Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Pramono Anung Ragunan Spesial Wisata Wisata Indonesia

    Tiket Masuk Ragunan Diusulkan Naik Jadi Rp 10.000, Pramono: Segera Saya Putuskan - Kompas

    6 min read

     


    JAKARTA, KOMPAS.com - Pemprov DKI Jakarta tengah mempertimbangkan penyesuaian tarif tiket masuk Taman Margasatwa Ragunan (TMR), Jakarta Selatan, menjadi Rp 10.000.

    Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, keputusan terkait usulan kenaikan tarif tersebut akan segera ditetapkan dalam waktu dekat.

    "Ragunan ini kebun binatang yang ada di ibu kota di dunia itu paling rendah. Sehingga kami mempertimbangkan untuk penyesuaian tetapi belum diputuskan, saya segera akan memutuskan," ujar Pramono di Gedung PMI DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026), dikutip dari situs berita resmi Pemprov DKI Jakarta.

    Menurut Pramono penyesuaian diperlukan karena biaya perawatan flora dan fauna di kawasan tersebut cukup tinggi.

    AS Produksi Rudal Generasi Baru, Gandeng Lockheed Martin dalam AIM-260 JATM

    "Meminta untuk itu karena harganya terlalu murah, sementara perawatan untuk hewan, fauna, flora, dan sebagainya juga cukup tinggi," ucap Pramono.

    Ia juga menyoroti peningkatan jumlah kunjungan ke Ragunan, terutama setelah diterapkannya kebijakan wisata Ragunan pada malam hari.

    Meski demikian, Pramono belum menyampaikan keputusan final mengenai besaran tarif masuk yang akan diberlakukan.

    Baca juga: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan di Jabodetabek 18-19 September, Ini Wilayahnya

    Usulan Tarif Dewasa dan Anak-anak

    Sebelumnya, Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Dimaz Raditya mendorong penyesuaian tarif masuk Taman Margasatwa Ragunan.

    Dalam usulan yang disampaikan pada awal September 2026, tarif pengunjung dewasa diusulkan berubah dari Rp 4.000 menjadi Rp 10.000. Sementara itu, tarif anak-anak diusulkan dari Rp 3.000 menjadi Rp 7.500.

    "Wacana ini sudah ada sejak tahun lalu dan sudah cukup lama, tetapi belum ada perkembangan. Makanya kami mendorong supaya ini bisa dipercepat," kata Dimaz dalam keterangannya yang dikutip Jumat (4/9/2026).

    Dimaz mengatakan, penyesuaian tarif perlu diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan dan perawatan satwa.

    "Kami juga mendorong supaya kenaikan tarif ini tentunya meningkatkan pelayanan juga ke masyarakat. Sehingga adanya kenaikan tarif ini, masyarakat juga merasakan manfaat lebih dari Taman Ragunan," ujarnya.

    Baca juga: Ada Pemadaman Lampu Serentak di Jakarta 19 September, Ini Jadwal dan Lokasinya

    Pengunjung Dukung Kenaikan dengan Catatan

    Sebelumnya, wacana kenaikan tarif masuk Ragunan menjadi Rp 10.000 mendapat tanggapan positif dari sejumlah pengunjung.

    Namun, dukungan tersebut disertai harapan agar kenaikan harga tiket diikuti dengan perbaikan fasilitas, kenyamanan, dan pengelolaan satwa.

    Mawadah Putri (29), pengunjung Ragunan, mengatakan tarif Rp 10.000 masih terjangkau bagi masyarakat.

    Meski demikian, ia meminta pengelola memperbanyak penghijauan agar kawasan Ragunan lebih rindang dan nyaman bagi pengunjung.

    "Sebenernya gapapa. Masih terjangkau sih Rp 10.000. Cuma saran dibikin lebih rimbun dan hijau biar adem. Soalnya panas banget," ujar Mawadah saat berbincang dengan Kompas.com di Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (5/9/2026).

    Selain penghijauan, Mawadah berharap fasilitas umum juga dibenahi. Ia menyoroti kebutuhan petunjuk arah yang lebih informatif, kebersihan toilet dan mushala, serta kenyamanan ruang laktasi dan tempat mengganti popok anak.

    Baca juga: Kenapa Orang Jakarta Tetap Pakai Laundry meski Punya Mesin Cuci?

    Pengunjung Minta Transparansi Penggunaan Dana

    Pengunjung asal Depok, Nanat (36), juga menyatakan tidak keberatan jika tarif masuk Ragunan naik menjadi Rp 10.000.

    Menurut dia, Ragunan memiliki fungsi sebagai tempat rekreasi keluarga, sarana edukasi anak, dan kawasan konservasi satwa.

    "Apalagi Ragunan bukan cuma tempat rekreasi keluarga, tapi juga punya fungsi edukasi buat anak juga, terus juga tempat konservasi binatang, yang jelas tidak murah lah perawatan mereka juga," ucap Nanat.

    Namun, Nanat mengingatkan agar tarif baru tetap terjangkau bagi masyarakat dari berbagai kalangan. Ia juga berharap tambahan pendapatan dari tiket digunakan untuk meningkatkan pelayanan dan perawatan satwa.

    Sementara itu, pengunjung lain, Achmad Bayhak, meminta pemerintah tidak menaikkan tarif melebihi Rp 10.000.

    "Setuju. Tapi kalau bisa jangan di atas Rp 10.000 kalau bisa ya di bawah Rp 10.000. Soalnya kan Ragunan hiburannya warga bawah ya," kata Achmad.

    Achmad menilai kenaikan tarif dapat diterima jika manfaatnya dirasakan langsung oleh pengunjung dan satwa. Ia meminta pengelola menyampaikan penggunaan tambahan pendapatan secara transparan.

    "Tapi harus jelas uang tambahannya untuk apa. Kalau memang untuk perawatan, kebersihan, fasilitas pengunjung, dan kesejahteraan satwa, saya rasa masih wajar," ujarnya.

    Ia juga mengusulkan kenaikan tarif dilakukan secara bertahap dan tarif khusus bagi anak-anak serta kelompok masyarakat tertentu tetap dipertahankan.

    Baca juga: Resmi Beroperasi, Ini 11 Stasiun dan Tarif LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

    Ketua DPRD DKI Minta Layanan Dibenahi

    Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin menolak kenaikan tarif Ragunan menjadi Rp 10.000 apabila tidak disertai peningkatan layanan.

    Suhud mengatakan, masyarakat perlu merasakan manfaat yang jelas dari kenaikan harga tiket.

    "Yang enggak setuju kalau tata kelolanya seperti itu saja. Enggak ada sesuatu yang baru yang dirasakan oleh masyarakat," kata Suhud saat ditemui di Gedung DPRD DKI Jakarta, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (9/9/2026).

    Menurut Suhud, pengelola Ragunan tidak seharusnya hanya mengandalkan pendapatan dari tiket masuk. Ia mendorong pengembangan kegiatan, fasilitas, tempat makan, dan merchandise untuk menambah pemasukan.

    "Jangan mengandalkan tiket. Kalau kita debat naik atau enggaknya, kalau kita lihat Ragunannya kan kasihan, mesti naik. Padahal masyarakat juga perlu hiburan," ujarnya.

    Suhud juga mengusulkan keterlibatan pihak swasta untuk mengoptimalkan area Ragunan yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

    Ia menilai, pengembangan fasilitas dan daya tarik baru dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan pendapatan sekaligus mendorong masyarakat berkunjung kembali.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS