Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Kasus Kriminal Madiun Ponorogo Samarinda Spesial

    Di Balik Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, 4 Bulan Menetap di Ponorogo Usai Nikah Siri di Samarinda - Kompas

    5 min read

     

    SURABAYA, KOMPAS.com – Keberadaan DH (34) dan putra balitanya berinisial AG (4) yang sempat dilaporkan hilang sejak Minggu (20/9/2026) akhirnya terungkap. Ibu dan anak asal Bogor, Jawa Barat tersebut ditemukan meninggal dunia akibat tindak pidana pembunuhan di Kota Madiun, Jawa Timur.

    Sebelum peristiwa mengenaskan itu terjadi, DH dan anaknya diketahui sempat menghabiskan waktu selama empat bulan menetap di sebuah homestay (penginapan) di Kabupaten Ponorogo bersama suami sirinya, Dwi Bagus Martono (DBM).

    Empat Bulan Menetap di Homestay Ponorogo

    Kuasa hukum keluarga korban, Ikbal Sermaf, membeberkan dinamika tempat tinggal pasangan siri tersebut sebelum aksi pembunuhan terjadi. Setelah melangsungkan pernikahan siri di Kalimantan dan sempat berkunjung ke daerah asal korban di Bogor, keduanya memutuskan berpindah ke Kabupaten Ponorogo.

    Di Ponorogo, korban bersama anak dan pelaku memilih tinggal di sebuah penginapan selama kurang lebih empat bulan, sebelum akhirnya mereka berpindah ke rumah orang tua pelaku di Madiun.

    Cara Baru Nonton Cerita Rakyat : Mikrodrama Verikal - BEGINU

    Baca juga: Awal Perjalanan Ibu dan Balita Asal Bogor ke Madiun Rayakan Ulang Tahun, Berakhir Tragis di Tangan Suami Siri

    "Korban ini tinggal di homestay dari Ponorogo, setelah itu mereka tinggal selama 4 bulan dari peristiwa ini," jelas Ikbal saat ditemui awak media di depan Lobby Gedung Ditreskrimum Mapolda Jatim, Senin (26/10/2026) malam.

    Keberadaan korban di homestay Ponorogo tersebut menjadi salah satu fase perjalanan hidup Dini bersama Dwi Bagus setelah hubungan asmara mereka berjalan selama tiga tahun.

    Awal Pertemuan di Samarinda dan Kehidupan Rumah Tangga

    Jejak hubungan pasangan ini berawal dari Pulau Kalimantan. Kakak korban, Yuni, menceritakan bahwa adiknya pertama kali berkenalan dengan pelaku di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

    "(Bertemu) Di Kalimantan. Adeknya nikah sama orang Kalimantan, jadi tinggal di sana, ketemunya di situ," ujar Yuni saat ditemui di Surabaya.

    Setelah pertemuan tersebut, Dini dan Dwi Bagus memutuskan untuk menikah secara siri di Samarinda. Hubungan pernikahan siri tersebut diperkirakan telah berjalan kurang lebih tiga tahun.

    Baca juga: Komunikasi Terakhir Ibu dan Anak Korban Pembunuhan di Madiun, Sempat Curhat Cekcok dengan Suami Siri

    Mengenai status pelaku yang sudah memiliki istri sah, Ikbal menyebutkan bahwa korban sejak awal sudah mengetahuinya. Meski ada keinginan untuk mengurus pernikahan secara resmi di mata hukum negara, hal tersebut belum sempat terealisasi.

    Selama menetap bersama, termasuk saat 4 bulan berada di homestay Ponorogo, pihak keluarga menilai hubungan keduanya berjalan harmonis tanpa ada tanda-tanda kekerasan.

    "Kalau kita melihat pada indikator dasar, sebenarnya aman-aman saja dan berjalan dengan baik. Pertengkaran hampir jaranglah, kalau kita bisa lihat kan seumumnya orang berpasangan yang mungkin ada perbedaan pendapat, wajar lah kira-kira begitu," ungkap Ikbal.

    Kronologi Kejadian di Madiun dan Motif Cemburu

    Masa tinggal di Ponorogo berakhir ketika mereka bertolak ke Madiun. Di kota inilah, pelaku melancarkan aksi kejahatannya terhadap Dini dan balitanya di dua lokasi berbeda.

    Direktur Ditreskrimum Polda Jatim Kombes Pol Roy Hutton Marulamrata Sihombing menjelaskan bahwa aksi pelaku diawali di sebuah penginapan di wilayah Kota Madiun.

    Baca juga: Dugaan Motif Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Berawal dari Komunikasi Antara Istri Sah Pelaku dan Korban

    "Dari hasil yang kami dapatkan, pelaku melakukan pembunuhan dulu terhadap istri sirinya di sebuah kamar di hotel di Madiun. Kemudian setelah itu dia melakukan lagi terhadap anaknya," kata Roy usai Apel Gelar Pasukan Operasi Patuh Semeru 2026 di depan Gedung Tri Brata Mapolda Jatim, Senin pagi.

    Usai melancarkan aksinya, pelaku membawa jasad kedua korban ke pekarangan rumahnya untuk memusnahkan bukti material sebelum berencana membuangnya ke perairan laut.

    Berdasarkan hasil penyelidikan awal kepolisian, motif tindakan nekat pelaku didasari oleh kecemburuan dan percekcokan asmara.

    "Motifnya kemungkinan masalah dendam ya, emosi ya. Emosi karena memang peristiwa yang melatarbelakangi bahwa pada saat itu si suami ini juga kan punya istri sah. Nah, ada komunikasi dengan istri sah. Kemudian yang perempuannya merasa cemburu. Jadi, akibat dari kecemburuan itu terjadi percekcokan mulut antara si korban dengan si pelaku," tutur Roy.

    Saat ini, tim penyidik dari Polda Jatim masih terus menyisir beberapa tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengumpulkan sisa-sisa barang bukti guna melengkapi berkas perkara.

    Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Istri Sah Tak Tahu Suami Selingkuh Selama 2 Tahun, Dwi Bagus Jalankan Aksi Keji di Belakang Rumah

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS