Kualitas Udara Palangka Raya Masih Berbahaya, Jarak Pandang Memburuk hingga 400 Meter - Kompas
PALANGKA RAYA, KOMPAS.com - Kualitas udara Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, masih berada dalam kategori Berbahaya.
Jarak pandang juga terbatas hingga 400 meter.
Kabut asap juga memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).
Berdasarkan data terkini dari Dashboard Karhutla Kota Palangka Raya per tanggal 21 Oktober 2026, kualitas udara di wilayah ini masih berada dalam kategori berbahaya bagi kesehatan seluruh orang.
Palangka Raya Dikepung Kabut Asap, Kualitas Udara Berbahaya
Baca juga: Kronologi Tagihan Makan Rp 530.200 di Solo, Warga Sragen Lapor Polisi, Restoran Buka Suara
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pukul 07.00 WIB, konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat berada di angka 664 µg/m³ dengan status berbahaya, sementara model CAMS menunjukkan angka 200 µg/m³ dengan kategori sangat tidak sehat.
Kondisi kabut asap tebal ini juga berdampak langsung pada jarak pandang di area sekitar Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut yang memburuk hingga mencapai 400 meter pada pukul 06.30 WIB.
Dari aspek sebaran wilayah, satelit NASA-MODIS/TERRA-AQUA mendeteksi sebanyak 3.098 titik panas di seluruh wilayah Kalimantan Tengah per pukul 03:29 WIB.
Baca juga: Pesan Anak SD di Samarinda untuk Presiden Prabowo soal Kabut Asap: Coba Dilihat Kalimantan
94 titik panas di Palangka Raya

Lihat Foto
Khusus di wilayah Kota Palangka Raya, terdeteksi sebanyak 94 titik panas yang tersebar di beberapa kecamatan, meliputi Rakumpit, Sabangau, Bukit Batu, Pahandut, dan Jekan Raya.
Dampak buruk dari paparan kabut asap ini turut memicu peningkatan kasus gangguan kesehatan masyarakat.
Berdasarkan laporan harian per 20 Oktober 2026, tercatat ada 97 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang dilaporkan dari delapan puskesmas di Kota Palangka Raya.
Angka kasus harian tertinggi tercatat di wilayah Puskesmas Jekan Raya sebanyak 23 kasus dan Puskesmas Menteng sebanyak 22 kasus.
Rekomendasi kesehatan
Mengingat kondisi udara yang berbahaya ini, warga diimbau untuk mematuhi rekomendasi kesehatan, seperti:
- Tetap berada di dalam rumah dengan menutup rapat pintu dan jendela
- Mengenakan masker N95 atau KN95 yang rapat jika terpaksa harus keluar ruangan
- Menjaga kualitas udara dalam ruangan menggunakan pembersih udara
- Memperbanyak konsumsi air putih serta makanan bergizi,
- Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala gangguan pernapasan seperti batuk, sesak napas, nyeri dada, pusing, hingga iritasi mata.
Baca juga: Kualitas Udara Palangka Raya Berbahaya, Mau Berapa Nyawa Lagi?
Membatasi aktivitas luar ruangan
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Pauzi, mengingatkan seluruh warga untuk membatasi aktivitas luar ruangan demi menghindari dampak buruk kabut asap.
"Melihat kondisi kualitas udara yang masih berada pada tingkat berbahaya ini, kami mengimbau seluruh warga Palangka Raya untuk sebaiknya tetap berada di dalam ruangan. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dihentikan sementara," ujar Heri Pauzi.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai gejala gangguan pernapasan dan segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat jika kondisi memburuk.
"Apabila masyarakat mengalami gejala sesak napas atau gangguan kesehatan akibat paparan asap pekat, kami meminta agar segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis secara cepat," pungkasnya.
Baca juga: Kisah Shiddiq, Pemuda Pontianak yang Bikin Nozzle untuk Padamkan Api di Lahan Gambut
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Asap Karhutla Masih Menghantui, "Ujian" Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
