Misteri Motif Penikaman Dua ABK di Tengah Samudera Hindia - detik
Sukabumi -
Keributan maut yang menewaskan dua anak buah kapal (ABK) di atas kapal penangkap cakalang KM Cahaya Mutiara menyisakan tanda tanya besar.
Terduga pelaku berinisial P berdalih tindakannya menusuk kedua korban merupakan upaya membela diri karena terdesak dalam duel dua lawan satu saat diserang menggunakan pisau dan rantai besi.
Namun demikian, motif di balik penyerangan tersebut masih teka-teki lantaran pelaku belum membeberkan secara jelas apa yang memicu kedua korban nekat menyerangnya di atas kapal.
Sepanjang proses olah TKP di atas kapal yang bersandar di Teluk Palabuhanratu, P yang berkepala plontos dan mengenakan kaus abu-abu bertuliskan 'Life Short' itu lebih banyak tertunduk dengan kedua tangan terborgol ke belakang.
Keterangan yang keluar dari mulutnya pun sangat terbatas dan bernada terbata-bata. Ia hanya sempat menunjuk sebuah pintu bilik kamar tidur sempit di lorong kapal ketika penyidik Sat Reskrim menanyakan titik mula perselisihan.
"Pertama di bilik ini, ya," ucap P singkat di depan pintu kayu bercat biru tersebut.
Setelah itu, langkah kakinya digiring petugas melintasi lorong geladak menuju bagian buritan atau dek belakang kapal. Di samping tumpukan tali dan tiang kapal yang kini telah dibentangkan garis polisi, pria tersebut duduk setengah jongkok untuk memperagakan momen saat dirinya terdesak.
Kalimatnya kembali terucap sepotong-sepotong saat menggambarkan pergulatan jarak dekat yang merenggut dua nyawa rekannya. Ia mengaku tak berkutik setelah tubuhnya ditubruk dan lehernya dicekik, hingga kondisi pikirannya gelap.
"Ngayun... jatuh. Tapi diseruduk begini, Kang. Dicekik... pisaunya... Nah, begitu lepas, nggak tahu ke kapal, Pak. Udah gelap... nge-blank," lirih P di hadapan penyidik yang mencatat setiap pengakuannya.
Di luar pengakuan singkat soal pergulatan fisik itu, P sama sekali belum menceritakan akar persoalan maupun duduk perkara yang memantik kemarahan kedua korban hingga mendatangi biliknya dengan senjata.
Klaim situasi membela diri justru lebih banyak diungkap oleh Kuswandi, rekan sesama ABK yang menyaksikan langsung awal mula keributan saat kapal berlayar di Samudera Hindia.
Kuswandi menceritakan peristiwa itu pecah pada pagi hari ketika para awak tengah sibuk menarik jaring dan menyortir ikan. Saat itu, korban pertama bernama Faizal mendatangi pelaku sambil menenteng sebilah senjata tajam.
"Pas itu saya lihat korban, si Faizal itu bawa sajam. Saya sempat megangi, sempat mau melerai, tapi dia malah meronta. Malah ngayunin pisaunya ke arah saya, jadi saya menghindar daripada saya yang kena juga," beber Kuswandi di atas KM Cahaya Mutiara.
Bahkan, menurut Kuswandi, Faizal sempat meneriakkan ancaman pembunuhan terhadap pelaku sebelum merangsek mendekat. "Sambil itu dia berkata, 'Pokoknya hari ini dia harus mati'. Ke si pelaku ini," lanjutnya.
Situasi kian mencekam ketika korban kedua, Feri Irawan Siregar, menyusul ke arah buritan sembari menenteng rantai besi. Upaya Kuswandi untuk menahan langkah Feri pun tak membuahkan hasil.
"Feri ambil rantai lewat jaring ngelewatin saya. Saya sempat nahan, 'Udahlah Fer kamu nggak usah ikut-ikutan kayak gitu, biarin aja'. Tapi dia malah meronta lagi dan ke belakang. Pas saya mau ke belakang, ternyata sudah kejadian. Korban meninggal itu Feri Irawan Siregar sama Faizal. Kalau yang nusuk itu Pandu. Pas kejadian itu dua lawan satu," papar Kuswandi.
Kasat Reskrim Polres Sukabumi Iptu Dudi Suharyana membenarkan adanya peristiwa maut tersebut dan memastikan pihaknya tengah mengumpulkan seluruh alat bukti serta mendalami pengakuan pelaku dan saksi-saksi.
"Benar dua orang korban dilaporkan meninggal dunia dan saat ini satu orang terduga pelaku sudah berhasil kami amankan. Anggota masih berada di lokasi untuk melakukan olah TKP, sterilisasi area, sekaligus memeriksa saksi-saksi secara mendalam yang mayoritas merupakan ABK KM Cahaya Mutiara," jelas Dudi.
Sementara itu, Kasat Polairud Polres Sukabumi AKP Dadi menerangkan peristiwa bentrokan berdarah itu berlangsung di wilayah perairan Samudera Hindia pada akhir 30 September lalu, sebelum akhirnya KM Cahaya Mutiara diarahkan merapat ke Teluk Palabuhanratu untuk penjemputan dan evakuasi jasad korban ke RSUD Palabuhanratu.
"Peristiwa keributan ini terjadi di perairan Samudera Hindia, sementara titik penjemputan dan evakuasi berada di Teluk Palabuhanratu. Rencananya jasad kedua korban akan langsung dievakuasi ke RSUD Palabuhanratu. Untuk penanganan TKP di laut lepas, kami berkoordinasi lebih lanjut dengan Krimum Polda Jabar," pungkas Dadi.
Hingga kini, geladak KM Cahaya Mutiara telah dipasangi pita kuning garis polisi oleh Tim Inafis guna menjaga keaslian tempat kejadian perkara selama proses penyelidikan berlangsung.
(sya/dir)
