Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Bisnis BRICS Featured Keuangan KTT BRICS Prabowo Subianto Spesial

    Prabowo di KTT BRICS: Perdagangan dan Mata Uang Tak Boleh Dipersenjatai - Viva

    4 min read

     

    Presiden Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

    New Delhi, VIVA – Presiden RI Prabowo Subianto mengatakan BRICS memiliki peran penting dalam memperkuat kapasitas kolektif untuk berkontribusi terhadap ketahanan global. 

    Baca Juga

    Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat menghadiri sesi terbatas bertema “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism” pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, Republik India, Sabtu, 12 September 2026.

    “BRICS mewakili setengah dari seluruh umat manusia dan bagian yang besar dari perekonomian global serta perdagangan global. BRICS menyatukan pasar-pasar terbesar di dunia dan para produsen energi utama. Hal ini memberikan kita kekuatan kolektif yang sangat besar,” ujar Prabowo.

    Baca Juga

    Presiden Prabowo menekankan kekuatan kolektif BRICS sebagai modal penting untuk memperkuat tata kelola global, menjamin ketahanan pangan dan energi, serta menciptakan peluang pembangunan yang lebih besar bagi negara-negara berkembang. 

    Menurut Kepala Negara, mobilisasi sumber daya untuk pembangunan infrastruktur dan pembangunan ekonomi dapat meningkatkan kemampuan Global South untuk membiayai masa depannya sendiri. 

    Baca Juga

    “BRICS memiliki peran untuk dimainkan dengan memperkuat kapasitas kita sendiri dalam berkontribusi terhadap ketahanan global. Dengan memobilisasi sumber daya untuk infrastruktur dan pembangunan, kita dapat memperkuat kapasitas Global South untuk membiayai masa depannya sendiri,” ujar Kepala Negara.

    Selain itu, Presiden Prabowo mengatakan kekuatan kolektif tersebut juga dapat dioptimalkan melalui keterhubungan yang lebih baik antara pasar, modal, sumber daya, teknologi, dan pengetahuan negara-negara BRICS. 

    Kepala Negara menyebut keterhubungan itu dinilai dapat membuka peluang yang lebih besar bagi negara-negara berkembang sekaligus memperkuat suara Global South dalam membentuk institusi yang mengatur dunia, melindungi dan meningkatkan perdamaian, serta memperjuangkan keadilan.

    “Bayangkan apa yang dapat dicapai BRICS jika kekuatan ini sepenuhnya dimobilisasi untuk membantu menjamin pasokan pangan dan energi. Bayangkan jika pasar, modal, sumber daya, teknologi, dan pengetahuan kita terhubung dengan lebih baik, sehingga menciptakan peluang yang lebih besar bagi negara-negara berkembang,” imbuhnya.

    Lebih lanjut, Kepala Negara juga menegaskan pentingnya membangun sistem multilateral yang lebih kuat dan mampu mendukung kebutuhan serta kepentingan seluruh negara, baik negara besar maupun kecil, kuat maupun lemah. 

    Dalam konteks tersebut, Presiden Prabowo menyebut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus tetap berada di pusat sistem multilateral, namun dengan reformasi agar lebih representatif, responsif, dan mampu memberikan hasil konkret bagi masyarakat dunia.

    “PBB harus lebih representatif, lebih responsif, dan lebih mampu memberikan hasil konkret bagi masyarakat kita. Pada saat yang sama, lembaga-lembaga keuangan internasional kita juga harus berkembang. Perdagangan dan mata uang tidak boleh dipersenjatai,” pungkas Presiden Prabowo.

    Ketum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menyampaikan pidato dalam forum bisnis BRICS di New Delhi, India.

    Anindya Bakrie di KTT BRICS: Indonesia Tak Mau Cuma Jadi Pasar

    Menurut Anin, masuknya Indonesia sebagai anggota BRICS membuka ruang lebih besar bagi dunia usaha nasional untuk memperluas perdagangan, investasi, industri, teknologi.

    img_title

    VIVA.co.id

    12 September 2026

    Komentar
    Additional JS