KBPP Polri Kecam Penyerangan Truk Dalmas di Bandung, Tiga Polisi Dilaporkan Terluka - Tribunnews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/truk-dalmas-dirusak1.jpg)
Ringkasan Berita:
- KBPP Polri kecam kericuhan di Bandung pada Selasa malam (20/10/2026).
- Sebuah truk Dalmas Polri dilaporkan diserang batu, petasan, kembang api, dan bom molotov hingga tiga polisi terluka.
- Bimo Suryono dorong penegakan hukum profesional melalui deteksi dini, evaluasi pengamanan demonstrasi, dan pengusutan pihak yang bertanggung jawab atas dugaan aksi kekerasan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketua Umum Keluarga Besar Putra Putri (KBPP) Polri, AH Bimo Suryono, mengecam dugaan aksi kekerasan dalam kericuhan demonstrasi di kawasan Dago–Sulanjana, Kota Bandung, Selasa (20/10/2026) malam.
Insiden tersebut dilaporkan menyebabkan tiga anggota kepolisian terluka setelah sebuah truk Dalmas Polri diserang menggunakan batu, petasan, kembang api, hingga bom molotov.
Bimo menegaskan, kebebasan menyampaikan pendapat merupakan hak konstitusional yang harus dilindungi.

Namun, hak tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan, merusak fasilitas umum, ataupun menyerang aparat keamanan.
“Demokrasi harus dihormati, tetapi tindakan anarkis tidak boleh dibiarkan menjadi pola yang berulang. Negara harus hadir melalui penegakan hukum yang tegas, terukur, dan profesional, bukan tindakan represif,” kata Bimo kepada wartawan di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Menurut Bimo, peristiwa tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bagi aparat keamanan dalam mengantisipasi potensi kericuhan saat demonstrasi berlangsung.
Ia menilai, pencegahan harus dilakukan sejak dini agar penyampaian aspirasi masyarakat tidak berujung pada kekerasan yang mengancam keamanan dan ketertiban umum.
Ia pun mendorong Polri memperkuat deteksi dini, mengevaluasi pola pengamanan aksi, mengumpulkan bukti, serta mengusut pihak-pihak yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut.
Koordinasi antara kepolisian, pemerintah daerah, dan penyelenggara demonstrasi juga dinilai penting untuk mengidentifikasi potensi gangguan keamanan sekaligus memastikan masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi secara damai.
Bimo mengingatkan bahwa ketegasan aparat harus tetap berada dalam koridor hukum dan prinsip proporsionalitas. Menurutnya, setiap tindakan pengamanan harus memiliki dasar hukum yang jelas serta dapat dipertanggungjawabkan.
“Tegas bukan berarti keras. Terukur berarti setiap tindakan aparat harus berdasarkan hukum, proporsional, dan dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai anarkisme dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dalam kehidupan demokrasi,” ujarnya.
Di sisi lain, Bimo meminta agar penegakan hukum tidak dilakukan secara generalisasi terhadap seluruh peserta demonstrasi.
Ia menekankan pentingnya membedakan masyarakat yang menyampaikan aspirasi secara damai dengan individu yang diduga melakukan tindak pidana.
Menurutnya, proses hukum harus didasarkan pada bukti yang memadai sehingga penindakan dapat dilakukan secara adil dan tepat sasaran.
Bimo juga menyampaikan keprihatinan atas jatuhnya korban dari kalangan kepolisian. Ia berharap anggota yang terluka memperoleh penanganan yang layak dan dapat segera pulih.
Ia mengajak masyarakat, aparat keamanan, serta seluruh elemen terkait untuk bersama-sama menjaga ruang demokrasi agar tetap terbuka tanpa membiarkan kekerasan merusak ketertiban umum.
“Negara tidak boleh kalah oleh kekerasan, tetapi negara juga tidak boleh kehilangan prinsip demokrasi dan supremasi hukum,” kata Bimo.
Kronologi
Kapolrestabes Bandung Kombes Dedi Supriyadi mengatakan, penyerangan terjadi sekitar pukul 21.27 WIB ketika sejumlah anggota polisi melintas menggunakan truk Dalmas.
Kendaraan tersebut disebut tengah digunakan untuk mendukung patroli dan pergantian sif personel.
Sekelompok orang yang belum diketahui identitasnya tiba-tiba menyerang kendaraan polisi dengan melempari batu, kembang api, petasan, hingga bom molotov.
"Tiba-tiba diserang, kemudian dengan melempari batu, melempari kembang api dan petasan, sama bom molotov," ujar Dedi.
Selain menyerang truk Dalmas, kelompok tersebut dilaporkan membakar pembatas jalan atau water barrier. Insiden itu mengganggu arus lalu lintas di sekitar persimpangan Sulanjana-Cikapayang.
Tiga Polisi Terluka
Dedi mengatakan, anggota polisi yang berada di dalam truk berusaha keluar untuk menyelamatkan diri saat penyerangan berlangsung. Tiga personel mengalami luka di bagian kepala dan tangan.
"Anggota keluar dari truk, ada tiga orang yang kena di kepalanya dan tangannya. Anggota sudah diobati di rumah sakit, sudah mendapat penanganan medis," ujarnya.
Ketiga polisi tersebut telah mendapat perawatan di rumah sakit. Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai tingkat keparahan luka yang mereka alami.
Penyerangan terhadap truk Dalmas terjadi beberapa jam setelah demonstrasi memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Bandung.
Pada Selasa siang, dua aksi unjuk rasa berlangsung di sejumlah lokasi, termasuk Jalan Asia Afrika-Braga dan di depan Gedung DPRD Jawa Barat.
Aksi di depan Gedung DPRD Jawa Barat berlangsung kondusif. Setelah bertemu dengan perwakilan Komisi I DPRD Jawa Barat, massa membubarkan diri sekitar pukul 17.46 WIB.
Sementara itu, aksi di kawasan Asia Afrika dan Braga sempat diwarnai penutupan jalan dan pembakaran ban.
Situasi kembali memanas di persimpangan Sulanjana-Cikapayang sekitar pukul 21.27 WIB ketika sekelompok orang menyerang truk Dalmas.
Polisi belum dapat memastikan apakah kelompok penyerang merupakan bagian dari massa yang sebelumnya mengikuti demonstrasi atau kelompok lain.
Menurut Dedi, massa yang menggelar aksi di lokasi sebelumnya telah membubarkan diri sebelum penyerangan terjadi.
Polisi Selidiki Identitas Pelaku
Polrestabes Bandung bersama Polda Jawa Barat menyelidiki penyerangan tersebut untuk mengidentifikasi orang-orang yang diduga terlibat.
Dedi mengatakan, penyelidikan akan dilakukan untuk mengungkap rangkaian kejadian dan pihak yang bertanggung jawab atas penyerangan serta perusakan kendaraan.
"Intinya kasus ini akan kita lidik secara saintifik dan investigasi," ucap Dedi.
Setelah kejadian, situasi di persimpangan Sulanjana-Cikapayang berangsur kondusif. Polisi kembali melakukan patroli di sejumlah titik untuk mengantisipasi gangguan keamanan.
"Saat ini kondusif. Kita sudah mulai melakukan patroli, kemudian tentunya kita patroli di titik-titik tersebut," kata Dedi.
Petugas juga menyiagakan kendaraan taktis Barracuda, mobil pemadam kebakaran, dan ambulans di sekitar lokasi kejadian.
Hingga berita ini ditulis, polisi masih mendalami identitas kelompok penyerang dan keterkaitannya dengan demonstrasi yang berlangsung di Bandung pada hari yang sama.