Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dunia Internasional Featured IRGC Pelabuhan Tanjung Priok Spesial

    Unit 4000 IRGC Iran Disebut Targetkan Tanjung Priok Indonesia, Benarkah? - SindoNews

    7 min read

     

    A A A

    Unit 4000 IRGC Iran disebut-sebut rencanakan serangan terhadap kapal-kapal dan pelabuhan di wilayah Asia, termasuk pelabuhan di Indonesia. Foto/Iran International

    JAKARTA - Unit intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan tengah merekrut warga asing untuk melakukan serangan terhadap kapal, jalur pelayaran, dan pelabuhan di Asia Timur, termasuk dua pelabuhan utama di China. Informasi tersebut disampaikan sejumlah sumber yang mengetahui rencana itu kepada Iran International.

    Iran International, media pro-oposisi Iran yang berbasis di Inggris, memperoleh informasi mengenai tiga orang yang diduga telah direkrut serta sebuah operasi yang disebut sedang dipersiapkan Unit 4000, divisi operasi khusus di bawah Organisasi Intelijen IRGC.

    Baca Juga: Diserang Rudal Iran, 8 Jet Tempur F-15 dan 1 Pesawat A-10 AS Rusak

    Menurut sumber tersebut, ketiga orang itu direkrut melalui sejumlah ulama Syiah di Thailand dan Indonesia. Unit 4000 juga disebut mulai menyusun rencana serangan di Selat Malaka dan Selat Bangka, serta menargetkan Pelabuhan Tanjung Priok di Indonesia dan Pelabuhan Ningbo-Zhoushan serta Shanghai di China.

    Operasi tersebut, menurut sumber Iran International, berada di bawah kendali Brigadir Jenderal Rahman Moghaddam, komandan Unit 4000.

    Sebelumnya, Moghaddam dilaporkan tewas dalam serangan Israel di Teheran pada 3 Maret, beberapa hari setelah perang pecah. Badan keamanan Israel menyebutnya sebagai salah satu pejabat senior intelijen Iran yang tewas dalam serangan tersebut.

    Dua hari kemudian, drone menyerang Nakhichevan di Azerbaijan. Pemerintah Azerbaijan menuding Iran berada di balik serangan tersebut, tuduhan yang dibantah Teheran. CNN kemudian melaporkan bahwa pejabat Iran meyakini serangan drone itu merupakan aksi balasan atas tewasnya Moghaddam. Teheran menduga pembunuhan tersebut dilakukan dengan bantuan Israel dari wilayah Azerbaijan.

    Namun, Iran International kini memperoleh informasi yang menyebut laporan kematian Moghaddam tidak benar. Berdasarkan informasi tersebut, Moghaddam selamat dari serangan dan kini kembali memimpin apa yang disebut sumber sebagai fase baru operasi maritim Unit 4000 di luar negeri.

    Moghaddam sebelumnya menjabat sebagai wakil koordinator Organisasi Perlindungan dan Intelijen Kementerian Pertahanan Iran. Sekitar tiga tahun lalu, dia mengambil alih komando Unit 4000, yang selama ini dikaitkan dengan operasi pembunuhan dan sabotase terhadap lawan-lawan Republik Islam Iran serta kepentingan Israel di luar negeri.

    Rencana Targetkan Kapal di Perairan Indonesia dan China

    Dua sumber yang mengetahui aktivitas IRGC mengatakan Moghaddam kini mengawasi program baru untuk memperluas operasi Unit 4000 ke perairan Asia Timur.

    Menurut mereka, Unit 4000 mempertimbangkan serangan terhadap kapal komersial, kapal militer, maupun kapal milik pribadi yang melintas di Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia, serta Selat Bangka.

    Unit tersebut juga disebut telah menyusun rencana untuk menargetkan Pelabuhan Tanjung Priok, pelabuhan tersibuk di Indonesia, serta dua pelabuhan utama China, Ningbo-Zhoushan dan Shanghai.

    Jika benar, rencana tersebut akan memperluas secara signifikan wilayah operasi kampanye tekanan maritim Iran.

    Sejak perang dimulai pada 28 Februari, Iran berupaya membatasi lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz. Di saat yang sama, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman telah mengganggu pelayaran di sekitar Selat Bab al-Mandab dan Laut Merah.

    Pada Juni, Mohsen Rezaei, yang saat itu merupakan penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran dan kini menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan kepada CNN bahwa Teheran dapat memperluas konflik jika perang dan blokade laut Amerika Serikat (AS) terus berlangsung.

    “Jika perang berlanjut dan blokade laut tidak dicabut, kami akan membawa perang ke Samudra Hindia, Selat Bab al-Mandab, Laut Merah, dan Laut Mediterania,” kata Rezaei.

    Pada periode yang sama, Komandan Pasukan Quds IRGC Esmail Qaani mengatakan bahwa “sabuk keamanan” baru dari apa yang disebut Iran sebagai front perlawanan akan membentang dari Selat Hormuz hingga Bab al-Mandab dan dari Teluk Persia hingga Laut Merah.

    Perekrutan Diduga Libatkan Thailand dan Indonesia

    Sumber Iran International mengatakan Unit 4000 tengah mencari warga asing untuk direkrut dalam operasi maritim di Asia Timur. Langkah ini diduga dimaksudkan agar Teheran lebih mudah menyangkal keterlibatan jika sebuah operasi terbongkar.

    Para calon agen disebut dibawa ke Iran untuk menjalani pelatihan sebelum dikirim menjalankan operasi di Asia Timur.

    Untuk perekrutan di Thailand, Moghaddam disebut mendekati Seyyed Momen Saketicha, salah satu tokoh berpengaruh di komunitas Syiah Thailand.

    Saketicha merupakan bagian dari delegasi Thailand yang berkunjung ke Teheran pada 2023 dan bertemu dengan perwakilan Hamas dalam upaya membebaskan warga Thailand yang disandera dalam serangan 7 Oktober terhadap Israel.

    Sumber tersebut menyebut Saketicha sebagai orang dekat ulama Syiah Thailand, Seyed Sulaiman Husaini. Husaini merupakan pimpinan Al-Mahdi Foundation di Thailand sekaligus imam Masjid Ruhollah di Nakhon Si Thammarat.

    Husaini juga memiliki hubungan dengan Al-Mustafa International University, lembaga pendidikan yang berbasis di Iran dan dikenai sanksi Departemen Keuangan AS pada 2020. Washington menuduh lembaga tersebut berperan dalam memfasilitasi perekrutan untuk Pasukan Quds IRGC.

    Pada 2012, setelah serangkaian ledakan terjadi di Bangkok yang menurut pejabat Thailand dan Israel merupakan bagian dari rencana untuk menargetkan diplomat Israel, Husaini menuding Mossad sebagai dalangnya. Pengadilan Thailand kemudian menjatuhkan vonis kepada dua warga Iran terkait rencana pengeboman tersebut. Iran membantah terlibat.

    Indonesia Disebut Jadi Fokus Utama

    Sebagian besar rencana operasi maritim Unit 4000 di Asia Timur disebut berpusat di Indonesia, menurut sumber Iran International.

    Sumber tersebut mengatakan Moghaddam menggunakan dua ulama Indonesia untuk mencari calon rekrutan.

    Salah satunya adalah Zahir Yahya, ketua Ahlulbait Indonesia, organisasi Syiah tingkat nasional. Sumber Iran International menyebut Yahya sebagai perantara yang memperkenalkan calon agen kepada Unit 4000.

    Tokoh lainnya adalah Abdullah Saqqaf. Menurut sumber tersebut, Saqqaf merupakan pimpinan lembaga pendidikan Amir al-Mu’minin di Bogor dan memiliki hubungan dengan Al-Mustafa International University.

    Saketicha, Yahya, dan Saqqaf disebut memperkenalkan calon rekrutan kepada IRGC. Sementara itu, dua anggota Unit 4000, Mohsen Aghazadeh dan Vahid Yekeh-Dehqan, disebut bertugas melakukan perekrutan dan pelatihan.

    Tiga Orang Diduga Direkrut

    Iran International mengidentifikasi tiga orang yang menurut sumbernya telah direkrut Unit 4000 untuk menjalankan operasi maritim rahasia di Asia Timur.

    Orang pertama adalah Pandu Yudhawinata, warga Indonesia yang sebelumnya disebut dalam sejumlah laporan kontraterorisme memiliki kaitan dengan Hizbullah dan intelijen Iran.

    Yudhawinata disebut terlibat dalam rencana Hizbullah untuk mengebom Kedutaan Besar Israel di Bangkok pada 1994, yang akhirnya gagal. Sejumlah laporan kontraterorisme menyebut dia pernah menjalani pelatihan di Iran dan kemudian bekerja dengan jaringan Hezbollah di Asia Tenggara.

    Iran International juga mengaitkannya dengan serangkaian serangan di Sri Lanka.

    Menurut sumber tersebut, Yudhawinata bersama dua warga Indonesia lainnya, Ardiyanta Mutoha dan Mohammad Hossein, pergi ke Teheran untuk menjalani pelatihan sebagai persiapan menjalankan operasi rahasia di pelabuhan dan jalur perairan di Asia Timur.

    Rencana yang diduga tersebut muncul ketika Washington berupaya meningkatkan tekanan terhadap ekspor minyak Iran sekaligus membantu kelancaran pengiriman energi melalui Selat Hormuz.

    Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pekan lalu bahwa Amerika Serikat telah membantu mengalirkan 130 juta barel minyak melalui jalur perairan tersebut dalam kurun dua minggu, sembari mencegah ekspor minyak Iran.

    Asia menjadi salah satu kawasan yang paling rentan jika gangguan pelayaran meluas. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan sekitar 80 persen minyak yang melewati Selat Hormuz ditujukan ke pasar Asia.

    Rencana yang diungkap kepada Iran International menunjukkan bahwa Unit 4000 diduga mulai membidik bagian lain dari jaringan pelayaran energi dan perdagangan yang sangat penting bagi Asia. Jika terealisasi, operasi tersebut berpotensi memperluas jangkauan kampanye maritim Iran dari Timur Tengah hingga sejumlah jalur perairan tersibuk di dunia.

    Pemerintah Iran maupun IRGC belum berkomentar atas laporan media tersebut.

    (mas)

    Komentar
    Additional JS