53 Korban KMP Virgo Transport 8 Masih Dicari, Basarnas Tunggu Kapal Diangkat - Times Indonesia

JAKARTA – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) masih menunggu pengangkatan bangkai KMP Virgo Transport 8 untuk melanjutkan pencarian korban yang diperkirakan masih terjebak di dalam kapal yang tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa.
Kepala Kantor SAR Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana mengatakan, upaya penyelaman di lokasi kapal telah dihentikan. Pencarian terhadap korban yang diduga masih berada di dalam bangkai kapal baru dapat dilanjutkan setelah operasi pengangkatan kapal dilakukan.
"Upaya penyelaman telah dihentikan maka kami masih menunggu kapal bisa diangkat," kata Putu di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa malam.
Menurut Putu, operasi salvage atau pengangkatan bangkai kapal merupakan kewenangan agen atau pemilik kapal, dalam hal ini PT Virgo Karya Shipping. Karena itu, Basarnas berharap operasi tersebut segera direalisasikan sebagaimana rencana yang telah disampaikan pihak perusahaan.
Sementara itu, operasi pencarian di permukaan laut masih dilakukan. Namun, dalam tiga hari terakhir, pencarian belum menemukan korban baru.
Area penyisiran juga terus diperluas mengikuti perkembangan arus laut. Pencarian mencakup perairan Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Barat, termasuk wilayah Laut Jawa.
"Seluruh potensi SAR sudah kami kerahkan melakukan penyisiran yang dimungkinkan adanya jasad korban terbaru arus laut hingga ke bibir pantai," ujar Putu.
KMP Virgo Transport 8 tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada 13 September 2026 saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin.
82 Meninggal, 53 Orang Hilang
Hingga memasuki hari ke-24 operasi SAR, sebanyak 190 dari total 243 penumpang dan awak kapal telah ditemukan. Mereka terdiri atas 108 orang selamat dan 82 orang meninggal dunia. Sementara 53 korban lainnya masih dalam pencarian.
Putu menyebut operasi pencarian dan pertolongan KMP Virgo Transport 8 menjadi operasi SAR terbesar yang dilakukan Kantor SAR Kelas A Banjarmasin dalam lima tahun terakhir, baik dari sisi pengerahan potensi SAR maupun jumlah korban meninggal.
“Berdasarkan catatan kami ini yang terbesar dengan pengerahan potensi SAR terbanyak dan korban meninggal juga paling banyak,” kata Putu.
Lebih dari 1.200 personel gabungan terlibat dalam operasi tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, kementerian/lembaga, pihak swasta, hingga relawan.
Untuk mendukung pencarian di bawah permukaan, sebanyak 63 penyelam dengan kemampuan khusus juga dikerahkan. Sementara armada yang digunakan terdiri atas tujuh pesawat dan helikopter serta 24 kapal besar.
Putu mengatakan perluasan wilayah pencarian dilakukan berdasarkan dinamika kondisi di lapangan. Namun, keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan operasi.
"Komitmen kami bisa terus menemukan sisa korban sebagaimana harapan keluarga, namun tentunya melihat dinamika di lapangan termasuk faktor keselamatan personel yang diutamakan," ujarnya.
Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi. Evaluasi terhadap prosedur keselamatan pelayaran, termasuk bagi kapal-kapal yang melintasi Laut Jawa, dinilai perlu dilakukan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.