0
News
    Home Amerika Serikat Berita CSIS Featured Kolonialisme Spesial Venezuela

    CSIS Nilai Serangan AS ke Venezuela Bentuk Kolonialisme Baru - Beritasatu.com

    3 min read

     

    CSIS Nilai Serangan AS ke Venezuela Bentuk Kolonialisme Baru

    Sabtu, 10 Januari 2026 | 07:58 WIB
    DM
    DM
    Pakar CSIS yang juga mantan Duta Besar Indonesia untuk Inggris Rizal Sukma (tengah) dalam Forum Kramat di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Jumat, 9 Januari 2026. (Antara/Lintang Budiyanti Prameswari)

    Jakarta, Beritasatu.com - Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela merupakan bentuk kolonialisme baru yang mencerminkan kesewenang-wenangan negara adidaya dalam menguasai negara lain.

    Pakar CSIS sekaligus mantan Duta Besar Indonesia untuk Inggris, Rizal Sukma, mengatakan apa yang terjadi di Venezuela tidak bisa dilepaskan dari agenda besar politik global Amerika Serikat.

    BACA JUGA

    Sahkah AS Tuduh Maduro Narcoterrorism? Ini Tinjauan Hukumnya

    “Saya melihat apa yang terjadi di Venezuela adalah bentuk kolonialisme baru yang sangat jelas. Bukan hanya soal masuknya angkatan bersenjata Amerika Serikat untuk menculik Presiden Venezuela, tetapi juga rangkaian pernyataan pejabat tinggi AS yang menunjukkan kesiapan untuk berperang,” ujar Rizal di Jakarta, Jumat (9/1/2026).

    Rizal juga menyinggung sejumlah pernyataan United States Secretary of War, Pete Hegseth, yang dinilai memperkuat indikasi pendekatan agresif Washington. Selain itu, ia meminta publik mencermati wawancara Presiden AS Donald Trump dengan New York Times yang menurutnya memberi sinyal jelas arah kebijakan kolonialisme baru pada awal 2026.

    BACA JUGA

    Intervensi Militer AS ke Venezuela Picu Alarm Bahaya Global

    “Wawancara itu sangat rinci dan terbuka menjelaskan apa yang akan kita hadapi. Inilah kolonialisme baru yang kemungkinan besar akan mendominasi politik internasional pada tahun-tahun mendatang,” katanya.

    Menurut Rizal, kondisi tersebut mencerminkan adagium klasik dalam studi hubungan internasional yang telah berlaku ribuan tahun, yakni negara kuat dapat melakukan apa saja, sedangkan negara lemah harus menanggung akibatnya.

    Ia menilai Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap besarnya kekuatan Amerika Serikat dengan memperkuat ketahanan politik luar negeri serta menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan independen.

    BACA JUGA

    Trump Sinyalkan Pertemuan dengan Oposisi Venezuela María Machado

    Rizal juga mengkritik konsep hegemoni global berbasis group of two (G-2), yakni pembagian kekuasaan dunia antara Amerika Serikat dan China. Menurutnya, skema tersebut sangat berbahaya bagi tatanan internasional.

    “G-2 ini seolah dunia dibagi dua. Amerika Serikat mengatur satu kawasan, China mengatur kawasan lain. Negara A, B, C diatur satu pihak, sedangkan D, E, F diatur pihak lain. Ini jelas bentuk kolonialisme dan liberalisme baru yang harus kita tolak,” tegasnya.

    Ia menutup dengan mengingatkan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, tidak boleh pasif menghadapi dinamika geopolitik global yang kian didominasi kepentingan negara besar.

    Komentar
    Additional JS