Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Bullying Featured Game Kasus Perundungan Spesial Tekno

    Anak Difabel di Surabaya Tewas Diduga Dirundung, Psikolog Tegaskan Bahaya Simulasi Kekerasan dalam Gim - Kompas

    5 min read

     

    SURABAYA, KOMPAS.com – Kasus dugaan perundungan yang berujung kematian seorang anak difabel di Surabaya, Jawa Timur, memicu perhatian publik. Aksi kekerasan ekstrem yang melibatkan pelaku di bawah umur ini dinilai tidak terlepas dari paparan tontonan bermuatan kekerasan, seperti gim online dan konten media sosial, serta tekanan dinamika kelompok.

    Korban berinisial Z (10), seorang anak penyandang down syndrome dan cerebral palsy, ditemukan meninggal dunia pada Senin (12/9/2026) di teras rumahnya. Saat ditemukan, korban mengalami luka parah di bagian leher serta mengeluarkan cairan berbusa dari mulutnya.

    Berdasarkan rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian, dua anak tetangga korban berinisial F (8) dan K (10) terlihat keluar dari rumah Z. Ayah korban mengungkapkan bahwa anaknya sempat mengalami dugaan perundungan serupa sepekan sebelum insiden mematikan tersebut.

    Hingga Senin (19/10/2026), Kepolisian masih terus menyelidiki kasus ini. Kedua anak yang diduga terlibat saat ini belum ditahan dan berada di bawah pendampingan keluarga sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

    BEGINU : Cerita Membuat Orang Belajar Tanpa Digurui

    Baca juga: Kasus Bocah Difabel Meninggal di Surabaya, Mengapa Anak Bisa Melakukan Kekerasan Fatal?

    Psikolog Soroti Dampak Gim Online

    Menanggapi fenomena ini, Psikolog sekaligus Founder Lembaga Pelayanan Psikologi (LPP) Ekshafit Banyuwangi, Fitriatul Masruroh, S.Psi., M.Psi., menyoroti bahwa anak usia di atas 10 tahun sebenarnya belum memiliki pemahaman konsep kematian yang kompleks.

    Fitriatul menekankan bahwa paparan gim online bermuatan kekerasan ekstrem seperti gim pertempuran atau pembantaian dapat mengikis empati anak hingga membentuk persepsi bahwa kekerasan adalah hal lumrah.

    "Saat ini banyak orang tua yang membiarkan anak menggunakan aplikasi atau bermain gim tanpa pengawasan. Padahal gim saat ini, terutama yang menampilkan pembantaian atau aksi kekerasan, sangat berpengaruh. Hal itu bisa membuat anak merasa aksi tersebut asyik seperti di gim. Bisa jadi, saat mencekik temannya, anak tersebut membayangkan sedang bermain gim," ujar Fitriatul saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (20/10/2026).

    Baca juga: Ayah Anak Disabilitas di Surabaya Ancam Bawa Persoalan ke DPR, Usai Perundung Hanya Dibina 6 Bulan

    Dosen Psikologi Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi tersebut menambahkan bahwa kombinasi antara tontonan di media sosial dan gim online secara perlahan membangun ilusi bahwa tindakan membahayakan dapat direplikasi di dunia nyata tanpa memikirkan akibat fatalnya.

    "Karena sering menonton atau memainkan hal seperti itu, akhirnya terbentuk persepsi bahwa kekerasan ekstrem adalah hal yang normal dan tidak apa-apa dilakukan. Ini masuk dalam ranah psikologi sosial," tegasnya.

    Tekanan Kelompok dan Kerentanan Anak Difabel

    Selain media interaktif dan gim online, faktor komunitas atau kelompok pergaulan turut mendorong lahirnya tindakan nekad pada anak. Menurut Fitriatul, dorongan kolektif di dalam kelompok mampu melipatgandakan keberanian individu anak untuk melakukan hal di luar batas.

    "Ketika berada di dalam kelompoknya, anak merasa kuat dan tidak sendirian. Satu anak mungkin tidak cukup berani untuk melakukan aksi tersebut. Namun, adanya dorongan, stimulasi, atau 'kekuatan' dari teman-teman sebayanya membuat aksi itu terjadi. Yang awalnya tidak ada niat membunuh, hanya ingin menyiksa, karena dorongan mayoritas kelompok, akhirnya berujung fatal," paparnya.

    Baca juga: Bocah Disabilitas di Surabaya Meninggal usai Dirundung, Ayah: Anaknya Lebih Suka Bermain di Teras

    Terkait posisi korban Z yang merupakan penyandang disabilitas, Fitriatul menjelaskan bahwa anak difabel memang sangat rentan menjadi sasaran perundungan (bullying) maupun kekerasan fisik.

    "Anak-anak difabel sering dianggap lemah dan tidak bisa melawan. Mereka dianggap berbeda dari teman-teman lainnya, sehingga pelaku merasa jika merundung anak difabel, korban tidak akan memberikan perlawanan," tutur Fitriatul.

    Peran Orang Tua dan Solusi Preventif

    Guna mencegah terulangnya tragedi serupa, Fitriatul mendesak orang tua untuk lebih peka, aktif mengenali pola perilaku, serta menyaring konten media atau gim online yang dimainkan anak.

    Di sisi lain, ia menilai langkah intervensi pencegahan perundungan di tingkat pemerintah dan lembaga pendidikan belum menyentuh akar permasalahan secara berkelanjutan karena minimnya Rencana Tindak Lanjut (RTL).

    Baca juga: Ayah Anak Disabilitas di Surabaya Sebut Anaknya Beberapa Kali Dirundung Sebelum Tewas

    "Seharusnya ada langkah konkret, seperti pembentukan Satgas Anti-perundungan di sekolah dan optimalisasi peran guru Bimbingan Konseling (BK) yang dikolaborasikan dengan orang tua. Pemerintah juga perlu memberikan edukasi melalui media massal secara berkelanjutan agar anak-anak terbiasa melihat solusi dan edukasinya, bukan sekadar menonton kasusnya," pungkasnya.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS