Pekerja Konstruksi Jepang Bisa Raup Rp79,8 Juta Sebulan, Hadapi Jam Kerja Panjang dan Risiko Cedera - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Pekerja konstruksi Jepang bernama samaran Matsumoto mengaku pernah memperoleh 700.000 yen atau sekitar Rp79,8 juta dalam sebulan berkat bonus dan tunjangan
- Namun, ia menghadapi jam kerja panjang, penugasan jauh dari rumah, serta risiko kecelakaan
- Ia juga menyebut empat pemagang Indonesia bekerja di perusahaannya dengan upah harian lebih rendah
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO — Penghasilan tinggi di sektor konstruksi Jepang tidak selalu mencerminkan kondisi kerja sehari-hari.
Seorang pekerja konstruksi Jepang mengaku pernah memperoleh hingga 700.000 yen atau sekitar Rp79,8 juta dalam sebulan ketika bonus dan tunjangan dibayarkan bersamaan.
Namun, penghasilan tersebut diiringi jam kerja panjang, penugasan jauh dari rumah, serta risiko kecelakaan kerja.
Dalam laporan Shueisha Online, Sabtu (17/10/2026), pria berusia 30 tahun yang menggunakan nama samaran Matsumoto itu juga mengungkapkan bahwa sekitar empat peserta pemagangan teknis asal Indonesia bekerja di perusahaan yang sama.
Menurut Matsumoto, upah harian para pemagang Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan upah yang diterimanya.
Meski demikian, ia tidak mengetahui secara terperinci penyebab perbedaan tersebut, termasuk kemungkinan adanya perbedaan pengalaman maupun tanggung jawab pekerjaan.
Keterangan itu belum cukup untuk menyimpulkan adanya pelanggaran hukum pengupahan di Jepang.
Baca juga: Danau Toyoni di Jepang, Danau Hati Tersembunyi di Hutan Erimo, Perjalanannya Penuh Tantangan
Penghasilan Bisa Tembus Rp79,8 Juta
Matsumoto bekerja memasang panel dinding luar bangunan, termasuk di sejumlah pabrik besar di wilayah Kansai.
Ia mendapatkan pekerjaan tersebut melalui rekomendasi seorang teman, meski saat itu belum memiliki pengalaman maupun kualifikasi khusus.
Pada awal bekerja, ia menerima upah harian sekitar 13.000–14.000 yen atau setara Rp1,48 juta–Rp1,60 juta.
Dengan demikian, penghasilan bersih bulanannya berkisar 260.000–280.000 yen atau sekitar Rp29,6 juta–Rp31,9 juta.
Meski penghasilannya tergolong besar, Matsumoto hanya memiliki satu hari libur dalam sepekan, yakni Minggu.
Perusahaan tempatnya bekerja memberikan bonus tiga kali dalam setahun.
Ketika bonus tersebut bertepatan dengan pembayaran tunjangan perjalanan dinas, penghasilan bulanannya bisa meningkat hingga 600.000–700.000 yen atau sekitar Rp68,4 juta–Rp79,8 juta.
Namun, angka tersebut bukan penghasilan rutin setiap bulan karena bergantung pada pembayaran bonus dan tunjangan.
Rutinitas kerja Matsumoto dimulai dengan berkumpul di perusahaan sekitar pukul 06.00.
Setelah itu, ia berangkat ke lokasi proyek dan menjalankan pekerjaan hingga sekitar pukul 17.00.
Ia biasanya baru kembali ke perusahaan setelah pukul 18.00. Rutinitas tersebut menggambarkan panjangnya waktu yang harus dialokasikan untuk pekerjaan, termasuk perjalanan menuju dan dari lokasi proyek.
Baca juga: Jun Yamada Kritik Kebijakan Ekonomi Jepang, Soroti Pertumbuhan Indonesia dan Proyeksi 2040
Matsumoto juga pernah ditugaskan mengerjakan pembangunan pabrik semikonduktor di daerah lain.
Penugasan yang awalnya diperkirakan berlangsung selama tiga bulan ternyata berlanjut hingga sekitar enam bulan.
Selama penugasan tersebut, ia memperoleh tambahan 2.000 yen atau sekitar Rp228.000 per hari.
Selain itu, perusahaan memberikan uang makan malam sebesar 2.000 yen atau sekitar Rp228.000 sehari.
Tambahan pendapatan itu membantu meningkatkan penghasilannya selama bekerja di luar daerah.
Namun, penugasan dalam waktu lama juga membuatnya harus menjalani pekerjaan jauh dari rumah.

Mengaku Pernah Mengalami Perlakuan Fisik
Di balik penghasilan yang tinggi, Matsumoto mengungkapkan pengalaman tidak menyenangkan selama bekerja di sektor konstruksi.
Ia mengaku pernah mendapat makian dan mengalami perlakuan fisik di tempat kerja.
Dalam salah satu kejadian, panel dinding sepanjang sekitar 1,8 meter jatuh dan mengenai tangannya hingga berdarah.
Meski mengalami cedera, ia mengaku tidak pergi ke rumah sakit dan memilih kembali bekerja pada keesokan harinya.
Matsumoto mengatakan dirinya merasa tidak nyaman untuk membicarakan penanganan kecelakaan kerja karena khawatir hal tersebut akan memengaruhi posisinya di lokasi proyek.
Pengalaman tersebut merupakan kesaksian pribadi Matsumoto.
Informasi yang tersedia dalam laporan yang dirujuk tidak memuat tanggapan perusahaan terkait dugaan perlakuan fisik maupun penanganan insiden kecelakaan tersebut.
Matsumoto juga menyoroti tantangan dalam mempertahankan pekerja muda di sektor konstruksi.
Berdasarkan pengalamannya, pekerja di lokasi proyek didominasi kelompok usia 40–50 tahun, sedangkan pekerja berusia 20-an kerap tidak bertahan lama.
Meski demikian, ia menilai perusahaan tempatnya bekerja masih menyediakan sejumlah fasilitas, termasuk bonus, tunjangan penugasan, dan uang makan.
Pengalamannya menunjukkan bahwa sektor konstruksi Jepang menawarkan peluang memperoleh penghasilan besar, tetapi pekerjaan tersebut juga memiliki tantangan yang tidak ringan.
Bagi pekerja lokal maupun peserta pemagangan teknis asal Indonesia, besarnya penghasilan perlu dinilai bersama jam kerja, keselamatan kerja, perlakuan di lingkungan kerja, serta kejelasan komponen upah dan tunjangan.
Dengan demikian, nominal pendapatan yang tinggi tidak serta-merta menggambarkan keseluruhan kondisi kerja yang harus dihadapi para pekerja konstruksi di Jepang.
Catatan penyuntingan:
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pekerja-Indonesia1111.jpg)