Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Diabetes Featured Kasus Kesehatan Lifestyle Remaja Spesial

    Diabetes Tipe 2 Kini Intai Remaja, Dokter Ungkap Penyebab dan Gejala nya - detik

    9 min read

     

    KOMPAS.com - Diabetes tipe 2 selama ini identik dengan penyakit yang menyerang orang dewasa atau lanjut usia.

    Namun, anggapan tersebut kini mulai bergeser seiring ditemukannya kasus diabetes tipe 2 pada usia yang semakin muda, termasuk remaja.

    Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan, kasus diabetes tipe 2 kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia remaja, bahkan pada anak usia sekolah menengah pertama (SMP).

    Baca juga: Benarkah Hujan-hujanan Bisa Menyebabkan Anak Sakit? Ini Kata Dokter...

    Dante menyampaikan hal tersebut saat memberikan sambutan dalam acara Canisius Health Expo pada Mei 2026. Menurutnya, perubahan tren ini tidak hanya berkaitan dengan faktor genetik, tetapi juga dipengaruhi perubahan gaya hidup sehari-hari.

    Diabetes Tipe 2 Kini Intai Remaja, Ini Penyebab, Gejala, dan Pencegahannya

    “Dulu diabetes tipe 2 identik dengan usia 40 atau 50 tahun ke atas. Tetapi hari ini dan ini yang membuat saya tidak bisa tenang sebagai seorang dokter kita mulai melihatnya muncul pada remaja, bahkan beberapa kasus pada anak usia SMP,” ungkap Dante.

    Kebiasaan mengonsumsi minuman manis, menjadikan makanan cepat saji sebagai menu sehari-hari, hingga kurang bergerak dan menghabiskan banyak waktu di depan layar menjadi sejumlah faktor yang perlu diwaspadai.

    Baca juga: Sudah Tawarkan Bantuan ke RI, Malaysia Kini Berharap Faktor Cuaca Redakan Kabut Asap

    Minuman manis dan makanan cepat saji meningkatkan risiko

    Dokter Spesialis Gizi Klinik, Igus Ulfa Yaze, mengatakan pola makan dan gaya hidup kurang aktif berperan penting dalam meningkatkan risiko diabetes tipe 2 pada usia muda.

    "Pola makan dan kebiasaan mager atau sedentary lifestyle sangat dominan, bisa lebih dari 70 sampai 80 persen sebagai pemicu diabetes melitus tipe 2 pada usia muda," ujar Igus kepada Kompas.com, Selasa (13/10/2026).

    Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat menyebabkan kelebihan asupan kalori dalam jangka panjang, penumpukan lemak tubuh, serta resistensi insulin. Kondisi ini membuat tubuh semakin sulit mengendalikan kadar gula darah.

    Baca juga: Tren Makan Mentega Langsung, Amankah bagi Tubuh? Ini Risiko Jika Berlebihan

    Igus menjelaskan, kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis dan makanan cepat saji perlu mendapat perhatian serius, terutama jika dilakukan secara rutin.

    Minuman berpemanis atau sugar-sweetened beverages, seperti minuman kemasan, boba, dan soda, mengandung gula tambahan yang dapat menambah asupan kalori harian secara signifikan.

    "Minuman ini tidak memberikan rasa kenyang, tapi memicu lonjakan gula darah dan insulin secara mendadak serta membebani organ hati," jelasnya.

    Baca juga: Cravings Menjelang Haid, Wajarkah dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

    Jika dikonsumsi berlebihan dan terus-menerus, minuman manis dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan penumpukan lemak, termasuk lemak di sekitar organ dalam atau lemak visceral.

    Penumpukan lemak tersebut berkaitan dengan resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel-sel tubuh tidak merespons insulin secara optimal. Padahal, insulin berfungsi membantu glukosa dari darah masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi.

    Selain minuman manis, konsumsi makanan cepat saji yang tinggi kalori, gula, garam, atau lemak tertentu juga dapat memperburuk pola makan apabila tidak diimbangi asupan bergizi seimbang dan aktivitas fisik yang cukup.

    Baca juga: Hasil Uji BRIN: Dampak Vape pada Diabetes Capai 100 Persen, Paru-Paru 92 Persen

    Gejala diabetes pada remaja yang perlu diwaspadai

    Diabetes tipe 2 pada remaja tidak selalu mudah dikenali karena gejalanya dapat muncul secara bertahap. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi tubuh anak.

    Igus mengingatkan adanya tiga gejala klasik diabetes yang dikenal dengan istilah 3P, yaitu:

    • Poliuria: Sering buang air kecil, termasuk pada malam hari.
    • Polidipsia: Merasa haus berlebihan atau terus-menerus ingin minum.
    • Polifagia: Mudah merasa lapar meskipun sudah makan.

    Selain ketiga gejala tersebut, orang tua juga perlu memperhatikan perubahan pada kulit anak.

    Baca juga: Berhenti Konsumsi Gula Tambahan Selama 30 Hari, Ini Manfaatnya untuk Tubuh

    Salah satu tanda yang dapat muncul adalah acanthosis nigricans, yakni kondisi ketika kulit di area lipatan, seperti leher dan ketiak, tampak lebih gelap dan menebal.

    "Munculnya acanthosis nigricans atau lipatan kulit di leher atau ketiak yang tampak menghitam dan menebal seperti daki yang susah hilang," kata Igus.

    Tanda lain yang perlu diperhatikan meliputi tubuh mudah lelah, sering mengantuk, atau mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

    Meski demikian, gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang menderita diabetes. Jika anak menunjukkan tanda yang mencurigakan, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis agar dapat dilakukan pemeriksaan yang sesuai.

    Baca juga: Jangan Sepelekan Perut Buncit, Lemak Perut Bisa Tingkatkan Risiko Diabetes dan Jantung

    Berat badan berlebih jadi risiko

    Ada alasan ilmiah mengapa kombinasi berat badan berlebih dan jarang bergerak menjadi kombinasi berbahaya.

    Lemak tubuh yang berlebih, terutama yang menumpuk di perut, akan melepaskan zat pemicu peradangan. Zat ini membuat sel-sel tubuh menjadi "kebal" terhadap insulin, kondisi yang disebut resistensi insulin.

    Di sisi lain, otot adalah organ utama penyerap glukosa dalam tubuh.

    "Kalau jarang digerakkan atau dilatih, otot tidak menyerap gula darah secara efisien. Akhirnya pankreas bekerja terlalu keras sampai akhirnya kelelahan," jelas Dr. Igus.

    Ketika pankreas lelah dan tidak mampu lagi memproduksi insulin yang cukup, gula darah akan terus tinggi dan diabetes pun terjadi.

    Baca juga: 5 Gejala Diabetes yang Muncul di Malam dan Pagi Hari Menurut Dokter, Apa Saja?

    Langkah pencegahan diabetes pada remaja

    Kabar baiknya, diabetes tipe 2 pada remaja sangat bisa dicegah dengan perbaikan gaya hidup. Dr. Igus membagikan empat langkah praktis yang bisa diterapkan keluarga:

    1. Atur ulang isi piring

    Terapkan konsep "Isi Piringku" dari Kementerian Kesehatan. Setengah piring diisi sayur dan buah, seperempat karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau kentang, dan seperempat sisanya protein seperti ikan, ayam, telur, atau tempe.

    2. Stop kalori cair

    Jadikan air putih sebagai minuman utama. Mulai batasi ketat konsumsi minuman kemasan berpemanis, boba, dan soda yang merupakan sumber kalori cair.

    Baca juga: Anak Terus Minta Makan? Ini yang Perlu Diperhatikan Orangtua

    3. Bergerak minimal 60 menit sehari

    Targetkan minimal 60 menit per hari aktivitas fisik dengan intensitas sedang sampai berat. Tidak harus olahraga berat, bisa gabungan kardio seperti jalan cepat, lari, bersepeda, dan latihan beban sederhana.

    4. Batasi layar dan perbaiki tidur

    Batasi screen time dan cukupi kebutuhan tidur 6-8 jam setiap malam. Tidur yang cukup sangat penting untuk menjaga regulasi hormon metabolisme.

    Dengan mengenali tanda awal dan memperbaiki gaya hidup sejak dini, lonjakan diabetes pada remaja bisa dicegah sebelum terlambat.

    Baca juga: Dedi Mulyadi Soroti Kecanduan Gawai pada Anak, Sebut Bisa Picu Diabetes hingga Gagal Ginjal

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS