Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Tidak Ada Kategori

    Kelelahan Video Zoom Picu Stres, Ini Tips Mengatasinya - harianaceh

    6 min read

    Kelelahan Video Zoom Picu Stres, Ini Tips Mengatasinya
    Redaksi HAIObrolan video terus-menerus di waktu real time juga sangat melelahkan.
    JAKARTA — Panggilan video kini menjadi alternatif berkomunikasi selama pandemi. Namun, dengan berbagai kegiatan bersosialisasi dan bekerja yang mengharuskan kita terus-menerus meng hadap layar, yang kemudian memunculkan digital fatigue.
    Didorong oleh ledakan baru-baru ini dalam konferensi video, Profesor komunikasi Jeremy Bailenson selaku direktur pendiri Stanford Virtual Human Interaction Lab (VHIL) memeriksa konsekuensi psikologis dari menghabiskan berjam-jam setiap hari di platform ini.

    "Pertemuan virtual telah meroket, dengan ratusan juta sesi terjadi setiap hari, karena protokol jarak sosial telah memisahkan secara fisik," ujar Bailenson.
    Dalam artikel peer-review pertama yang secara sistematis mendekonstruksi kelelahan Zoom dari perspektif psikologis, yang diter bitkan dalam jurnal Technology, Mind and Behavior pada 23 Februari, Bailenson menilai Zoom dari berbagai aspek teknis individual nya.

    Ia pun mengidentifikasi empat konsekuensi dari obrolan video berkepanjangan yang, menurutnya, berkontribusi pada munculnya sindrom "kelelahan Zoom".
    Bailenson menekankan tujuannya lebih untuk menyoroti bagaimana penerapan tekno logi konferensi video saat ini memang begitu melelahkan. "Konferensi video adalah hal baik untuk komunikasi jarak jauh, tetapi pikirkan tentang juga mengenai dampaknya," kata Bailenson, dilansir dari Stanford News, Selasa (18/5).
    Pertama, dalam setiap konferensi video, biasanya kita melakukan kontak mata jarak dekat yang sangat intens. Dalam pertemuan normal, orang akan melihat pembicara, mencatat atau mencari tempat lain. Namun, pada panggilan Zoom, semua orang melihat semua orang, sepanjang waktu.
    Sumber stres lainnya adalah bergantung pada ukuran monitor. Ketika wajah seseorang tampak sedekat itu dengan wajah kita dalam kehidupan nyata, otak akan menafsirkannya sebagai situasi intens yang akan mengarah pada konflik.
    Oleh karena itu, menurut Bailenson, sampai platformmengubah antarmuka mereka, sebaiknya ketika melakukan Zoom out dari opsi layar penuh dan mengurangi ukuran jendela Zoom.
    Kemudian, melihat diri sendiri selama obrolan video terus-menerus di waktu real time juga sangat melelahkan. Sebagian besar platform video akan menunjukkan tampilan Anda di depan kamera saat mengobrol. Namun, hal ter sebut, menurut Bailenson, adalah tidak wajar.
    Ia mengutip penelitian yang menunjukkan ketika kita melihat cerminan diri sendiri, kita akan lebih kritis terhadap diri sendiri. "Hal itu membuat stres dan ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa ada konsekuensi emosional negatif saat kita terus-menerus melihat diri sendiri di cermin," ujarnya.
    Sebagai solusi, Bailenson merekomendasi kan agar platform mengubah praktik default yang memancarkan video untuk diri sendiri dan orang lain, ketika hanya perlu dikirim ke orang lain. Sementara itu, pengguna juga dapat menggunakan tombol "sembunyikan tampilan sen diri", yang dapat diakses dengan mengeklik kanan foto mereka sendiri, setelah mereka melihat wajah mereka dibingkai dengan benar di video.
    Ketiga, beban kognitif akan jauh lebih tinggi dalam obrolan video. Bailenson men catat, dalam interaksi tatap muka yang teratur, ko munikasi nonverbal sangat alami dan kita masing-masing secara alami membuat dan menafsirkan bahasa tubuh dan isyarat non verbal secara tidak sadar.
    Namun, dalam obrolan video, kita harus bekerja lebih keras untuk mengirim dan mene rima sinyal. "Jika Anda ingin menunjukkan kepada seseorang bahwa Anda setuju dengannya, Anda harus mengangguk atau mengacungkan jempol. Itu menambah beban kognitif, sekaligus menggunakan kalori mental untuk berkomunikasi," ujarnya.
    Sebagai solusi, lanjut Bailenson, adalah dengan memberlakukan konsep "audio saja" ketika melakukan konferensi video. Dengan begitu, kita dapat beristirahat sejenak dari keharusan aktif secara nonverbal.
    Sumber: Republika
    Dia pun berperan dalam 54 persen gol tim untuk musim ini.
     LONDON — Pemain Tottenham Hotspur, Harry Kane kembali meraih sepatu emas untuk ketiga kalinya dalam karier sepak bola Inggris. Musim ini Kane turut mendapatkan gelar Playmaker Terbaik pertamanya, dengan catatan assist paling tinggi.

    Pemain tim nasional Inggris ini mencetak 23 gol dan 14 assist bagi tim. Dia pun berperan dalam 54 persen gol tim untuk musim ini. Tottenham pun menyelesaikan kompetisi di posisi tujuh klasemen dan mewakili Inggris untuk kualifikasi Liga Konferensi Eropa.

    Dilansir dari laman NBC Sports, Kane bersaing dengan Mo Salah dari Liverpool sebagai top skorer dengan 22 gol sebelum laga terakhir. Namun Kane menyumbang gol pada laga terakhir melawan Leicester City pada Ahad (23/5) kemarin.

    Kane membangun keunggulan sejak musim ini dimulai dengan bersaing bersama pemain Manchester United, Bruno Fernandes. Untuk Playmaker terbaik sebelumnya diperoleh Kevin De Bruyne selama dua musim dan Eden Hazard.

    Dengan diraihnya penghargaan itu, Harry Kane bergabung dengan Thierry Henry dan Alan Shearer sebagai pemain yang masuk dalam Hall of Fame Liga Premier sebagai pemain yang memenangkan penghargaan itu selama tiga kali dalam karier mereka.

    [Category Opsi Informasi, Teknologi]
    [Tags Featured,Zoom]
    Komentar
    Additional JS