0
News
    Home Arya Daru Diplomat Kemlu DPR Featured Kasus

    DPR: Kematian Diplomat Muda Kemenlu Paling Aneh, Polisi Harus Ungkap - Beritasatu

    2 min read

     Kasus,

    DPR: Kematian Diplomat Muda Kemenlu Paling Aneh, Polisi Harus Ungkap

    Jakarta, Beritasatu.com - Kematian seorang diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) berinisial ADP (39), mengundang perhatian serius dari DPR. Ditemukan tak bernyawa di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, kasus ini dinilai sebagai salah satu yang paling aneh karena tak kunjung terungkap meski sudah berjalan cukup lama.

    Anggota Komisi III DPR, Hinca Panjaitan menegaskan, meski tampak sederhana di awal, kematian ADP ternyata menyimpan kompleksitas luar biasa.

    "Kelihatan sederhana, tetapi menjadi sangat rumit karena buktinya sampai sekarang tak juga kunjung selesai," ujar Hinca kepada wartawan, Senin (28/7/2025).

    Dalam pengamatan Hinca, ini merupakan kasus langka yang belum pernah ia temui selama mempelajari dan mengikuti dunia hukum.

    Jenazah korban ditemukan dengan kondisi kepala terbungkus lakban, tetapi tanpa sidik jari sama sekali pada permukaan lakban tersebut.

    "Sepanjang pengetahuan saya belajar hukum, baru kali ini mendapati kasus yang meninggal mendapat perhatian kita, di lakban di kepala," lanjutnya.

    Minim Bukti, Spekulasi Meningkat

    Ketiadaan sidik jari pada lakban menimbulkan pertanyaan serius. Menurut Hinca, hal ini membuat proses investigasi berjalan lambat dan menyisakan ruang bagi berbagai spekulasi, termasuk bagaimana lakban itu dililit di kepala korban, apakah dari arah kiri atau kanan.

    "Sehingga akan muncul pikiran cara melakbannya akan ketahuan bagaimana itu terjadi, arah ke kiri atau arah ke kanan," katanya.

    Hinca menyebut kasus kematian diplomat ADP sebagai kasus yang tidak biasa, sehingga perlu ditangani dengan pendekatan khusus dan menyeluruh.

    Komisi III DPR pun mendorong Polri agar menuntaskan perkara ini menggunakan pendekatan scientific crime investigation atau penyelidikan ilmiah berbasis forensik.

    "Kita beri kepercayaan penuh kepada Polri, bekerja sungguh-sungguh, menurunkan seluruh tim terbaiknya untuk menuntaskan ini. Sebagai masyarakat, kita tunggu. Komisi III pasti menunggu," tegas Hinca.

    Kasus ini memang memicu keprihatinan publik, terutama karena korban adalah seorang diplomat muda yang tengah bertugas. Kejanggalan demi kejanggalan yang muncul membuat transparansi dalam penyelidikan menjadi hal yang sangat penting demi menumbuhkan kembali kepercayaan publik terhadap penegakan hukum.

    Simak berita dan artikel lainnya di Google News

    Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

    Komentar
    Additional JS