Citra Satelit Berhasil Abadikan Badai Aurora yang Indah di Kutub Utara - Spatial Highlight

Langit malam di Kutub Utara kembali memperlihatkan salah satu pertunjukan alam paling spektakuler. Namun kali ini, keindahan aurora tidak disaksikan dari permukaan Bumi, melainkan direkam langsung dari luar angkasa melalui sebuah satelit yang tengah menjalankan misi untuk memahami hubungan antara Matahari dan planet kita.
Satelit Smile, hasil kolaborasi antara European Space Agency (ESA) dan Chinese Academy of Sciences, berhasil mengabadikan badai aurora yang sedang berlangsung di atas Kutub Utara. Rekaman tersebut menjadi gambar pertama dari kamera ultraviolet (UV) milik Smile yang dipublikasikan, sekaligus memberikan perspektif berbeda mengenai bagaimana badai geomagnetik terbentuk dan menyebar di sekitar Bumi.
Smile diluncurkan pada Mei 2026 dan ditempatkan pada orbit sangat elips mengelilingi Bumi. Misi utamanya adalah mempelajari interaksi antara angin Matahari dan magnetosfer Bumi, termasuk bagaimana aktivitas Matahari dapat memicu badai geomagnetik serta memengaruhi kondisi cuaca antariksa.
Baca juga: Mengenal Badai Geomagnetik yang Sempat Dikhawatirkan BMKG
Salah satu hasil pengamatan terbarunya memperlihatkan auroral substorm yang tampak seperti pusaran besar menyerupai badai di atas wilayah Kutub Utara. Scientific American melaporkan bahwa fenomena tersebut direkam pada 24 Juli, ketika terjadi peningkatan aliran partikel Matahari yang masuk ke lingkungan atmosfer Bumi.
Aurora muncul ketika partikel bermuatan dari Matahari berinteraksi dengan medan magnet Bumi. Sebagian partikel kemudian diarahkan menuju wilayah kutub dan bertabrakan dengan partikel di atmosfer. Interaksi tersebut menghasilkan cahaya yang dapat terlihat sebagai aurora, dengan warna dan pola yang berubah-ubah sesuai kondisi atmosfer serta aktivitas Matahari.
Penggunaan kamera ultraviolet menjadi bagian penting dari pengamatan Smile. Cahaya UV memungkinkan badai aurora dipantau meskipun wilayah tersebut sedang mengalami siang hari, karena pengamatan dalam panjang gelombang ini tidak terlalu terganggu oleh cahaya Matahari yang menyinari permukaan Bumi.
ESA menyebut Smile nantinya dapat mengamati aurora hingga sekitar 45 jam dalam satu rangkaian pengamatan. Data tersebut diharapkan membantu ilmuwan memahami dinamika badai geomagnetik secara lebih menyeluruh, termasuk proses yang terjadi ketika energi dari Matahari berinteraksi dengan lingkungan magnetik Bumi.
Menariknya, instrumen sinar-X Smile sebelumnya juga sempat menangkap sisa cahaya dari sebuah bintang jauh yang mengalami ledakan. Namun ke depannya, instrumen tersebut akan diarahkan untuk mengamati Bumi dan membantu mengungkap lebih banyak tentang lingkungan antariksa di sekitar planet kita.
Dari pusaran cahaya di Kutub Utara hingga partikel yang melaju dari Matahari, pengamatan Smile menunjukkan bahwa ruang angkasa di sekitar Bumi ternyata jauh lebih dinamis daripada yang terlihat dari permukaan. Kali ini, teknologi satelit memberi kita kesempatan untuk menyaksikan salah satu aktivitas tersebut dari sudut pandang yang benar-benar berbeda.
Baca juga: Teleskop Ini Berhasil Menampilkan Permukaan Matahari dengan Detail yang Begitu Indah
Tags:
Share: