Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home BBM Berita Featured Pertalite Spesial Sulawesi Selatan

    Pertalite Kuasai Penyaluran BBM di Sulsel, Bahlil: Antrean Mengular karena Peralihan Non ke Subsidi - Tribunnews

    6 min read



    TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pertalite menjadi jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan volume penyaluran terbesar dalam data distribusi Pertamina Patra Niaga di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.

    Berdasarkan empat lembar jadwal penyaluran BBM Sabtu, 12 September 2026 yang diterima Tribun-Timur.com, Pertamina mencatat 80 kali penyaluran dengan total volume 616 kiloliter (KL).

    Dari jumlah tersebut, Pertalite mencapai 328 KL dalam 41 kali penyaluran.

    Angka itu setara sekitar 53,2 persen dari total volume penyaluran yang tercantum dalam dokumen.

    Posisi kedua ditempati Biosolar B50 dengan 264 KL dari 33 kali penyaluran.

    Biosolar B50 menyumbang sekitar 42,9 persen dari total volume.

    Baca juga: Pemilik SPBU Bicari Sebut Aturan Ganjil-Genap Bisa Hambat Kendaraan Jarak Jauh

    Sementara BBM nonsubsidi lainnya tercatat jauh lebih kecil.

    Pertamax sebanyak 20 KL, Pertamax Turbo 2 KL, dan Pertamina Dex 2 KL.

    Dengan demikian, Pertalite dan Biosolar B50 secara bersama-sama mencapai 592 KL atau sekitar 96,1 persen dari total 616 KL penyaluran dalam empat dokumen tersebut.

    Pertalite 16 kali lipat Pertamax Turbo

    Perbandingan antarproduk memperlihatkan dominasi BBM yang digunakan masyarakat dalam aktivitas harian.

    Volume Pertalite mencapai 328 KL, sedangkan Pertamax hanya 20 KL.

    Artinya, volume Pertalite dalam data tersebut sekitar 16,4 kali lebih besar dibanding Pertamax.

    Jika dibandingkan dengan seluruh BBM nonsubsidi yang tercatat, yakni Pertamax, Pertamax Turbo, dan Pertamina Dex dengan total 24 KL, volume Pertalite bahkan sekitar 13,7 kali lebih besar.

    Namun, angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan penyebab antrean di SPBU.

    Data yang tercantum merupakan jadwal penyaluran pada titik-titik tertentu, bukan keseluruhan konsumsi atau distribusi BBM Sulsel.

    Dikaitkan dengan shifting konsumsi

    Dominasi Pertalite menjadi menarik jika disandingkan dengan pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengenai antrean BBM di Sulawesi Selatan.

    Bahlil mengatakan antrean panjang di SPBU Makassar dan wilayah Sulsel terjadi karena sejumlah faktor.

    Salah satunya adalah pergeseran konsumsi masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi.

    Bahlil juga menyebut adanya pihak tertentu yang mengantre di SPBU dengan maksud lain.

    Pemerintah, kata dia, tengah memformulasikan regulasi agar penyaluran BBM bersubsidi lebih tepat sasaran.

    "Kita lagi ada memformulasikan aturannya," kata Bahlil saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (16/9/2026).

    Ia juga mengimbau masyarakat yang tergolong mampu agar tidak menggunakan BBM subsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat yang berhak.

    Antrean mulai terurai

    Sementara itu, kondisi penyaluran BBM di sejumlah wilayah Sulsel mulai dilaporkan lebih kondusif.

    Pertamina Patra Niaga menyebut aktivitas pengisian BBM di Makassar, Gowa, Takalar, dan Maros sudah lebih tertib.

    Antrean kendaraan juga disebut tidak lagi mengganggu arus lalu lintas di sekitar SPBU.

    Pjs Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Okky Aditya Wibowo mengatakan kondisi tersebut merupakan hasil koordinasi Pertamina bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum.

    "Penyaluran BBM di Makassar, Gowa, Takalar, dan Maros saat ini sudah lebih kondusif," ujar Okky dalam keterangan tertulis, Rabu (16/9/2026).

    Pertamina memastikan distribusi ke lembaga penyalur terus dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi di lapangan.

    Bukan hanya soal stok

    Data penyaluran tersebut memperlihatkan bahwa persoalan BBM di Sulsel tidak cukup dilihat hanya dari sisi ketersediaan stok.

    Ada tiga variabel yang perlu dilihat secara bersamaan, yakni volume pasokan, perubahan pola konsumsi, dan perilaku pembelian di tingkat SPBU.

    Pernyataan Bahlil mengenai shifting konsumsi menjadi salah satu penjelasan pemerintah terhadap munculnya antrean.

    Di sisi lain, Pertamina menyatakan distribusi BBM tetap berjalan dan stok nasional berada dalam kondisi aman.

    Karena itu, data yang lebih lengkap diperlukan untuk menguji perubahan konsumsi tersebut.

    Terutama perbandingan penyaluran Pertalite dan Pertamax dari hari ke hari, volume per SPBU, kuota BBM subsidi, serta realisasi konsumsi masing-masing wilayah.

    Data empat lembar pada 12 September 2026 ini setidaknya menunjukkan satu fakta.

    Pertalite menjadi BBM dengan volume penyaluran terbesar, mencapai 328 KL atau lebih dari separuh total distribusi yang tercantum.

    Sementara Pertalite dan Biosolar B50 menguasai 96,1 persen dari total 616 KL penyaluran.

    Angka ini menjadi konteks penting untuk membaca fenomena antrean BBM di Sulsel, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa antrean semata-mata disebabkan oleh pergeseran konsumen ke BBM subsidi.(*)

    Komentar
    Additional JS