Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bahlil Lahadalia Berita Danantara Featured Spesial

    Bahlil Minta Danantara Tak Terima Lobi-lobi soal Izin Ekspor - Kompas

    4 min read



    JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta Danantara Indonesia untuk tidak menerima lobi terkait perizinan ekspor sumber daya alam (SDA).

    Ia menegaskan, kewenangan penerbitan izin ekspor berada di Kementerian ESDM, bukan Danantara. Bahlil menyebut, pengambilan keputusan terkait ekspor harus mengedepankan kepentingan dan kedaulatan nasional.

    "Saya sudah kasih tahu Danantara, jangan kau mau dilobi-lobi. Enggak ada, izin itu ada di ESDM, bukan Danantara. Kedaulatan negara saya dahulukan, wibawa negara saya dahulukan, marwah negara adalah marwah 280 juta jiwa yang ada di bangsa ini," ujar Bahlil dalam Minerba Convex di JIEXPO Kemayoran, Senin (2/11/2026).

    Baca juga: Bahlil Pastikan Swasta Tak Perlu Impor BBM Lewat Lemigas

    Selain menyoroti perizinan ekspor, dia juga meminta pemerintah mengubah pola perdagangan komoditas sumber daya alam Indonesia, termasuk listrik, mineral, batu bara, hingga gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

    Nada Bahlil Meninggi! Minta Ekspor SDA Indonesia Tak Lagi “Numpang Lewat” Negara Lain

    Bahlil mengatakan, Indonesia belum akan membuka ekspor listrik dalam waktu dekat karena kebutuhan energi di dalam negeri masih harus dipenuhi terlebih dahulu.

    "Saya sudah mengumumkan untuk Indonesia dalam waktu dekat belum bisa mengekspor listrik, kita masih butuh listrik, ya," ucapnya.

    Dia menegaskan, pemenuhan kebutuhan listrik domestik menjadi pertimbangan sebelum pemerintah mengambil keputusan untuk memasok listrik ke negara lain.

    Pada kesempatan itu, Bahlil meminta pula Dirjen Mineral dan Batubara (Minerba) agar mengutamakan pengiriman komoditas tambang Indonesia langsung ke negara pembeli.

    Baca juga: RUU Migas, Bahlil Sebut Perizinan Bakal Satu Pintu di BUK Migas

    Dia tidak ingin komoditas asal Indonesia harus melewati negara perantara sebelum sampai ke pasar tujuan, padahal pengiriman langsung bisa dilakukan.

    Bahlil mencontohkan pengiriman komoditas ke China. Menurut dia, barang dari Indonesia seharusnya dapat dikirim langsung tanpa harus singgah di negara lain hanya untuk mendapatkan stempel asal barang.

    "Tidak boleh dari Jakarta mampir di negara yang itu. Hanya stempel baru dia bilang ini ekspor by negara dia, dari mana barang kau? Langsung aja. Langsung aja. Udah lama barang ini tertinggal begini terus. Saya enggak bisa diolah-olah oleh mereka nih, enggak bisa," tegas dia.

    Instruksi serupa juga disampaikan kepada Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) serta Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

    Bahlil meminta pengiriman LNG ke negara pembeli, seperti Jepang dan Korea Selatan, dilakukan secara langsung apabila memungkinkan, tanpa melalui negara ketiga.

    Menurut dia, pola pengiriman melalui negara perantara justru memberikan keuntungan ekonomi kepada negara yang menjadi tempat persinggahan. Keuntungan itu antara lain berasal dari penerimaan pajak dan pencatatan nilai perdagangan.

    "Kenapa harus pakai negara lain? Mereka yang dapat pajak, mereka yang mempunyai neraca perdagangan, baru ada bencana sedikit saja sudah gopoh-gopoh kayak orang apa aja. Jadi jangan lagi kita kirim ke sana," kata Bahlil.

    Baca juga: Bicara Migas, Bahlil Sebut Asia Tenggara Mulai Terjadi Ketegangan

    Lebih lanjut, dia menyadari bahwa kebijakan tersebut dapat memunculkan pertanyaan mengenai negara yang selama ini menjadi perantara pengiriman komoditas Indonesia.

    Meski tidak menyebutkan nama negara secara langsung, dia menegaskan bahwa kepentingan dan kedaulatan Indonesia harus menjadi prioritas dalam hubungan perdagangan dengan negara lain.

    Dia juga mengingatkan agar Indonesia tidak hanya diperlakukan baik ketika negara mitra membutuhkan pasokan sumber daya alam, tetapi bersikap beda ketika muncul persoalan.

    "Jangan mau senangnya saja negara-negara itu menerima kita. Begitu kita ada sesuatu yang tidak pas, mulai buat gerakan tambahan," pungkas Bahlil.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Bahlil Bongkar Kenapa BBM di Bali Langka, Bukan Karena Stok Habis?

    Komentar
    Additional JS