Super Air Jet Dua Kali Gagal Landing di Dhoho, Begini Cerita Ketegangan Penumpang - Radar Kediri

JP Radar Kediri – Perjalanan pulang Elok Rahma Dewi, 42, ke Kediri, Jumat (30/10) tak berjalan lancar.
Seharusnya wanita itu bisa landing di Bandara Dhoho pukul 10.25. Namun, akibat gangguan angin kencang, perempuan itu baru bisa menginjakkan kaki di daratan malam hari, pukul 21.00.
Perempuan asal Kecamatan Pesantren, Kota Kediri itu satu dari 102 orang penumpang pesawat Super Air Jet IU 356 rute Jakarta-Kediri.
Seharusnya pesawat tersebut landing di Bandara Dhoho pukul 10.25. Namun, dua kali percobaan gagal akibat angin kencang.
"Sudah hampir menyentuh runway tetapi kehempas lagi. Akhirnya naik lagi dan memutuskan ke Denpasar," ceritanya Elok, sembari mengatakan kejadian itu sempat membuatnya cemas.
Masih cerita Elok, di Bandara Ngurah Rai Denpasar, penumpang diminta tetap berada di pesawat.
Setelah bahan bakar diisi dan penumpang didata, pesawat terbang kembali ke Kediri. Mencoba lagi mendarat di Bandara Dhoho.
Sayang, percobaan mendarat yang kedua ini juga gagal. Meskipun pesawat sempat berputar di atas bandara selama setengah jam, akhirnya pilot memutuskan kembali ke Denpasar.
Transit dadakan yang kedua inilah, menurut Elok, penumpang diminta turun dari pesawat. Mereka disuruh menunggu informasi lanjutan.
Situasi yang membuat sebagian penumpang gelisah. Beberapa di antaranya ada yang memilih membatalkan penerbangan.
Masih menurut Elok, pelayanan maskapai relatif baik. Penumpang mendapatkan informasi dan fasilitas memadai selama terjadi masalah.
Bahkan, sempat ada penumpang yang mengalami gangguan kesehatan di pesawat dan dicarikan dokter.
Akhirnya, pesawat memutuskan terbang lagi ke Kediri pada pukul 20.00. Kemudian bisa mendarat dengan selamat di Bandara Dhoho satu jam setelahnya.
“Saat landing berhasil penumpang langsung tepuk tangan semua. Termasuk yang pemain sepak bola (Persita Tangerang),” ceritanya.
Tiyas Tuluh Bertanto, 35, penumpang asal Minggiran, Kecamatan Papar menambahkan, saat percobaan pendaratan, posisi pesawat sebenarnya sudah sangat dekat dengan landasan.
Namun, embusan angin membuat pesawat kembali naik. Kondisi tersebut terjadi berulang kali hingga pilot memutuskan kembali ke Bali.
Meski mengalami keterlambatan panjang, Bentar mengaku tidak mempermasalahkan. Baginya, faktor cuaca di luar kendali penumpang maupun maskapai.
Terlebih, keputusan pilot untuk mengalihkan penerbangan merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan.
"Kalau memang faktor cuaca, kita tidak tahu. Yang penting akhirnya bisa sampai dengan selamat," pungkasnya.
General Manager Bandara Internasional Dhoho Kediri Teguh Pratomo menjelaskan, penerbangan Super Air Jet IU 356 rute Jakarta-Kediri mengalami beberapa kali go around saat proses pendekatan pendaratan.
Kondisi angin kencang membuat pilot memutuskan mengalihkan penerbangan ke Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar.
"Atas pertimbangan keselamatan penerbangan dan kondisi cuaca, pilot memutuskan untuk divert (mengalihkan penerbangan, Red) ke Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar sebagai bandara alternatif,” jelas Teguh.
Dampak dari kondisi tersebut, penerbangan Super Air Jet IU 357 rute Kediri-Jakarta yang dijadwalkan pukul 12.35 WIB dibatalkan oleh pihak maskapai. Penumpang terdampak mendapatkan pilihan pengembalian dana secara penuh atau penjadwalan ulang tanpa biaya tambahan.
Teguh menegaskan, pihak bandara terus melakukan pemantauan cuaca dan berkoordinasi dengan BMKG, AirNav Indonesia, serta maskapai untuk memastikan kesiapan operasional penerbangan.
"Keselamatan dan keamanan penerbangan merupakan prioritas utama. Seluruh aspek operasional senantiasa dilaksanakan dengan mengedepankan ketentuan keselamatan penerbangan dan koordinasi dengan seluruh stakeholder terkait," pungkasnya.