Bupati Pati Sudewo Diduga Patok Harga dalam Pengisian Jabatan Perangkat Desa - Kompas
KOMPAS.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga Bupati Pati Sudewo menentukan harga dalam pengisian jabatan perangkat desa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan, setiap posisi perangkat desa diduga memiliki nominal tertentu.
"Jadi, setiap jabatan itu ada nilainya juga," ujar Budi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (20/1/2026), dikutip dari Antara.
Baca juga: Fakta Baru OTT Bupati Pati Sudewo: Uang Miliaran Disita, Camat-Kades Turut Ditangkap
Ia menambahkan, KPK akan memaparkan secara rinci besaran harga jabatan perangkat desa tersebut dalam konferensi pers pengumuman tersangka setelah operasi tangkap tangan (OTT) yang turut mengamankan Bupati Pati Sudewo.
"Nanti secara lengkap akan kami sampaikan. Pengisian jabatan ada di wilayah mana saja? Untuk berapa desa? Untuk berapa jabatan? Nanti kami akan sampaikan secara lengkap dalam konferensi pers," tuturnya.
Delapan Orang dibawa ke Jakarta, Uang Miliaran Disita
Sebagai informasi, Sudewo sempat diperiksa oleh tim penyidik KPK di Polres Kudus selama kurang lebih 24 jam terkait dugaan kasus pengisian jabatan lingkungan pemerintah desa.
Kemudian setelah OTT KPK, Sudewo pun telah dibawa ke Jakarta dan tiba di Gedung KPK Merah Putih pada Selasa (20/1/2026) sekitar pukul 10.34 WIB.
Baca juga: Tanggapi OTT KPK Bupati Pati Sudewo, Wagub Jateng Mewanti-wanti
Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Budi Prasetyo mengatakan, selain Sudewo, tujuh orang lainnya juga dibawa ke Jakarta.
"Satu bupati, dua camat, tiga kepala desa, serta dua calon perangkat desa," katanya.
Dalam OTT KPK tersebut, penyidik menyita barang bukti berupa uang tunai rupiah.
Baca juga: Wali Kota Madiun Maidi Terjaring OTT KPK
"Tim juga mengamankan barang bukti sejumlah uang dalam bentuk rupiah senilai miliaran rupiah," tukasnya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Selain Bupati Pati Sudewo, KPK Tangkap Camat hingga Kepala Desa"
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang