Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Alvin Tedjo Berita Featured Spesial

    Pesan Alvin Tedjo untuk Anak Muda Indonesia: Harus Terlibat Politik jika Ingin Perubahan - Kompas

    9 min read



    MISSISSAUGA, KOMPAS.com - Wali Kota Terpilih Mississauga, Kanada, Alvin Tedjo, mengajak anak muda Indonesia untuk aktif terlibat dalam politik jika ingin membawa perubahan bagi masyarakat dan negaranya.

    Politikus keturunan Indonesia berusia 43 tahun itu menilai politik memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sehari-hari, mulai dari pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, hingga harga rumah.

    Karena itu, menurut Alvin, anak muda tidak seharusnya menjauhi politik hanya karena menganggapnya rumit atau penuh persoalan.

    Baca juga: Pengaruh Darah Indonesia dalam Kehidupan Alvin Tedjo, dari Rendang hingga Kebijakan di Kanada

    Pesan tersebut disampaikan Alvin dalam wawancara eksklusif dengan KOMPAS.com, Kamis (29/10/2026), setelah memenangi Pemilihan Wali Kota Mississauga pada Senin (26/10/2026).

    Pesan Wali Kota Mississauga Alvin Tedjo Keturunan Indonesia: Anak Muda Harus Melek Politik

    "Jika kamu ingin mengubah komunitasmu, jika kamu ingin mengubah kotamu, jika kamu ingin mengubah negaramu menjadi lebih baik, maka kamu harus terlibat dalam politik," kata Alvin.

    Ia mengakui bahwa sebagian masyarakat tidak menyukai politik karena menganggapnya sebagai sesuatu yang rumit dan sulit dipahami.

    Namun, Alvin mengingatkan bahwa keputusan politik menentukan banyak aspek kehidupan masyarakat.

    "Ada orang-orang yang tidak menyukai politik. Mereka bilang politik itu rumit, mereka tidak memahaminya, atau alasan lainnya," ujarnya.

    "Saya mengatakan bahwa politik itu penting karena memengaruhi lalu lintas, layanan kesehatan, pendidikan, kualitas hidup, dan kepolisian. Semuanya," lanjut Alvin.

    Jika anak muda tidak terlibat, orang lain akan mengambil keputusan

    Alvin menekankan bahwa keterlibatan anak muda dalam politik tidak harus selalu dimulai dengan mencalonkan diri sebagai pejabat publik.

    Menggunakan hak pilih dalam pemilu juga merupakan salah satu bentuk partisipasi yang penting.

    Menurutnya, apabila anak muda tidak ikut menentukan arah politik, keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka akan diambil oleh kelompok masyarakat lainnya.

    "Jika kamu tidak terlibat, orang lain yang akan mengambil keputusan untukmu," kata Alvin.

    Ia mencontohkan situasi ketika hanya kelompok masyarakat berusia lanjut yang aktif memberikan suara dalam pemilu.

    Dalam kondisi tersebut, perhatian para politikus berpotensi lebih banyak tertuju pada persoalan yang dianggap penting oleh pemilih berusia lanjut.

    Sebaliknya, kebutuhan generasi muda bisa kurang mendapat perhatian apabila mereka tidak menggunakan hak pilihnya.

    "Jika anak muda tidak memilih, orang-orang tidak akan merasa bahwa persoalan anak muda itu penting," ujarnya.

    Alvin mencontohkan persoalan perumahan terjangkau dan ketersediaan lapangan pekerjaan.

    Menurutnya, kedua persoalan tersebut sangat memengaruhi masa depan generasi muda.

    "Akibatnya, kamu tidak mendapatkan perumahan yang terjangkau bagi anak muda. Kamu tidak mendapatkan pekerjaan bagi anak muda," katanya.

    Karena itu, Alvin menilai anak muda perlu terlibat dalam proses politik agar kebutuhan dan kepentingan mereka turut menjadi perhatian pemerintah.

    Alvin Tedjo

    Lihat Foto

    Alvin terjun ke politik karena khawatir masa depan anak-anaknya

    Perhatian Alvin terhadap persoalan generasi muda juga berkaitan dengan pengalaman pribadinya sebagai ayah dari tiga anak.

    Ia memiliki anak berusia 11, 13, dan 15 tahun.

    Alvin mengatakan salah satu alasan dirinya terjun ke politik adalah keinginan memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat, terutama bagi generasi berikutnya.

    Menurutnya, biaya hidup di Mississauga semakin tinggi sehingga anak muda menghadapi kesulitan untuk membangun kehidupan secara mandiri.

    Ia membandingkan kondisi tersebut dengan pengalaman kedua orangtuanya yang pindah dari Indonesia ke Kanada pada 1977.

    Pada masa itu, menurut Alvin, keluarga pendatang masih memiliki kesempatan untuk bekerja, membeli rumah, membuka usaha, dan membesarkan anak.

    Namun, situasi tersebut kini semakin sulit karena harga properti terus meningkat.

    Alvin menyebut harga rata-rata rumah di Mississauga mencapai sekitar satu juta dollar Kanada.

    Ia khawatir anak-anaknya kelak tidak akan mampu membeli rumah sendiri apabila harga properti terus meningkat.

    "Artinya, anak-anak saya tidak akan mampu tinggal di sini jika mereka tidak tinggal bersama saya, karena semuanya sangat mahal," kata Alvin.

    Kondisi tersebut mendorong Alvin menjadikan keterjangkauan biaya hidup sebagai salah satu perhatian utama dalam kampanyenya.

    Ia menjanjikan pembekuan kenaikan pajak properti hunian selama dua tahun dan berencana mencari cara untuk meningkatkan ketersediaan rumah.

    Alvin juga ingin meningkatkan keamanan kota setelah melihat persoalan kriminalitas yang berkembang sejak pandemi Covid-19.

    Menurutnya, berbagai persoalan tersebut menjadi alasan mengapa kebijakan politik perlu memperhatikan kehidupan masyarakat, termasuk kebutuhan generasi muda.

    Alvin pernah diminta tidak mencalonkan diri sebagai wali kota

    Selain mengajak anak muda terlibat dalam politik, Alvin berpesan agar mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi keraguan dari orang lain.

    Ia mengatakan pengalaman tersebut pernah dialaminya ketika memutuskan maju dalam Pemilihan Wali Kota Mississauga.

    Saat itu, banyak orang meragukan peluangnya karena ia harus menghadapi dua tokoh politik berpengalaman.

    Keduanya adalah wali kota petahana Carolyn Parrish dan mantan wali kota Bonnie Crombie.

    "Banyak orang mengatakan kepada saya agar tidak mencalonkan diri sebagai wali kota," ujar Alvin.

    Menurutnya, sejumlah orang menilai dirinya akan kesulitan mengalahkan dua kandidat yang sebelumnya pernah memimpin kota tersebut.

    "Mereka bilang, 'Jangan lakukan itu. Kamu akan kalah,'" katanya.

    Namun, Alvin tetap mengikuti pemilihan.

    Ia mengaku tidak pernah menempati posisi pertama dalam berbagai survei yang dilakukan selama masa kampanye.

    Pada awalnya, Alvin hanya berada di posisi keempat sebelum perlahan naik ke posisi ketiga dan kedua.

    Meski demikian, ia akhirnya memenangi pemilihan pada 26 Oktober 2026.

    Kemenangan tersebut sekaligus mengantarkannya menjadi wali kota setelah sebelumnya menjabat sebagai anggota Dewan Kota Mississauga sejak 2022.

    Alvin mengatakan pengalaman itu mengajarkannya untuk tidak membiarkan keraguan orang lain menghalangi keinginan membawa perubahan.

    "Jangan biarkan orang lain mengatakan bahwa kamu tidak bisa melakukannya," kata Alvin.

    "Kamu harus bekerja keras dan memberikan harapan kepada masyarakat bahwa kamu bisa melakukan sesuatu dengan lebih baik dan bahwa kamu bisa menang," lanjutnya.

    Berharap anak muda Indonesia berani membawa perubahan

    Alvin merupakan putra pasangan keturunan Tionghoa-Indonesia yang menetap di Kanada sejak 1977.

    Ayahnya berasal dari Padang, Sumatera Barat, sedangkan ibunya berasal dari Jakarta.

    Meski lahir dan besar di Kanada, Alvin masih memiliki hubungan erat dengan Indonesia.

    Sejak kecil, ia beberapa kali mengunjungi Indonesia untuk bertemu keluarga besarnya.

    Kunjungan terakhirnya berlangsung pada 2024, ketika ia mendatangi Jakarta, Bali, dan Labuan Bajo bersama keluarga.

    Setelah memenangkan pemilihan wali kota, Alvin mengaku menerima banyak ucapan selamat dan dukungan dari masyarakat Indonesia.

    Ia pun menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian tersebut.

    "Saya bangga," kata Alvin ketika berbicara mengenai latar belakang keluarganya yang berasal dari Indonesia.

    Baca juga: Menang Pilwalkot Kanada, Alvin Tedjo Ingin Cari Kota di Indonesia untuk Jadi Sister City

    Kepada anak muda Indonesia, Alvin berharap pengalamannya dapat menjadi dorongan untuk berani mengambil peran dalam masyarakat.

    Menurutnya, perubahan tidak akan terjadi apabila masyarakat hanya menunggu orang lain mengambil keputusan.

    Anak muda perlu berpartisipasi agar persoalan yang mereka hadapi, termasuk pendidikan, pekerjaan, dan perumahan, turut diperhitungkan dalam kebijakan pemerintah.

    "Itulah pesan saya," ujar Alvin.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS