YPPI Sutorejo Jadi Tuan Rumah OSIM 2026, 170 Peserta Adu Kemampuan Sains, Matematika dan Bahasa Inggris - Metro Times

- iklan atas berita -
MetroTimes (Surabaya) — Sebanyak 170 peserta dari jenjang Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengikuti Olimpiade Science, English and Math (OSIM) 2026 yang digelar di lingkungan YPPI Sutorejo, Surabaya. Kegiatan tersebut menjadi ajang bagi siswa untuk mengasah kemampuan akademik sekaligus membuka peluang berprestasi di tingkat yang lebih tinggi.
OSIM tahun ini merupakan penyelenggaraan tahun keempat. Untuk pelaksanaan di Kota Surabaya, YPPI Sutorejo dipercaya menjadi tuan rumah babak penyisihan. Peserta tidak hanya berasal dari sekolah-sekolah di lingkungan YPPI, tetapi juga dari berbagai sekolah di Surabaya dan sejumlah daerah di Jawa Timur.

Kepala SD YPPI 4 Surabaya, Wina Ayu Trisnawati, S.P., S.Pd., mengatakan, penyelenggaraan OSIM menjadi momentum penting untuk mengembangkan potensi siswa sekaligus memperkenalkan YPPI Sutorejo kepada masyarakat yang lebih luas.
“Hari ini kami melaksanakan event Olimpiade Science, English and Math atau disingkat OSIM. Ini merupakan tahun keempat OSIM berjalan dan kebetulan tahun ini kami menjadi tuan rumah untuk babak penyisihan di YPPI Sutorejo, mulai dari TK sampai SMP,” ujar Wina.
ads
Menurutnya, salah satu tujuan utama OSIM adalah mengasah kemampuan dan prestasi anak-anak, khususnya dalam bidang Matematika, Bahasa Inggris, dan Sains. Selain kompetisi utama, penyelenggara juga menghadirkan kegiatan pendukung seperti fun match dan coloring untuk memberikan pengalaman kompetisi yang lebih beragam bagi peserta.
Dari total 170 peserta, sebagian besar berasal dari luar lingkungan YPPI. Peserta tercatat datang dari berbagai sekolah di Surabaya, Sidoarjo, Gresik hingga Lamongan.
Untuk jenjang TK, peserta antara lain berasal dari TK Srikandi, TK Santa Loren, TK Kristus Raja, TK Dharma Wanita serta sejumlah TK lainnya. Sementara pada jenjang SD, peserta berasal dari Santa Loren, Kristus Raja, Pembangunan Jaya, sekolah-sekolah di Gresik dan Lamongan, serta sejumlah SD Negeri di Kota Surabaya.
“Paling jauh kami menemukan peserta dari Lamongan, Gresik dan Sidoarjo. Ini menunjukkan bahwa OSIM bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi kesempatan bagi kami untuk memperkenalkan keberadaan YPPI Sutorejo kepada masyarakat luas,” katanya.
Wina menjelaskan, kehadiran YPPI Sutorejo sebagai tuan rumah bermula dari komunikasi dengan penyelenggara OSIM yang sebelumnya pernah datang ke lokasi. Tawaran menjadi tuan rumah kemudian disambut baik oleh pihak sekolah.
Sebagai tuan rumah, SD dan SMP YPPI Sutorejo tidak hanya menyiapkan tempat pelaksanaan, tetapi juga berbagai fasilitas pendukung bagi peserta maupun orang tua yang mendampingi.
Bagi orang tua yang menunggu selama anak mengikuti lomba, pihak sekolah menyediakan aula serta sejumlah kegiatan, termasuk cooking class. Sekolah juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan berbagai program pendidikan yang dimiliki YPPI Sutorejo.
Selain fasilitas, sekolah menyiapkan tim pengawas atau invigilator untuk memastikan pelaksanaan babak penyisihan berjalan tertib dan lancar.
“Syukurnya, hari ini juga banyak orang tua yang menanyakan mengenai YPPI Sutorejo. Jadi selain menjadi tuan rumah lomba, ini juga menjadi kesempatan bagi kami untuk memperkenalkan program dan lingkungan sekolah,” jelas Wina.
Dalam babak penyisihan, peserta mendapatkan fasilitas berupa medali dan soal yang dapat dibawa pulang. Materi soal disusun secara berjenjang sesuai tingkat pendidikan peserta, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6 SD serta jenjang SMP.
Soal yang diberikan terdiri atas pilihan ganda dan uraian. Setelah mengikuti babak penyisihan di Surabaya, peserta yang lolos akan melanjutkan ke babak final yang dijadwalkan berlangsung di Malang pada November mendatang dengan cakupan peserta tingkat Jawa Timur.
“OSIM ini sebenarnya sedang melakukan safari ke setiap kota. Kebetulan untuk Kota Surabaya kami yang terpilih menjadi tuan rumah,” terang Wina.
Di internal YPPI sendiri, sekolah mengikutsertakan sekitar 30 siswa, terdiri atas sekitar 20 siswa SD dan 10 siswa SMP. Para siswa mengikuti kategori Sains, Bahasa Inggris dan Matematika, dengan kemungkinan satu siswa mengikuti lebih dari satu bidang.
Untuk mempersiapkan siswa menghadapi kompetisi, YPPI memiliki klub yang menjadi wadah pembinaan siswa dalam menghadapi berbagai olimpiade. Persiapan telah dilakukan sejak sekitar dua bulan sebelum pelaksanaan.
Wina menambahkan, antusiasme siswa maupun orang tua terhadap OSIM cukup tinggi. Bagi sekolah, kompetisi seperti ini juga menjadi sarana untuk mendorong siswa berani berkompetisi dan mengembangkan kemampuan akademiknya.
“Anak-anak antusias, orang tua juga antusias mengikuti olimpiade ini karena OSIM termasuk olimpiade yang bergengsi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SMP YPPI-3 Surabaya, Ronny Poerwantoro, mengatakan keikutsertaan YPPI sebagai tuan rumah memiliki dua kepentingan utama. Pertama, memperkenalkan YPPI Sutorejo kepada masyarakat yang lebih luas. Kedua, menyediakan wadah bagi siswa yang selama ini mengikuti pembinaan melalui klub internal sekolah.
“Kalau setiap tahun kompetitor semakin banyak, kami harus memperluas dan memperkenalkan apa itu YPPI Sutorejo dan bagaimana YPPI Sutorejo. Yang kedua, program-program internal kami, salah satunya klub, otomatis harus punya wadah. Selama ini kami lebih banyak keluar, dan begitu ada rekanan yang masuk, kami ambil kesempatan itu sekaligus memberikan fasilitas yang bisa kami support,” kata Ronny.
Menurut Ronny, siswa YPPI yang mengikuti OSIM juga tidak serta-merta ditunjuk untuk mengikuti kompetisi. Mereka terlebih dahulu melalui proses seleksi internal untuk mengukur kesiapan dan kemampuan masing-masing.
Seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan siswa dalam menghadapi pola soal yang menuntut penalaran. Menurutnya, pola pembelajaran dan soal saat ini sudah jauh berkembang dibandingkan pola pembelajaran pada masa sebelumnya.
“Anak-anak sekarang tidak hanya diberikan soal dua tambah dua sama dengan empat. Ada narasi, ada logika yang harus dibaca dan dipahami, baru kemudian menjawab. Jadi bukan hanya tergantung nilai,” jelasnya.
Ronny menilai pola tersebut sejalan dengan perkembangan asesmen pendidikan, termasuk tuntutan literasi, numerasi dan kemampuan berpikir logis. Karena itu, pembinaan melalui klub olimpiade tidak hanya diarahkan untuk memenangkan perlombaan, tetapi juga membangun kemampuan berpikir siswa.
Persiapan internal pun dilakukan secara bertahap. Sekitar dua bulan sebelum kompetisi, siswa mulai mendapatkan pembinaan lebih intensif. Memasuki satu hingga dua bulan terakhir, sekolah melakukan seleksi untuk melihat siswa yang diproyeksikan memiliki peluang lebih besar untuk lolos ke tahap berikutnya.
“Target kami tentu ingin menang. Salah satu target dari program klub adalah bagaimana siswa bisa melanjutkan ke seleksi berikutnya di Malang, karena memang ada jenjangnya sampai tingkat provinsi,” kata Ronny.
Lebih jauh, Ronny mengatakan YPPI Sutorejo memiliki tiga unit pendidikan, yakni TK, SD dan SMP. Melalui kegiatan seperti OSIM, sekolah berharap keberadaan ketiga unit tersebut semakin dikenal masyarakat di luar lingkungan sekitar sekolah.
Menurutnya, keterlibatan dalam kegiatan yang mempertemukan sekolah dari berbagai daerah juga merupakan bagian dari strategi YPPI untuk membangun jejaring dan membuka diri terhadap lingkungan yang lebih luas.
“Kami tidak ingin hanya berada di kandang atau hanya dikenal di lingkungan sekitar. Dalam era globalisasi, kita tidak bisa hanya melihat satu sisi. Kita harus bisa bekerja sama seperti ini supaya lebih dikenal,” tuturnya.
Masuknya peserta dari Gresik, Lamongan, Sidoarjo hingga berbagai sekolah di Surabaya, menurut Ronny, menjadi salah satu indikator bahwa kegiatan tersebut mampu mempertemukan YPPI dengan komunitas pendidikan yang lebih luas.
Ia berharap, semakin banyak masyarakat mengenal YPPI Sutorejo, semakin terbuka pula peluang bagi calon peserta didik dari berbagai daerah untuk memilih YPPI sebagai tempat pendidikan.
“Kalau sekolah lebih dikenal, otomatis yang kedua adalah mendapatkan murid. Bukan hanya siswa dari lingkungan sekitar, tetapi kami berharap lingkungan luar juga bisa masuk. Ini bagian dari kontribusi kami melalui kerja sama dengan pihak luar,” pungkasnya.
Dalam pelaksanaan babak penyisihan OSIM kali ini, secara umum kegiatan berlangsung lancar. Pihak sekolah juga melakukan pengaturan teknis untuk mengantisipasi keterbatasan area parkir karena adanya kegiatan lain di sekitar kawasan sekolah.
Pengaturan waktu peserta dilakukan secara bertahap sehingga tidak terjadi penumpukan. Peserta mengikuti mata lomba sesuai jadwal yang telah ditentukan dan kemudian meninggalkan lokasi setelah menyelesaikan tahapannya.
Dengan penyelenggaraan OSIM 2026, YPPI Sutorejo tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kompetisi akademik, tetapi juga menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang pembinaan prestasi siswa, penguatan program klub, sekaligus sarana memperluas kolaborasi dan memperkenalkan YPPI kepada masyarakat pendidikan di Jawa Timur.
(nald)