Chanee Kalaweit Berjuang 27 Tahun Lindungi Satwa di Indonesia, Kini Soroti Kebijakan Kemenhut - Pikiran Rakyat
Chanee Kalaweit
Berjuang 27 Tahun Lindungi Satwa di Indonesia, Kini Soroti Kebijakan Kemenhut
PIKIRAN RAKYAT - Nama Chanee Kalaweit baru-baru ini menjadi perhatian publik setelah ia mengkritik keras Kemenhut. Ia menyebut diacuhkan selama 9 tahun dan bahkan membatasi perizinan serta aktivitas unggahan media sosial terkait perlindungan alam.
Lalu, siapakah sosok Chanee Kalaweit, pria yang gigih berjuang selama 27 tahun di Indonesia untuk melindungi satwa liar?
Profil Chanee Kalaweit
Pria yang memiliki nama asli Aurelien Francis Brule, lahir pada 2 Juli 1979. Minatnya pada monyet, khususnya owa, sudah terlihat sejak dini. Pada tahun 1996, saat masih di bangku sekolah, ia menerbitkan buku pertamanya berjudul Le Gibbon a mains blanches (The White-Handed Gibbon).
Kecerdasannya menarik perhatian ahli etologi Muriel Robin, yang membantunya mempelajari owa di Thailand. Namun, ancaman deforestasi yang menyebabkan kepunahan owa membawanya ke Indonesia.
Chanee tiba di Indonesia pada tahun 1998, bertepatan dengan masa kejatuhan Orde Baru, dan memilih menetap di Kalimantan. Kemudian, dirinya mendirikan Yayasan Kalaweit yang didedikasikan untuk melindungi hewan yang kehilangan habitatnya.
Awalnya, Pemerintah Indonesia memberikan izin untuk membangun tempat penampungan bagi owa yang diperdagangkan.
Perjuangan Kalaweit terus berkembang:
- Pusat Penampungan: Pada tahun 2003, Kalaweit juga mendirikan yayasan di Pulau Sumatera. Kedua pusat ini, yang dibiayai donasi, kini menampung ratusan hewan (owa, siamang, beruang, buaya, kera, dll.) dalam kondisi terbaik.
- Cagar Alam: Pada tahun 2022, Yayasan Kalaweit bahkan membeli bidang hutan di Kalimantan dan Sumatera seluas total 440 hektar untuk diubah menjadi cagar alam permanen, menawarkan habitat yang aman bagi satwa liar.
Perjuangan Chanee semakin kokoh setelah ia secara resmi memperoleh Kewarganegaraan Indonesia (WNI) pada tahun 2012. Status itu memungkinkannya memperoleh tanah untuk mendirikan cagar alam secara lebih leluasa.
Chanee juga dikenal karena keberaniannya menyuarakan isu lingkungan. Pada November 2015, ia menerbitkan video viral yang menantang Presiden Jokowi terkait kebakaran hutan masif yang menghancurkan ratusan ribu hektar, menimbulkan asap beracun bagi penduduk dan satwa liar.
Selain bekerja di lapangan dengan sekitar 60 staf di Indonesia, Chanee aktif melakukan penggalangan dana, menerbitkan buku, dan membawakan acara Sur la Terre di saluran Prancis France 3 (sejak 2017) mengenai hewan dalam bahaya. Pada 2022, ia kembali mempromosikan buku terbarunya berjudul Hate d etre a demian di Prancis.***