Studi: Ibu Baru yang Tak Mendapat Dukungan dari Ibunya Lebih Berisiko Depresi - Kompas
KOMPAS.com - Sosok ibu kandung umumnya menjadi sandaran utama sekaligus tempat berlindung yang nyaman bagi perempuan yang baru melahirkan.
Namun, kenyataannya banyak perempuan harus menjalani masa rentan dan transisi besar ini sendirian tanpa pendampingan sang ibu di sisinya.
Laporan global dari The Motherless Mothers (TMM) dan aplikasi Peanut pada tahun 2025 mengungkapkan, bahwa sepertiga ibu baru memasuki fase pascapersalinan tanpa dukungan ibu mereka.
Baca juga: Ibu Baru Rentan Burnout, Psikolog Sarankan Punya Waktu Tenang 15 Menit Setiap Hari
Kondisi yang dipicu oleh kematian, penyakit parah, atau kerenggangan hubungan keluarga ini ternyata memicu risiko tinggi pada kesehatan mental.
Gen Z Lebih Memilih Adopsi Hewan daripada Punya Anak?
Psikiater di Miami, AS, dr. Nona Kocher, MD, MPH membenarkan betapa pentingnya kehadiran orangtua di masa rentan tersebut bagi seorang perempuan.
"Ibu biasanya menawarkan jenis kenyamanan yang sulit digantikan, terutama ketika semuanya terasa baru dan luar biasa," kata dr. Nona, mengutip Parents, Senin (2/11/2026).
Dampak psikologis ketiadaan sosok ibu bagi ibu baru
Melipatgandakan risiko gangguan mental
Survei global yang melibatkan lebih dari 2.300 responden dari berbagai negara mengungkapkan dampak nyata dari krisis dukungan keluarga ini.
Sebanyak 81 persen responden melaporkan mengalami gangguan kesehatan mental pascapersalinan. Angka tersebut empat kali lipat lebih tinggi dari rata-rata nasional di AS yang berada di angka 20 persen.
Secara khusus, laporan tersebut mencatat bahwa ibu baru di Negeri Paman Sam yang membesarkan anak tanpa kehadiran sosok ibu berisiko 5,4 kali lebih tinggi mengalami depresi pascapersalinan dibandingkan rata-rata nasional sebesar 12,5 persen.
Terapis berlisensi di Mindpath Health Kiana Shelton, LCSW menyebut kerentanan emosional ini terjadi karena hilangnya penopang utama.
"Selama kehamilan dan pascapersalinan, seorang ibu dapat memberikan kenormalan ketika semuanya terasa tidak pasti," kata Shelton.
Baca juga: Dukungan Sesama Ibu, Cara Membantu Ibu Baru Lalui Masa Awal Motherhood
Menurut Shelton, ketidakhadiran figur ibu bukan sekadar hilangnya bantuan praktis mengurus rumah tangga, melainkan runtuhnya pijakan emosional. Kekosongan ini melipatgandakan perasaan terasing, cemas, hingga memicu depresi perinatal.
Memahami ragam bentuk perpisahan

Lihat Foto
Selain akibat kematian atau penyakit parah, ketiadaan sosok ibu juga mencakup pemutusan hubungan kekeluargaan secara sengaja. Data riset menunjukkan sekitar enam persen orang dewasa terasing dari ibu kandung mereka.
Konselor Profesional Berlisensi dan Direktur Klinik Regional di Thriveworks Geralyn Fortney, LPC, PMH-C memaparkan bahwa fenomena ini membawa beban emosional tersendiri.
"Kerenggangan berbeda dengan perpisahan karena kematian atau penyakit, karena itu melibatkan pilihan, baik dari pihak anak perempuan, ibu, atau keduanya," kata Fortney.
Kondisi terasing kerap memancing rasa bersalah, malu, dan dilema mendalam pascamelahirkan. Sementara pada kasus ibu yang sakit parah, duka antisipatif kerap muncul saat merawat orangtua sekaligus bayi.
Baca juga: Merdianti Octavia Ungkap Cara Mengatasi Kewalahan Saat Jadi Ibu Baru
Bagi ibu yang telah kehilangan sang ibu akibat kematian, momen kelahiran anak secara alami akan membuka kembali rasa duka yang sempat terkubur.
Langkah mengatasi masa pascapersalinan tanpa sosok ibu
Mengomunikasikan kebutuhan kepada tenaga medis
Meskipun merawat anak tanpa bimbingan sangat melelahkan, banyak perempuan enggan meminta bantuan.
Survei mencatat 74 persen penyedia layanan kesehatan bahkan tidak pernah menanyakan apakah pasien memiliki dukungan dari ibu kandung.

Lihat Foto
Merespons fenomena ini, Kepala Seksi Psikiatri di Hackensack Meridian Ocean University Medical Center dr. Catherine M. Cunningham, MD mengimbau para ibu untuk aktif mengomunikasikan kondisi emosional mereka.
Baca juga: Ayah dan Ibu Sama-sama Butuh Me Time, Bagaimana Membagi Waktu Pengasuhan?
"Pemeriksaan dan pengobatan untuk depresi perinatal aman dan efektif, dan meminta bantuan bukanlah sebuah kelemahan," kata dr. Catherine.
Membangun support system alternatif
Jika ibu kandung tidak dapat hadir, perempuan dianjurkan membangun support system-nya sendiri.
Lingkaran ini tidak bertujuan menggantikan peran ibu kandung, melainkan memastikan kebutuhan emosional sang ibu baru tetap terpenuhi.
Dukungan tersebut bisa diperoleh dari sahabat, doula, figur senior, maupun kelompok sesama ibu baru.
Menjalani sesi terapi atau bergabung dalam komunitas pendukung terbukti efektif mengurangi rasa sepi dan membangun kepercayaan diri.
Menyayangi diri dan memvalidasi perasaan
Psikolog dan Pendiri Phoenix Health Emily Guarnotta, PsyD, PMH-C mengingatkan pentingnya memberikan kasih sayang pada diri sendiri di tengah kelelahan mengasuh bayi.
"Kesedihan menjadi ibu tanpa kehadiran seorang ibu jarang diakui dalam budaya kita. Memberi diri sendiri belas kasih, cinta, dan validasi yang kamu dambakan bisa berdampak sangat kuat," kata Guarnotta.
Kamu diajak untuk berbicara lembut pada diri sendiri, mengakui rasa lelah, dan mengizinkan tubuh untuk beristirahat. Selain itu, berikan ruang bagi rasa duka dan kebahagiaan untuk hadir berdampingan.
Menyadari bahwa kedua perasaan tersebut wajar terjadi akan membantumu menjalani peran baru dengan lebih tenang dan berdaya.
Baca juga: Perjuangan Ibu Anak Down Syndrome: Hadapi Bully dan Kesabaran Ekstra
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
