Surabaya Pernah Diguncang Gempa Merusak pada 1867, Kini 2 Sesar Aktif Dipantau dengan 14 Seismograf - Kompas
SURABAYA, KOMPAS.com - Surabaya memiliki catatan sejarah gempa bumi merusak. Berdasarkan catatan sejarah kegempaan yang dikutip dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa merusak pernah terjadi di Surabaya pada 1867.
Kini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyiapkan jaringan pemantauan aktivitas kegempaan sebagai bagian dari mitigasi bencana.
Pemkot membutuhkan 14 stasiun seismograf untuk memantau dua sesar aktif yang melintasi wilayah Surabaya. Tahun ini, Pemkot menargetkan pemasangan empat hingga lima unit, sementara sisanya akan dipenuhi secara bertahap.
Baca juga: Sesar Aktif di Surabaya Berpotensi Picu Gempa M 6,8, Warga Diminta Kenali Risikonya
Dua Sesar Aktif Melintasi Surabaya
Hasil survei Pemkot Surabaya bersama tim ahli geologi menunjukkan adanya dua patahan aktif dari sistem Sesar Kendeng yang melintasi wilayah kota.
Surabaya Dilewati 2 Sesar Aktif yang Berpotensi Gempa, Ini Kata Pakar Geologi ITS
Kedua patahan tersebut adalah Patahan Surabaya dan Patahan Waru.
Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Amien Widodo, mengatakan kedua patahan memiliki karakteristik patahan naik atau thrust fault.
Aktivitas geologis tersebut terjadi ketika ada dorongan dari bawah permukaan bumi yang secara perlahan dapat mengangkat lapisan tanah dan membentuk bukit memanjang di wilayah kota.
Karena itu, menurut Amien, aktivitas sesar perlu dipantau secara terus-menerus.
Sejumlah instrumen akan ditempatkan di sekitar jalur patahan dan sejumlah wilayah di Surabaya.
Baca juga: Surabaya Dilewati 2 Sesar Aktif, Eri Cahyadi Berencana Pasang Alat Monitoring
Pernah Ada Gempa Merusak di Surabaya
Mengutip BMKG, sistem Sesar Kendeng pernah berkaitan dengan gempa bumi merusak di sejumlah wilayah Jawa Timur pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Catatan sejarah kegempaan menunjukkan gempa merusak terjadi di Mojokerto pada 1836 dan 1837, Madiun pada 1862 dan 1915, serta Surabaya pada 1867.
Gempa yang dirasakan di Surabaya juga dapat berasal dari sumber gempa tektonik di sekitar Laut Jawa dan Pulau Madura.
Di antaranya gempa Laut Tuban pada 2024 dan gempa tektonik di sekitar Bangkalan pada 2022.
Baca juga: 3 Sesar Aktif di Madura, BMKG Imbau Masyarakat Tidak Panik
Seismograf Dipasang di Ruang Publik
Kepala BPBD Kota Surabaya, Irvan Widyanto, mengatakan pemasangan seismograf merupakan bagian dari mitigasi sekaligus pemantauan aktivitas sesar.
Menurut dia, pemasangan akan diprioritaskan di ruang publik atau perkantoran yang memiliki jaringan internet stabil.
"Pemasangan akan diutamakan berada di ruang-ruang publik atau perkantoran yang memiliki jaringan internet stabil," ujar Irvan dikutip dari Surya.co.id, Sabtu (19/9/2026).
Alat yang digunakan adalah Raspberry Shake RS6D. Instrumen tersebut diusulkan tim geofisika ITS yang dipimpin Amien Widodo.
Irvan mengatakan RS6D dipilih karena berukuran relatif kecil sehingga mudah ditempatkan di kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan ruang.
Alat tersebut juga dinilai lebih ekonomis dibandingkan instrumen seismik konvensional, tetapi tetap dapat menghasilkan data yang dibutuhkan untuk pemantauan.
Pemkot Surabaya berencana mengintegrasikan data seismograf dengan Command Center 112.
"Dengan pemasangan alat ini, kami juga ingin membangun sistem peringatan dini melalui pemantauan harian yang nantinya akan diintegrasikan dengan pusat kendali, Command Center 112," imbuh Irvan.
Baca juga: Viral Sesar Aktif di Surabaya, Pakar Seismologi ITS Bantah Ada Sesar dari Surabaya-Madura
Warga Diminta Tidak Panik
Pemkot Surabaya mengimbau masyarakat tidak panik menyikapi informasi mengenai potensi gempa yang beredar di media sosial.
Pemkot bekerja sama dengan BMKG, khususnya Stasiun Geofisika Probolinggo dan Pasuruan, serta tim ahli ITS untuk menyampaikan informasi kegempaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Irvan meminta masyarakat tetap waspada tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari.
"Karakteristik sesar di Surabaya tergolong lempengan kecil. Meski potensi getaran tetap bergantung pada kedalaman gempa, masyarakat diminta untuk tidak panik berlebihan," tandasnya.
Amien menilai jaringan seismograf diperlukan untuk memperoleh gambaran aktivitas sesar secara rutin dan real-time.
"Pemasangan alat-alat seismograf ini sangat diperlukan untuk memonitor pergerakan sesar secara real-time. Dengan mengetahui tingkat keaktifannya, kita dapat terus bersiaga dan meningkatkan kewaspadaan apabila sewaktu-waktu terjadi pergerakan yang lebih signifikan," kata Amien.
Artikel ini telah tayang di Surya.co.id dengan judul Dua Sesar Aktif Lintasi Surabaya, Pemkot Siapkan 14 Seismograf.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.