS Surono belum bisa langsung diaktifkan. Puji mendapat penjelasan bahwa desil keluarganya harus diturunkan terlebih dahulu.

    "Kata petugasnya karena desil 8, jadi enggak bisa diaktifkan. Harus diturunkan dulu desilnya," jelas Puji.

    Puji mempertanyakan hasil pendataan itu karena menurutnya kondisi ekonomi keluarganya tidak menunjukkan mereka berada pada desil 8. 

    Penghasilan keluarga selama ini hanya berasal dari usaha mi ayam keliling.

    "Masa cuma jualan mi ayam keliling kok masuk desil 8," imbuh Puji.

    Upaya mengurus KIS sudah dilakukan Puji sebanyak dua kali dengan mendatangi MPP Blora. Namun, sampai saat ini usaha tersebut belum membuahkan hasil.

    Surono Mulai Sakit sejak 2023

    Surono diketahui telah mengalami beberapa penyakit sejak 2023, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, asam urat, dan kolesterol.

    Meski memiliki sejumlah penyakit, Surono masih sanggup bekerja dengan mendorong gerobak mi ayam dan berjualan keliling.

    Kemampuan bekerja mulai hilang setelah kondisi kesehatannya memburuk pada Agustus 2026.

    Sejak saat itu, Surono tidak lagi berjualan karena kondisi fisiknya melemah.

    Ia harus menjalani pengobatan secara rutin. Dokter juga meminta Surono melakukan kontrol setidaknya satu kali dalam sebulan.

    Ketiadaan KIS membuat biaya kontrol harus ditanggung sendiri oleh keluarga. 

    Setiap kali membawa suaminya berobat, Puji perlu menyiapkan sekitar Rp 100.000.

    "Namanya orang sakit pengin sembuh. Meskipun bayar ya tetap berobat," beber Puji.

    Keluarga Surono Andalkan Tabungan

    Untuk sementara, Puji membawa Surono menjalani pengobatan jalan di Puskesmas. Surono juga belum menjalani rujukan ke rumah sakit.

    Di sisi lain, pekerjaan yang selama ini menopang kebutuhan keluarga ikut terhenti karena Surono tidak lagi sanggup mendorong gerobak.

    Sebelum Surono sakit, pendapatan dari berjualan mi ayam memang tidak selalu besar. 

    Namun, Puji menyebut penghasilan tersebut setidaknya masih dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

    Kini, tidak ada lagi pemasukan dari usaha mi ayam. Puji sendiri merupakan ibu rumah tangga dan selama ini hanya membantu suaminya berjualan.

    "Kalau bapaknya sakit seperti ini ya sudah berhenti semua, enggak jalan. Enggak kuat untuk mendorong gerobak, saya juga enggak kuat dorong gerobak, jadi ya nganggur," ujar Puji.

    Kebutuhan makan sehari-hari saat ini dipenuhi dari tabungan yang masih tersisa.

    Puji berharap status desil keluarganya dapat segera diperbaiki sehingga KIS Surono bisa kembali digunakan untuk berobat.

    "Penginnya ya desilnya diturunkan, secepat mungkin. Demi kesembuhan bapak juga, agar KIS-nya bisa kembali aktif," pungkasnya.

    Lihat Foto

    Kecamatan Ngawen Usulkan KIS Surono Aktif Lagi

    Kompas.com sudah berusaha menghubungi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Blora, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Blora, dan Kecamatan Ngawen terkait KIS milik Surono yang nonaktif.

    Namun, baru pihak Kecamatan Ngawen yang memberikan penjelasan. Lewat keterangan tertulis, pihak kecamatan telah melakukan kunjungan bersama BPS Provinsi Jawa Tengah, Dinas Sosial Kabupaten Blora, BPJS Kabupaten Blora, TSKS Ngawen, serta pendamping PKH.

    "Terkait dengan aduan warga masyarakat Kelurahan Ngawen atas nama Surono RT 004/RW 006 terkait dengan tingkat desil yang tinggi dan BPJS PBI non-aktifkan," tulis Kecamatan Ngawen, Kamis (10/9/2026).

    Untuk kepesertaan BPJS Kesehatan, pengaktifan kembali saat ini sedang diusulkan. 

    Pihak kecamatan menyebut kepesertaan tersebut diharapkan mulai aktif kembali pada bulan depan.

    Sementara itu, pengajuan penurunan desil juga sedang diproses melalui kelurahan. Lama proses perubahan status tersebut bergantung pada proses di BPS.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS