Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Kisah Inspirasi Kisah Inspiratif Pendidikan Spesial

    Diteriaki Pemulung Saat Kumpulkan Sampah, Guru SMK Bekasi Kini Raup Omzet Rp 20 Juta - Kompas

    13 min read

     



    BEKASI, KOMPAS.com - Tumpukan botol plastik bekas minuman di lingkungan sekolah dan rumahnya menjadi pemandangan yang meresahkan Sugito (48).

    Namun, alih-alih membiarkan sampah tersebut terus menumpuk, guru teknik pemesinan SMKN 1 Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, itu justru melihatnya sebagai peluang untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat.

    Kondisi tersebut mendorong Sugito mencari cara agar botol-botol plastik bekas tidak sekadar menumpuk dan berakhir menjadi sampah.

    "Awalnya dari keresahan saya melihat adanya sampah yang bertumpuk, khususnya botol-botol plastik bekas minuman kemasan. Kalau setiap istirahat satu orang membuang satu botol, pasti setiap hari sampah-sampah botol plastik itu menggunung," kata Sugito saat ditemui Kompas.com di kediamannya di Tambun Utara, Jumat (30/10/2026).

    AS Siapkan Perang Babak 2 Vs Iran: Timteng Jadi "Taruhan", Bumerang bagi Trump, Teheran Siap Beraksi

    Baca juga: KKP Ingin Perluas Konservasi Laut 3 Kali Lipat, tetapi Sampah Plastik Harus Dikurangi

    Berbekal keahliannya di bidang teknik, Sugito kemudian mengembangkan metode daur ulang untuk mengubah botol plastik bekas menjadi sapu bernilai ekonomi melalui Workshop D-Usap atau Daur Ulang Sampah Botol Plastik.

    Melalui workshop tersebut, Sugito tidak hanya memproduksi sapu, tetapi juga mengembangkan alat pengolahan sederhana dan memberikan pelatihan kepada masyarakat agar dapat mengolah sampah plastik secara mandiri.

    Riset Selama Tiga Bulan

    Dari berbagai jenis sampah yang dihasilkan sekolah, Sugito memilih fokus mengolah botol plastik. Menurut dia, material tersebut sulit terurai dan jumlahnya cukup banyak dibandingkan sampah kertas maupun kardus.

    Bersama rekan dan siswa, Sugito mulai melakukan berbagai percobaan pada 2023. Ia mempelajari literatur ilmiah sekaligus membandingkan sejumlah metode pengolahan sampah plastik yang ditemukan melalui media sosial dan konten dari luar negeri.

    Proses menemukan metode yang tepat ternyata tidak mudah. Selama hampir tiga bulan, ia melakukan berbagai percobaan, membongkar pasang alat, hingga mengulang proses produksi karena hasilnya belum sesuai harapan.

    Baca juga: Sampah Plastik Laut Bakal Diolah Jadi Bahan Bakar, KKP Bidik Kepulauan Seribu

    "Jadi 3 bulan itu kita trial-error, termasuk ada beberapa alat yang kita bongkar pasang, kemudian hasil produknya yang kita ulangi kembali," ujarnya.

    Setelah melalui serangkaian percobaan, Sugito akhirnya menemukan metode pengolahan botol plastik yang kemudian dinamai D-Usap.

    Inovasi tersebut mulai mendapat pengakuan pada 2024. D-Usap bahkan meraih Juara 2 dalam lomba produk ramah lingkungan yang diselenggarakan Dinas UMKM Kabupaten Bekasi.

    Baca juga: Sehari Raup Rp 700.000, Mengintip Seluk Beluk Fotografer Sunmori di Senayan

    Meski mulai mengembangkan D-Usap sejak 2023 dan memperoleh penghargaan setahun kemudian, Sugito baru mempresentasikan kegiatannya kepada warga di lingkungan tempat tinggalnya pada 2025.

    Seorang peserta saat sedang mengikuti pelatihan pengolahan botol plastik bekas di Workshop D-Usap, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jumat (30/10/2026).

    Lihat Foto

    Sempat Dicibir Warga

    Di balik inovasi yang kini mulai dikenal masyarakat, perjalanan Sugito tidak selalu mendapat sambutan positif. Ketika pertama kali mengumpulkan sampah plastik untuk bahan percobaan, ia mengaku sempat mendapat cibiran dari warga sekitar.

    Saat itu, Sugito harus mengangkut sampah plastik dalam jumlah besar untuk kebutuhan eksperimennya. Aktivitas tersebut membuat sebagian orang belum memahami apa yang sedang ia kerjakan.

    "Kalau pertamanya tuh sampai diteriakin pemulung-pemulung," kata Sugito.

    Baca juga: Langkah Inovatif Warga Bekasi, Olah Sampah Plastik Tak Bernilai Jadi Bahan Bakar

    Namun, perlahan pandangan masyarakat mulai berubah. Setelah inovasinya dikenal melalui media dan media sosial, warga justru mulai datang membawa botol plastik bekas untuk diolah.

    Bagi Sugito, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses ketika seseorang mencoba memperkenalkan sesuatu yang baru.

    "Memang yang namanya pionir atau membuat sesuatu yang baru, sabarnya sama tantangannya lebih besar," ujarnya.

    Baca juga: Di Tengah Tren Sepatu Lari Jutaan Rupiah, Tak Perlu Minder untuk Berlari

    Olahan Botol Plastik Jadi Sapu

    Sugito mengatakan, metode D-Usap dikembangkan dengan konsep pengolahan sampah dari sumbernya. Ia ingin masyarakat bisa mengolah botol plastik di lingkungan masing-masing tanpa harus menyediakan tempat yang luas atau mengeluarkan biaya besar.

    Workshop D-Usap yang dikelolanya hanya membutuhkan area sekitar 3 x 4 meter. Satu set alat yang dikembangkan Sugito juga ditawarkan dengan harga Rp 1,3 juta.

    Ada tiga komponen utama dalam metode tersebut. Pertama, blower untuk menghaluskan permukaan. Kedua, alat pemotong untuk mengubah botol plastik menjadi pita. Ketiga, alat pembentuk yang mengolah pita plastik menjadi bentuk seperti lidi.

    Baca juga: Air Waduk Rawa Badung Tercemar, Ikan yang Dipancing Aman Dimakan?

    Ketiga alat tersebut digunakan untuk mengubah botol plastik bekas menjadi bahan pembuat sapu.

    "Saat ini kita ada tiga produk unggulan. Sapu taman dijual dengan harga Rp 50.000 per buah, sedangkan sapu tebah dibanderol Rp 25.000 per buah," kata Sugito.

    Menurut dia, biaya pengadaan alat yang relatif terjangkau menjadi salah satu keunggulan metode tersebut. Masyarakat yang ingin memulai pengolahan sampah plastik tidak harus memiliki fasilitas besar seperti industri daur ulang pada umumnya.

    Baca juga: Dapat Dana Rp 100 Juta per RW, Warga Bekasi Beli Mesin Pirolisis untuk Olah Sampah Plastik

    Selain menyediakan alat, Sugito juga membuka pelatihan bagi masyarakat yang ingin mempelajari proses pengolahan botol plastik.

    "Untuk peserta personal, biaya pelatihan sebesar Rp 150.000. Kalau pelatihan untuk lembaga dengan jumlah peserta lebih dari 100 orang dikenakan biaya Rp 1 juta, praktiknya dilakukan oleh perwakilan peserta," jelasnya.

    Sugito menjelaskan, dalam pelatihan untuk individu atau komunitas, peserta dapat mempelajari seluruh proses, mulai dari memilah sampah, mengolah botol plastik, hingga membawa pulang produk yang sudah jadi. Kegiatan tersebut biasanya berlangsung sekitar lima jam.

    Baca juga: Dukung Swasembada Pangan Presiden Prabowo, Nelayan Fakfak Untung Tiga Kali Lipat dari Olahan Ikan

    Sugito juga memberikan video pembelajaran kepada pembeli alat agar mereka dapat mempelajari proses pemasangan hingga produksi secara mandiri.

    Seorang peserta saat sedang mengikuti pelatihan pengolahan botol plastik bekas di Workshop D-Usap, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jumat (30/10/2026).

    Lihat Foto

    Punya 50 Mitra di Berbagai Daerah

    Seiring waktu, kegiatan D-Usap tidak lagi hanya berpusat di lingkungan sekolah. Ketika ruang kelas mulai digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, Sugito memindahkan aktivitas workshop ke rumah dengan menggunakan modal pribadi.

    Ia kemudian mengembangkan tiga kegiatan utama, yakni pelatihan dan edukasi, pengadaan alat daur ulang, serta penjualan produk hasil olahan botol plastik.

    Baca juga: Tak Perlu Modal Besar, Guru SMK Ini Punya Alat Sulap Botol Plastik Bekas Jadi Sapu

    Saat ini, Workshop D-Usap telah memiliki sekitar 50 titik mitra di berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah mitra bahkan kembali membeli alat setelah sebelumnya menggunakan satu set untuk memulai produksi.

