Kisah Yulianto, Jukir Solo yang Sisihkan Rp 500.000 Sebulan demi Mimpi Naik Haji - Kompas
SOLO, KOMPAS.com - Pekerjaan sebagai juru parkir (jukir) kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian orang.
Namun, dari profesi yang telah digelutinya hampir 28 tahun itu, Yulianto mampu menyisihkan uang demi mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji.
Jukir yang sehari-hari berjaga di Soto Gading 1, Kota Solo, Jawa Tengah, itu rutin menabung Rp 500.000 setiap bulan.
Setelah mendaftar haji pada Februari 2013 dengan membayar Rp 25 juta secara tunai, ia dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 2027.
BEGINU : Cerita Membuat Orang Belajar Tanpa Digurui
Keinginan Yulianto berhaji tumbuh setelah beberapa kali mengantar anggota keluarganya ke Tanah Suci.
Sejak awal 2000-an, ia mulai mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari penghasilannya sebagai jukir.
“Celeng-celengan Mas nabung dikit-dikit akhirnya saya bisa buat daftar haji,” kata Yulianto saat ditemui Kompas.com di Soto Gading 1, Senin (5/10/2026).
Ia semula berharap bisa berangkat pada 2024. Namun, pandemi Covid-19 yang menyebabkan pemberangkatan jemaah haji terhenti selama dua tahun membuat jadwal keberangkatannya mundur.
Baca juga: Aktif Membuat Konten, Jukir Solo Ini Disebut “Duta Parkir” oleh Warganet hingga Wali Kota
Menabung dari Penghasilan sebagai Jukir
Yulianto telah bekerja sebagai jukir di Soto Gading sejak 1998, tepat setelah lulus SMA.
Selama hampir 28 tahun menjalani pekerjaan itu, ia berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menyisihkan uang untuk biaya haji.
Ia mengaku harus konsisten menyimpan sebagian penghasilannya setiap bulan. Besar pendapatan yang diperoleh tidak selalu sama karena bergantung pada ramai atau sepinya pengunjung.
“Ya kadang ya waktu ramai ya alhamdulillah, kalau agak sepi ya disyukuri aja Mas,” tuturnya.
Yulianto juga merasakan perubahan tarif parkir selama puluhan tahun bekerja.
Baca juga: 15 Tahun Jadi Jukir, Lansia Perempuan 63 Tahun Bertahan dengan Rp 30.000 Sehari
Ketika pertama kali menjadi jukir, tarif mobil hanya Rp 300 dan sepeda motor Rp 150.
Kini, tarif parkir mobil mencapai Rp 3.000, sedangkan sepeda motor Rp 2.000.
Penghasilannya selama menjadi jukir juga mampu membiayai pendidikan kedua anaknya.
Anak sulungnya telah lulus kuliah dan bekerja, sementara anak keduanya masuk SMA pada tahun lalu.
“Alhamdulillah merasakan dari pahitnya sampai alhamdulillah sekarang udah bisa dirasakan enaknya,” ucap Yulianto.
Baca juga: Soal Kelebihan Jukir dan Keluhan Pelayanan, Dishub Semarang Sebut Ada 843 Titik Parkir Berizin
Berharap Jukir Lebih Sejahtera
Selain menabung untuk haji dan memenuhi kebutuhan keluarga, Yulianto menilai pelayanan kepada pelanggan harus menjadi perhatian utama jukir.
Ia mengingatkan rekan seprofesinya agar tidak meminta uang parkir secara berlebihan atau memaksa pengendara membayar lebih.
Menurut dia, sikap sopan dan pelayanan yang baik dapat membuat pelanggan merasa nyaman.
Jika ada pengendara yang memberikan uang lebih, ia menganggapnya sebagai rezeki tambahan, bukan sesuatu yang harus diminta.
“Yang penting kan berusaha gimana caranya customer tidak merasa dikecewakan. Yang penting pelayanan aja Mas gitu,” kata Yulianto.
Ia juga berharap kesejahteraan jukir di Kota Solo mendapat perhatian lebih dari pemerintah.
Baca juga: Jukir Solo Masih Bingung Penerapan Parkir QRIS, Dishub Buka Suara
Sebagai orang yang kerap ditemui pengunjung ketika tiba di suatu tempat, jukir dinilai turut memberikan kesan awal bagi tamu yang datang.
Yulianto mengatakan dirinya sudah tercakup dalam BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.
Namun, ia masih berharap Pemerintah Kota Solo membantu memenuhi kebutuhan seragam jukir.
Menurut dia, sebagian jukir masih harus membeli seragam menggunakan uang sendiri.
Ia berharap pemerintah dapat menyediakan seragam bagi seluruh juru parkir, baik dengan membagikannya langsung maupun melalui skema pembayaran bertahap.
“Yang penting dapat seragam semua biar kelihatan parkir di Kota Solo itu rapi gitu Mas,” imbuh Yulianto.
Baca juga: Sosiolog: Lansia dan Disabilitas Jadi Jukir Gejala Ketimpangan Kesempatan Kerja
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
