Sejarah Baru, Populasi Lansia di China Kini Lampaui Anak-anak - Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4293816/original/055356300_1673949385-AP23017228268648.jpg)
Liputan6.com, Beijing - Untuk pertama kalinya, keluarga di China kini menanggung lebih banyak anggota keluarga lanjut usia dibandingkan anak-anak. Pemerintah China melaporkan, rasio penduduk lanjut usia yang menjadi tanggungan terhadap penduduk usia kerja meningkat menjadi 23 persen pada 2025, melampaui rasio anak-anak yang tercatat sebesar 22 persen.
Dikutip dari BBC, Kamis (29/10/2026), data resmi yang dirilis pekan lalu itu menandai perubahan demografi penting di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut. Penyusutan jumlah penduduk usia kerja menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi perekonomian China sekaligus pertumbuhan ekonomi global.
Sejumlah analis menilai perubahan tersebut dapat membawa konsekuensi besar bagi keluarga, sistem pensiun, hingga belanja layanan kesehatan. China kini menghadapi populasi yang semakin menua, sementara pemerintah berupaya mendorong generasi muda untuk menikah dan memiliki lebih banyak anak.
Data terbaru Biro Statistik Nasional China menunjukkan, jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas telah melampaui 223 juta jiwa, atau hampir 16 persen dari total populasi negara tersebut. Sementara itu, jumlah anak berusia 14 tahun ke bawah tercatat sekitar 213 juta jiwa.
Tidak ada komentar resmi yang diterbitkan bersamaan dengan statistik tersebut. Namun, media pemerintah China, Global Times, menyebut peralihan menuju masyarakat yang mengalami penuaan demografis moderat dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk besarnya kelompok penduduk yang lahir pada masa lalu dan meningkatnya harapan hidup.
Perubahan ini berpotensi menambah tekanan terhadap sistem pensiun, layanan kesehatan, dan perawatan jangka panjang. Di sisi lain, kondisi tersebut juga membuka peluang bagi pertumbuhan silver economy, yakni kegiatan ekonomi yang melayani kebutuhan konsumen lanjut usia.
Global Times mengutip seorang peneliti yang menyebut perubahan itu sebagai cerminan tren historis dalam perkembangan demografi, bukan fenomena jangka pendek.
Belanja Pensiun dan Kesehatan Berpotensi Meningkat
Profesor Stuart Gietel-Basten dari Hong Kong University of Science and Technology menilai perubahan rasio tersebut memiliki arti simbolis. Kondisi ini dapat mengindikasikan pergeseran belanja publik, dari kebutuhan keluarga dan sekolah menuju pembiayaan pensiun serta layanan kesehatan.
Sementara itu, Mu Zheng, dosen sosiologi di National University of Singapore, mengatakan penuaan penduduk juga dapat menjadi tantangan bagi ambisi China. Kondisi tersebut berpotensi membatasi pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.
Penuaan penduduk China dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk urbanisasi yang pesat serta dampak kebijakan satu anak yang kontroversial. Kebijakan tersebut diterapkan sejak 1980 hingga akhir 2015 untuk mengendalikan pertumbuhan populasi yang tinggi.
Pemerintah China memperkirakan kebijakan satu anak telah mencegah sekitar 400 juta kelahiran sejak diberlakukan. Namun, angka tersebut masih diperdebatkan.
Menurut Mu, kebijakan itu berperan besar dalam menyusutkan populasi China. Dampaknya, jumlah penduduk muda yang dapat menopang semakin banyak anggota keluarga lanjut usia menjadi lebih sedikit.
Meski pemerintah telah melonggarkan pembatasan jumlah anak dalam keluarga, Beijing masih kesulitan mendorong pasangan untuk memiliki lebih banyak anak. Tingkat kelahiran di China bahkan telah mencapai titik terendah dalam sejarah.
Mu menyebut perubahan peran gender, meningkatnya biaya hidup, serta tingkat pendidikan yang lebih tinggi juga berkontribusi terhadap tekanan pada angka kelahiran.