AS Pindahkan Aset Militer ke Timur Tengah, Trump Siaga Perang? - Tribunnews.com
AS Pindahkan Aset Militer ke Timur Tengah, Trump Siaga Perang?
Amerika Serikat memindahkan aset militer ke Timur Tengah saat Presiden Donald Trump mempertimbangkan opsi serangan terhadap Iran.
Ringkasan Berita:
- Amerika Serikat memindahkan aset militernya, termasuk gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln, ke Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
- Langkah ini dilakukan saat Presiden Donald Trump mempertimbangkan berbagai opsi terkait situasi di Iran, meski belum memerintahkan serangan dan masih memantau perkembangan.
- Pengerahan tersebut berlangsung bersamaan dengan gelombang protes di Iran serta pengumuman sanksi baru AS terhadap pejabat Iran dan jaringan keuangannya.
TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) memindahkan sejumlah aset militernya ke kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Langkah tersebut, dilakukan ketika Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk kemungkinan serangan militer yang berkaitan dengan situasi di Iran.
Informasi ini pertama kali dilaporkan Fox News pada Kamis (15/1/2026), mengutip sumber-sumber yang tidak disebutkan namanya.
Pentagon mengonfirmasi, pergerakan kelompok serang kapal induk dari Laut China Selatan menuju Timur Tengah seiring meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.
Kapal induk USS Abraham Lincoln dan gugus tempurnya terlihat bergerak ke arah barat, menjauhi kawasan Indo-Pasifik, berdasarkan citra satelit perusahaan pemantau maritim Copernicus.
Gugus tempur tersebut mencakup jet tempur, kapal perusak rudal berpemandu, serta sedikitnya satu kapal selam serang.
Menurut sumber militer, perjalanan kapal induk menuju kawasan Timur Tengah diperkirakan memakan waktu sekitar satu pekan.
Pentagon belum memberikan komentar resmi terkait tujuan akhir pengerahan tersebut.
Pergerakan aset militer ini terjadi di tengah gelombang protes besar di Iran yang dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi.
Presiden Trump sebelumnya menyerukan agar demonstran Iran terus menekan pemerintah dan menyatakan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan,” yang memicu spekulasi soal potensi intervensi AS.
Meski demikian, Trump sejauh ini belum memerintahkan serangan dan disebut masih memantau perkembangan situasi di Iran.
Baca juga: Ketegangan Iran-Amerika Serikat Meruncing, Kemlu Pastikan WNI di Teheran Aman
Menurut laporan The Wall Street Journal, para penasihat militer memperingatkan bahwa serangan skala besar terhadap Iran berisiko memicu konflik regional yang lebih luas.
Seorang pejabat senior AS juga mengatakan kepada The New York Times bahwa Trump masih menunggu langkah selanjutnya dari Teheran, dan setiap serangan kemungkinan belum akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan.
Di tengah ketegangan tersebut, pemerintah AS mengumumkan sanksi baru terhadap pejabat Iran yang dituduh terlibat dalam penindakan brutal terhadap demonstran serta jaringan keuangan yang diduga membantu pengalihan dana negara.
Sementara itu, Pentagon mencatat sekitar 30.000 tentara AS saat ini ditempatkan di wilayah Komando Pusat AS, dengan kehadiran angkatan laut berupa kapal perusak dan kapal tempur pesisir.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)