    Menurut Sugito, pembelian ulang atau repeat order tersebut menunjukkan bahwa mitra mulai mengembangkan kegiatan produksinya.

    Ia juga menerima informasi dari salah satu mitra di Jawa Timur yang mendapat pesanan produk dalam jumlah tertentu dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

    Baca juga: Surabaya Jadi Percontohan Nasional Program Indonesia-UEA Cegah Sampah Plastik ke Laut

    "Untuk saat ini omzet yang saya dapatkan dari berjualan dan workshop kisaran Rp 10 juta hingga Rp 20 juta (per bulan)," ungkapnya.

    Meski telah berkembang menjadi kegiatan usaha, Sugito mengaku tidak merasa tersaingi ketika orang lain mempelajari metode yang ia kembangkan dan mulai memproduksi sapu sendiri.

    "Justru saya akan merasa terbantu dengan adanya mereka yang belajar, karena kan visi saya itu bagaimana mengatasi masalah lingkungan, bukan mendapatkan income pribadi saja gitu kan," kata Sugito.

    Baca juga: Nebulae Cymbal, Simbal Buatan Bandung yang Berawal dari Krisis Moneter 1997

    Karena itu, ia membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin belajar. Melalui akun media sosial TikTok, Sugito mengumumkan bahwa workshop tersebut terbuka setiap Sabtu pukul 13.00 WIB.

    Pesertanya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, pengelola bank sampah, komunitas lingkungan, hingga sekolah.

    Ia juga pernah memenuhi undangan edukasi dan pelatihan ke sejumlah tempat, termasuk Cengkareng, Jakarta, Bogor, dan beberapa perusahaan. Bahkan, ada peserta dari Kalimantan yang lebih dulu mengikuti pelatihan melalui Zoom sebelum mengirimkan karyawannya untuk belajar langsung.

    Baca juga: Di Tengah Debu dan Asap Karhutla, Perajin Mie Sagu Sungai Tohor Berjuang Naik Kelas

    Berharap D-Usap Digunakan di Setiap Kelurahan

    Bagi Sugito, mengembangkan D-Usap bukan semata-mata tentang memperbesar usaha dan memperoleh keuntungan. Ia ingin metode pengolahan botol plastik tersebut bisa diterapkan lebih luas, terutama di lingkungan rumah tangga dan permukiman.

    Namun, ia mengakui masih membutuhkan dukungan lebih luas, terutama dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu memperluas edukasi dan pelatihan kepada masyarakat.

    "Terutama kan pemerintah itu kan punya akses yang luas. Mungkin bisa dengan mengadakan edukasi secara masif ke daerah, kelompok yang memang membutuhkan alatnya atau membutuhkan teknik dan metode pengolahan sampahnya dengan baik," ujarnya.

    Sugito juga berharap produsen minuman kemasan dapat ikut terlibat dalam upaya penanganan sampah botol plastik. Menurut dia, persoalan sampah membutuhkan kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan perusahaan yang memproduksi kemasan.

    Di tengah upayanya memperluas D-Usap, Sugito memiliki target besar. Ia ingin inovasi tersebut semakin dikenal dan digunakan di berbagai daerah di Indonesia.

    Baca juga: Kurangi Sampah Plastik, PAM Jaya Akan Produksi Air Minum Kemasan Tetra Pak

    "Kalau perlu satu kelurahan satu alat D-Usap atau satu sekolah satu D-Usap," katanya.

    Selain memperluas penggunaan alat, Sugito juga memiliki target ekonomi dari pengembangan usahanya. Dalam lima tahun ke depan, ia menargetkan omzet sebesar Rp 1 miliar per bulan.

    Namun, lebih dari sekadar mengejar omzet, Sugito berharap semakin banyak masyarakat yang mengubah cara pandang terhadap sampah.

    Baca juga: Rela Tinggalkan Karier Korporasi, Kisah Fainta Pilih Hidupkan Kembali Mata Air yang Mati

    Baginya, botol plastik bekas bukan lagi sekadar benda yang harus dibuang. Dengan pengetahuan, kemauan, dan pengolahan yang tepat, sampah tersebut dapat menjadi produk bermanfaat sekaligus membuka peluang ekonomi.

    "Kita harus merubah paradigma bahwa sampah itu adalah sesuatu yang bermanfaat, asal kita mau dan asal kita tahu cara mengolahnya," pungkasnya.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS