Ikatan Keluarga Madura Soroti Oknum Ormas Usir Nenek Elina: Kami Mengutuk Tindakan Itu - 9
Ikatan Keluarga Madura Soroti Oknum Ormas Usir Nenek Elina: Kami Mengutuk Tindakan Itu

BANGKALAN, KOMPAS.com - Aksi oknum organisasi masyarakat (ormas) yang melakukan pengusiran dan pembongkaran rumah nenek Elina di Surabaya mendapat sorotan dari banyak pihak.
Salah satunya datang dari Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) yang menilai aksi oknum ormas tersebut tidak sesuai dengan pedoman hidup masyarakat Madura.
Ketua Umum DPP Ikama, H Muhammad Rawi mengatakan, sejak awal masyarakat Madura selalu menjunjung tinggi falsafah para ulama dan sesepuh.
Falsafah itu adalah bapa, bebu, guru, rato yang artinya sangat menghormati bapak, ibu, guru dan pemimpin.
"Kami selalu berpedoman pada hal itu dan di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung," ujarnya, Jumat (2/1/2025).
Menurut Rawi, tindakan pengusiran pada nenek Elina merupakan tindakan anarkis dan tidak mencerminkan sifat masyarakat Madura yang sangat menghormati seorang ibu.
"Kami sangat mengutuk keras tindakan itu," katanya menegaskan.
Sikap anarkis oknum ormas tersebut dinilai mencederai nama Madura. Apalagi, ormas tersebut membawa nama Madura di dalamnya.
Bahkan, pasca kejadian itu, tidak sedikit masyarakat umum memberikan penilaian buruk pada masyarakat Madura. Hal itu dinilai sangat meresahkan apalagi bagi masyarakat Madura di perantauan.
"Saya mendapat telepon dari warga Madura di berbagai daerah di Indonesia bahkan di Jepang dan Arab Saudi. Akibat ulah oknum itu, mereka yang di perantauan dinilai sama," ujarnya.
Ajak Ikuti Pelatihan
Untuk merubah citra masyarakat Madura yang kerap dituding sebagai pelaku kriminal, dia mengajak seluruh pengangguran yang ada di Madura untuk bisa bekerja dan berdaya.
Rawi juga mengajak para pengangguran untuk datang ke Ikama dan mengikuti training sebelum bekerja.
"Yang nganggur jangan mau bekerja dengan mafia tanah, mari kita cari lapangan kerja bersama-sama. Mari bangun Bangkalan, tingkatkan kemampuan untuk bekerja. Datang ke sini, kita training untuk bisa bekerja," katanya.
"Mereka yang tidak bekerja akan mudah terprovokasi," pungkas Rawi.