Gubernur Mualem Lihat Keanehan di 'Tsunami Kedua' Aceh: Ikan, Biawak, Ular Banyak yang Mati - Tribunnews
Gubernur Mualem Lihat Keanehan di 'Tsunami Kedua' Aceh: Ikan, Biawak, Ular Banyak yang Mati - Tribunnews.com
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau juga dikenal sebagai Mualem, menyebut bahwa banjir bandang dan longsor yang terjadi di Aceh beberapa waktu lalu adalah bencana tsunami kedua.
Aceh dilanda tsunami pada 26 Desember 2004 dan merenggut nyawa 170.000 orang lebih.
Sementara banjir dahsyat melanda Aceh pada akhir November 2025 ini mengakibatkan 389 orang meninggal dunia, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), per Selasa (9/12/2025).
Mualem menyebut ada hal yang tidak lazim dalam 'tsunami kedua' tersebut.
Ia mengatakan binatang-binatang yang seharusnya dapat bertahan hidup dalam banjir tersebut, justru ikut mati.
"Binatang-binatang seperti kita lihat yang tidak mati, binatang melata seperti ular, biawak, kita lihat ini tidak mati, tapi ini banyak yang mati," kata Mualem, dikutip dari tayangan YouTube Mata Najwa, Selasa.
"UIar-ular besar-besar mati juga, biawak-biawak itu mati. Kita heran juga. Sebenarnya kan alam mereka itu, jadi tidak mungkin dia mati. Ikan-ikan juga begitu (mati)," imbuhnya.
Keanehan lain yang dilihat dirasakan Mualem yaitu air di dalam banjir tersebut berwarna hitam dan bau serta membuat tubuh gatal-gatal dan perih.
"Kita lihat satu kejadian yang paling aneh, dulu masa tsunami sebentar paling-paling 20 menit habis. Ini enggak, ini sedangkan waktu hujan, waktu banjir itu mengeluarkan suatu keadaan yang airnya hitam, gatal-gatal dan juga perih dan juga bau," katanya.
Mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu juga melihat ada jenazah yang terbuka bajunya hingga harus diikat di batang pohon karena belum dikubur akibat banjir.
"Orang dapat mayat-mayat, tidak boleh dikuburkan. Hanya mayat-mayat itu diikat di pokok kayu atau jembatan," ujarnya.
"Karena tidak ada tempat untuk tanam. Sampai 2-3 hari baru dapat tanam, pun kena lihat bukit-bukit yang tinggi baru dapat tanam," imbuhnya.
Mualem menjelaskan bahwa sejumlah wilayah masih sulit dijangkau pada hari ke-10 tanggap darurat.
Ada empat kabupaten yang terisolir: Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, dan sebagian Bireuen.
"Aceh Timur sampai sekarang belum satu juga terjamah. Mereka masih berteriak-teriak untuk dapat bahan sembako," ujar dia.
Mualem menyebut bantuan melalui jalur darat masih terhambat.
Satu-satunya cara untuk mendistribusikan logistik ke wilayah terisolir yaitu melalui helikopter.
"Masih banyak yang kelaparan. Perlu lebih banyak helikopter untuk bawa barang kepada mereka yang membutuhkan," kata Mualem.
Mualem juga tak menolak adanya bantuan dari beberapa negara sahabat seperti Malaysia hingga China.
"Mereka kirim obat-obatan dan tenaga medis. Mereka kerja 3 hari dan akan datang lagi," tuturnya.
Dalam bencana ini, Mualem mengaku kesa terhadap sejumlah bupati yang kurang bertanggung jawab.
"Mereka dipilih oleh rakyat. Masa kejadian begini mereka kewalahan, acuh tak acuh? Kalau ada bupati yang cengeng seperti itu, balik kanan saja," ucapnya.
(Tribunnews.com/Rakli)