Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Spesial

    Perubahan Iklim Memperlambat Rotasi Bumi Lebih Cepat - Lensa Hukum

    4 min read

     

    Perubahan Iklim Memperlambat Rotasi Bumi Lebih Cepat

    Ilustrasi Bumi. (Foto: Getty Images/photovideostock)

    LensaHukum.co.id, Pencairan es di kutub dan pegunungan akibat pemanasan global turut mengubah kecepatan putaran Bumi. Penelitian ilmuwan Universitas Wina dan ETH Zurich menunjukkan bahwa laju pertambahan panjang hari akibat perubahan iklim saat ini belum pernah terjadi dalam 3,6 juta tahun terakhir, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

    Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Journal of Geophysical Research: Solid Earth. Penelitian dipimpin oleh Mostafa Kiani Shahvandi dari Universitas Wina bersama Benedikt Soja, profesor geodesi antariksa di ETH Zurich.

    Perubahan distribusi massa di permukaan planet menjadi salah satu faktor yang memengaruhi rotasi Bumi. Ketika es di wilayah kutub dan gletser pegunungan mencair, airnya mengalir menuju lautan sehingga permukaan laut meningkat dan sebaran massa air berubah.

    Peristiwa tersebut dapat dipahami melalui analogi seorang atlet seluncur es yang sedang berputar. Saat kedua tangannya direntangkan menjauhi tubuh, kecepatan putarannya menurun. Sebaliknya, ketika tangan didekatkan ke tubuh, putarannya menjadi lebih cepat.

    Prinsip serupa berlaku pada Bumi. Perpindahan massa air dari kawasan kutub menuju lautan yang lebih dekat dengan khatulistiwa mengubah distribusi massa planet, memperlambat rotasinya, dan membuat satu hari berlangsung sedikit lebih lama.

    Mostafa menjelaskan bahwa salah satu pertanyaan utama penelitian tersebut adalah apakah perubahan iklim pada masa lampau pernah memperpanjang hari dengan laju yang setara dengan kondisi saat ini.

    "Yang masih belum jelas adalah apakah ada periode sebelumnya ketika iklim meningkatkan panjang hari dengan kecepatan yang sama cepatnya," ujar Mostafa seperti dikutip dari laman ETH Zurich.

    Penelitian sebelumnya mencatat bahwa perubahan iklim meningkatkan panjang hari dengan laju sekitar 1,33 milidetik per abad selama periode 2000-2020. Angka tersebut menggambarkan laju perubahan yang dihitung dalam rentang satu abad, bukan penambahan waktu sebesar 1,33 milidetik pada setiap hari.

    Besarnya perubahan tersebut masih sangat kecil sehingga tidak dapat dirasakan secara langsung oleh manusia. Namun, perubahan dalam skala milidetik tetap menjadi perhatian karena rotasi Bumi berperan penting dalam sistem yang membutuhkan pengukuran waktu dan orientasi secara akurat.

    Rekonstruksi perubahan panjang hari selama 3,6 juta tahun

    Untuk menilai apakah laju perubahan saat ini pernah terjadi sebelumnya, para peneliti menyusun rekonstruksi perubahan permukaan laut selama 3,6 juta tahun terakhir. Rekonstruksi ini menjadi dasar untuk memperkirakan perubahan panjang hari pada berbagai periode dalam sejarah Bumi.

    Salah satu sumber data yang digunakan adalah fosil foraminifera bentik, yaitu organisme laut bersel satu. Komposisi kimia cangkangnya menyimpan petunjuk mengenai kondisi laut pada masa lampau, termasuk perubahan permukaan air laut.

    Informasi tersebut kemudian diolah untuk memperkirakan hubungan antara perubahan permukaan laut dan panjang hari. Tim peneliti juga menggunakan model difusi probabilistik berbasis fisika untuk memperhitungkan ketidakpastian dalam data paleoklimatologi.

    Melalui pendekatan tersebut, perubahan pada masa lampau dapat dibandingkan dengan laju yang tercatat pada era modern. Hasil analisis memperlihatkan bahwa peningkatan panjang hari selama periode modern menonjol dibandingkan perubahan sepanjang 3,6 juta tahun terakhir.

    Benedikt Soja menekankan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia berkaitan erat dengan cepatnya peningkatan panjang hari yang diamati saat ini.

    "Peningkatan pesat panjang hari ini menunjukkan bahwa laju perubahan iklim modern belum pernah terjadi sebelumnya setidaknya sejak akhir Pliosen, 3,6 juta tahun yang lalu. Peningkatan pesat panjang hari saat ini terutama dapat dikaitkan dengan pengaruh manusia," kata Benedikt Soja, Profesor Geodesi Antariksa di ETH Zurich.

    Meski demikian, rekonstruksi tersebut mengidentifikasi satu periode sekitar 2 juta tahun lalu ketika laju perubahan panjang hari hampir menyamai kondisi sekarang. Di luar periode itu, penelitian tidak menemukan laju perubahan setinggi yang terjadi pada 2000-2020.

    Dampak terhadap navigasi antariksa

    Perubahan panjang hari dalam hitungan milidetik tidak serta-merta memengaruhi aktivitas sehari-hari manusia. Akan tetapi, pergeseran kecil pada rotasi Bumi dapat menjadi faktor penting bagi teknologi yang memerlukan informasi waktu, posisi, dan orientasi dengan presisi tinggi.

    Navigasi antariksa termasuk bidang yang membutuhkan data rotasi Bumi secara akurat. Informasi tersebut digunakan untuk mendukung perhitungan posisi dan lintasan objek di ruang angkasa, sehingga perubahan rotasi perlu diperhitungkan dalam sistem navigasi yang sangat presisi.

    Soja memperkirakan pengaruh perubahan iklim terhadap panjang hari akan semakin besar menjelang akhir abad ke-21. Dalam kondisi tersebut, dampaknya diperkirakan dapat melampaui pengaruh Bulan terhadap panjang hari.

    "Pada akhir abad ke- 21 , perubahan iklim diperkirakan akan memengaruhi panjang hari bahkan lebih kuat daripada Bulan. Meskipun perubahannya hanya dalam hitungan milidetik, hal itu dapat menyebabkan masalah di banyak bidang, misalnya dalam navigasi ruang angkasa yang presisi, yang membutuhkan informasi akurat tentang rotasi Bumi," ujar Soja.

    Komentar
    Additional JS