Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bank BCA Berita DBS Featured Keuangan Spesial

    DBS Bantah Rumor Merger dengan BCA Saham BBCA Turun 5,78 Persen - Lima Pagi

    7 min read

     

    Bagus Nugroho

    Author

    DBS Bantah Rumor Merger dengan BCA Saham BBCA Turun 5,78 Persen
    DBS Bantah Rumor Merger, Saham BBCA Balik Jatuh 5 Persen. (Foto: BBCA)

    Smallest Font

    Largest Font

    Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah tajam setelah DBS Group membantah kabar penggabungan Bank DBS Indonesia dengan BCA yang beredar di media sosial. Pada perdagangan Kamis (29/10/2026), harga saham BBCA turun 5,78 persen menjadi Rp4.970 per saham hingga pukul 15.05 WIB, dilansir dari IDXChannel.

    Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan koreksi tersebut terjadi sehari setelah saham BCA melonjak 7,65 persen pada Rabu (28/10/2026). Kenaikan sebelumnya berlangsung ketika spekulasi mengenai kemungkinan merger kedua bank menyebar di media sosial.

    Juru bicara DBS membantah kabar tersebut saat dimintai tanggapan mengenai spekulasi yang beredar, sebagaimana dikutip The Straits Times pada Kamis (29/10/2026).

    "Rumor tersebut tidak benar," kata juru bicara DBS.

    Spekulasi yang beredar menyebut Bank DBS Indonesia berpotensi bergabung dengan BCA, dengan BCA tetap menjadi entitas yang bertahan setelah transaksi. Skema yang dibicarakan juga mencakup penerbitan saham baru BBCA kepada pemegang saham DBS Indonesia melalui transaksi inbreng atau penyetoran modal dalam bentuk non-tunai.

    Informasi tersebut turut menyebar melalui media sosial X. Akun Ricky Ho (@rickyho_1989) mengunggah kemungkinan transaksi itu dan menghubungkannya dengan kenaikan saham BBCA pada perdagangan sebelumnya, sembari menegaskan bahwa kabar tersebut masih berupa rumor pasar dan belum dikonfirmasi sebagai aksi korporasi resmi.

    Menurut unggahan Ricky Ho, DBS Bank Ltd menguasai 99 persen saham Bank DBS Indonesia, sedangkan 1 persen sisanya dimiliki BCA. Bank DBS Indonesia merupakan anak usaha DBS Group yang menyediakan layanan perbankan korporasi, usaha kecil dan menengah, konsumer, serta pengelolaan kekayaan.

    Di tengah tekanan harga saham, kinerja keuangan BCA tetap mencatat pertumbuhan. Perseroan membukukan laba bersih Rp45,2 triliun selama Januari-September 2026, meningkat 4,2 persen secara tahunan, berdasarkan data kinerja yang dilaporkan dalam pemberitaan tersebut.

    Pada kuartal III-2026, laba bersih BCA mencapai Rp15,7 triliun, naik 5,6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) juga meningkat 30 basis poin secara kuartalan menjadi 5,6 persen.

    Rasio dana murah atau current account and savings account (CASA) mencapai rekor 84,8 persen per September 2026, sementara biaya kredit bertahan pada level 40 basis poin. Manajemen BCA menaikkan target pertumbuhan kredit tahun ini menjadi 10-11 persen dari sebelumnya 8-10 persen.

    Meski target tersebut meningkat, pertumbuhan kredit BCA secara tahun berjalan hingga September 2026 baru mencapai 7,1 persen. Capaian ini menjadi salah satu indikator yang menyertai penilaian terhadap prospek bisnis perseroan.

    Di sisi lain, CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) menurunkan target harga saham BBCA menjadi Rp5.600 dari sebelumnya Rp8.000. Dalam periode sebulan, saham tersebut telah terkoreksi 21,6 persen, sedangkan penurunannya mencapai 41,3 persen dalam setahun.

    CGSI menilai potensi pertumbuhan kredit dan pemulihan NIM yang melampaui ekspektasi dapat menjadi pendorong bagi saham BBCA. Namun, persaingan dalam penyaluran kredit tetap menjadi risiko yang berpotensi membatasi prospek kinerja perseroan.

    Editors Team

    Daisy Floren

    Daisy Floren

    • Like

      0

      Like

    • Dislike

      0

      Dislike

    • Funny

      0

      Funny

    • Angry

      0

      Angry

    • Sad

      0

      Sad

    • Wow

      0

      Wow

    Komentar
    Additional JS