Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Makan Bergizi Gratis Ngawi Spesial SPPG

    SPPG di Ngawi Andalkan Bahan Lokal dan Terima Masukan soal Menu MBG - Kompas

    7 min read


    NGAWI, KOMPAS.com – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Geneng Klitik 2 di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, membuka ruang bagi sekolah untuk menyampaikan kritik dan menentukan waktu pengiriman Makan Bergizi Gratis (MBG).

    Masukan dari penerima manfaat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan dan kualitas makanan yang disajikan.

    Mengelola dapur MBG untuk ribuan penerima manfaat setiap hari bukan perkara mudah. Terlebih, di tengah merebaknya kasus keracunan yang dilaporkan menimpa puluhan ribu penerima manfaat di berbagai daerah, SPPG dituntut semakin cermat dalam menyiapkan dan mendistribusikan makanan.

    Baca juga: PJJ Imbas Karhutla Mamasa, 34.098 Siswa di Wilayah Aman Tetap Terima MBG

    Di SPPG Geneng Klitik 2, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, sebanyak 44 pekerja menyiapkan makanan sejak pukul 02.00 WIB hingga menjelang subuh. Para pekerja dibagi menjadi dua sif untuk menyiapkan makanan dalam dua tahap pengiriman.

    Bertambah, Korban Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo Capai 566 Orang

    Pembagian ini dilakukan karena salah satu sekolah penerima manfaat, yakni SMAN 2 Ngawi, meminta makanan dikirim menjelang jam makan siang.

    Koordinator SPPG Geneng Klitik 2, Agung, mengatakan mereka memberi keleluasaan kepada sekolah untuk menentukan waktu pengiriman MBG. Dari sejumlah titik distribusi, hanya SMAN 2 Ngawi yang meminta makanan dikirim menjelang siang.

    “Biasanya kalau di sekolah lain kami kirim pagi. Tetapi permintaan pihak SMAN 2 Ngawi meminta agar dikirim siang sekitar jam 11.00 WIB,” ungkap Agung, Kamis (15/10/2026).

    Selain menyesuaikan waktu pengiriman, Agung mengatakan, pihaknya terbuka terhadap kritik dan masukan dari penerima manfaat. Masukan dapat disampaikan melalui media sosial maupun grup WhatsApp. Menurut dia, setiap kritik menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan dan kualitas makanan.

    Agung menambahkan, pihaknya juga menerima permintaan terkait menu makanan dari penerima manfaat. Namun, permintaan tersebut tetap harus disesuaikan dengan ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN).

    Baca juga: SPPG di Pati Ditutup Sementara Usai 55 Santri Diduga Keracunan MBG, Sampel Makanan Diuji

    “Jadi anak-anak itu permintaan menunya apa kita atur. Dari ahli gizi yang merumuskan untuk membuat menu beserta chef-nya. Kami mengikuti permintaan mereka. Apa yang diperbolehkan BGN kami jalankan. Kalau tidak boleh BGN ya kita tidak lakukan untuk permintaan tersebut. Jadi penerima manfaat langsung bisa tanya jawab dengan ahli gizinya,” jelas Agung.

    Mengutamakan bahan pangan lokal

    Dalam pengadaan bahan pangan, Agung mengatakan, SPPG Geneng Klitik 2 mengutamakan pedagang lokal dengan tetap memperhatikan kualitas bahan. Salah satu tempat yang menjadi tujuan belanja adalah Pasar Besar Ngawi.

    Sementara itu, untuk kebutuhan sayuran, pihaknya juga membeli langsung dari wilayah Magetan. Menurut Agung, ketersediaan sayuran segar di pasar-pasar Ngawi masih terbatas, sedangkan dapurnya membutuhkan sayuran dalam jumlah besar setiap hari.

    “Kami memilih menyerap bahan lokal dengan memberdayakan pedagang Ngawi. Biasanya di pedagang kami membeli telur, ayam hingga daging lokal. Untuk membeli bahan-bahan makanan itu kami membeli di pasar tradisional terdekat,” jelas Agung.

    Untuk menjaga kelayakan bahan pangan, Agung menugaskan petugas pengendalian mutu atau quality control (QC) untuk memeriksa bahan yang akan diolah. Jika bahan yang datang tidak sesuai dengan persyaratan, ahli gizi akan menolaknya. Petugas kemudian harus mencari bahan pengganti yang memenuhi standar.

    Baca juga: Selain Memberlakukan PJJ Imbas Karhutla, Sekolah di Medan juga Stop Sementara Pasokan MBG

    “Setiap hari kami juga melakukan uji sampel. Sampel yang dimasak hari itu kami simpan 24 jam untuk mengantisipasi bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan,” tutur Agung.

    Setelah proses memasak selesai, seluruh bagian dapur juga diwajibkan membersihkan ruangan masing-masing. Langkah ini dilakukan agar ruangan tetap bersih sebelum kembali digunakan untuk menyiapkan bumbu, memasak, dan menyajikan makanan.

    Agung memastikan dapurnya telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang diterbitkan Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi sebelum mulai beroperasi. Ia mengatakan, petugas Dinkes Ngawi juga datang untuk memeriksa kebersihan dan kesesuaian fasilitas dapur dengan standar yang berlaku.

    Selama sembilan bulan beroperasi, Agung mengaku belum menemukan kasus keracunan maupun persoalan makanan basi dari dapurnya. Ia juga mengatakan, anggaran dari BGN selama ini diterima tepat waktu sehingga dapurnya dapat terus menyediakan MBG bagi 2.500 penerima manfaat.

    Agung turut menyoroti pengelolaan sisa makanan. Menurut dia, jumlah nasi yang tersisa relatif sedikit dibandingkan dengan bahan yang dimasak setiap hari.

    Dari sekitar 1,5 kuintal beras yang dimasak, dapur tersebut menyisakan sekitar 16–20 kilogram nasi setiap hari. Agar tidak terbuang, nasi tersebut dikeringkan untuk dijadikan pakan ternak.

    “Hasil penjualan nasi yang dikeringkan masuk ke kas relawan,” tutur Agung.

    Baca juga: Cerita Siswa di Solo Bantu SPPG Saat Uji Coba MBG Prasmanan: Seru, Jadi Pegawai Sementara

    Beri makan anak sendiri

    Sementara itu, Sunaryo, pemilik SPPG Klitik, mengatakan dirinya selalu mengingatkan para pegawai agar bekerja dengan baik saat mengolah dan memasak makanan.

    Ia meminta seluruh pekerja memperlakukan makanan yang disiapkan sebagaimana makanan untuk anak-anak mereka sendiri.

    “Saya selalu pesan pada pimpinan dapur termasuk semua anggotanya untuk selalu melakukan terbaik dan jangan macam-macam. Karena semua pegawai bekerja untuk mencari nafkah dan ibadah. Apalagi menu yang disajikan itu untuk anak kita sendiri,” kata Sunaryo yang memiliki tiga dapur SPPG di Kabupaten Ngawi.

    Kepala SMAN 2 Ngawi, Sugiyo, mengaku senang karena pengelola SPPG Klitik terbuka terhadap kritik. Salah satu masukan yang disampaikan sekolah adalah agar menu dengan lauk telur tidak terlalu sering diberikan kepada siswa.

    “Saya sampaikan kalau lauk telur seminggu jangan sampai dua kali. Saya sampaikan kalau dikasih telur seminggu dua kali maka siswa tidak mau makan. Dari masukan itu mereka mau dievaluasi,” ungkap Sugiyo.

    Sugiyo mengatakan, menu-menu kekinian yang menggunakan bahan lokal menjadi favorit para siswa. Menurut dia, siswa lebih lahap menghabiskan makanan ketika menu yang disajikan sesuai dengan selera mereka.

    Baca juga: Dua Pekan Uji Coba MBG Prasmanan di Solo: Makanan Dinilai Lebih Segar, Anak-anak Senang

    “Anak-anak makannya lahap tergantung lauknya. Kalau dikasih garingan dan kekininan maka langsung habis. Kalau telur agak berkurang,” ungkap Sugiyo.

    Meski siswa dapat menyampaikan permintaan menu, Sugiyo tetap mengingatkan mereka agar tidak berlebihan dalam mengeluh. Ia menyampaikan pesan tersebut saat apel pada Senin pagi. Menurut dia, makanan yang disajikan harus tetap memenuhi standar gizi dan kesehatan.

    Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Manusia Kesehatan, Farmasi, dan Alat Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, Dhina Handayani, mengatakan menu MBG yang disajikan harus memenuhi standar gizi. Dinkes Ngawi juga telah memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai menu bergizi.

    “Kami meminta agar SPPG memberikan MBG sesuai siklus menu dan standar porsi sasaran,” ungkap Dhina.

    Untuk mendukung pengawasan, Dhina meminta orang tua dan guru melihat foto menu MBG yang diunggah di media sosial serta menilai kesesuaiannya. Selain itu, kader posyandu dan guru diminta memeriksa isi makanan serta mengidentifikasi bau yang tidak biasa pada makanan MBG.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS