0
News
    Home Berita Featured Kisah Inspirasi Kisah Inspiratif Spesial

    Kisah Haji Ali Pedagang Kelapa Tua di Gowa, Wujudkan Mimpi 35 Keluarga jadi Calon Haji - Tribunnews

    7 min read

     

    Kisah Haji Ali Pedagang Kelapa Tua di Gowa, Wujudkan Mimpi 35 Keluarga jadi Calon Haji



    Mereka mengendarai lima mobil dan belasan motor, tetiba masuk ke halaman kantor yang baru sehari resmi ditempati.

    Kisah Haji Ali Pedagang Kelapa Tua di Gowa, Wujudkan Mimpi 35 Keluarga jadi Calon Haji

    TRIBUN-GOWA.COM - GOWA — Seorang pedagang kelapa tua bernama Haji M Ali mendaftarkan puluhan anggota keluarganya untuk menunaikan ibadah haji.

    Haji Ali sudah daftar 35 orang keluarganya di Kantor Kementerian Haji dan Umrah Gowa di Jl Masjid Raya, Somba Opu, Sungguminasa, Gowa pagi

    Suasana kantor Kemenhaj Gowa pun heboh , Selasa (13/1/2026)

    Mereka mengendarai lima mobil dan belasan motor, tetiba masuk ke halaman kantor yang baru sehari resmi ditempati.

    Haji Ali datang bersama anak, cucu, hingga keponakannya sejak pagi hari. 

    Bahkan, keluarga besar ini sudah berkumpul di depan kantor sebelum loket pendaftaran dibuka.

    Tribun-Timur.com, menghampiri kediaman anaknya di Jl Sultan Hasanuddin Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

    Rumah tersebut dijadikan tempat jual-beli mobil bekas.

    Lokasi rumah itu berada di deretan usaha-usaha, perbankan hingga bengkel.

    “Saya orang Bone, merantau ke Gowa sejak tahun 1983,” kata pria kelahiran Bone ini.

    Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Butta Bersejarah, Haji Ali menekuni usaha jual beli kelapa tua.

    Usaha tersebut terus dijalani hingga kini dan diteruskan oleh anak serta cucunya.

    “Dari dulu saya jual kelapa tua. Dulu penjual masih kurang. Alhamdulillah sekarang usaha ini diteruskan sama anak dan cucu,” ujarnya.

    Dari hasil berjualan kelapa, Haji Ali menabung sedikit demi sedikit. 

    Uang hasil usaha itu kemudian dikumpulkan sebagai tabungan haji.

    “Kita kumpulkan uang. Ada yang setor satu juta, ada yang tiga juta. Keluarga simpan di saya, memang diniatkan tabungan haji,” tuturnya.

    Menurutnya, haji bukan soal banyaknya harta, melainkan niat yang kuat.

    “Haji itu bukan karena banyak uang, tapi niat. Kalau soal uang, mungkin saya tidak bisa berangkat haji,” ucapnya.

    Haji Ali sendiri sudah dua kali menunaikan ibadah haji. 

    Ia pertama kali berangkat bersama sang istri pada tahun 1996.

    Kemudian tahun 2005 ia berangkat bersama anaknya.

    “Saya daftar anakku waktu dia masih SMP kelas tiga. Sempat tertunda setahun, akhirnya berangkat pas dia kelas satu SMA,” ungkapnya.

    Menurut Haji Ali, gelar haji harus menjadi pengingat untuk berbuat baik.

    “Kalau ada gelar haji, itu jadi tameng supaya tidak berbuat yang tidak bagus. Rajin salat,” pesannya.

    Saat berada di Tanah Suci, Haji Ali mengaku selalu memanjatkan doa di tempat-tempat mustajab.

    “Saya biasa berdoa di Multazam, di Arafah. Kesan di sana itu tidak bisa disampaikan dengan kata-kata,” ucap dia dengan senyuman.

    Pada pendaftaran kali ini, Haji Ali mendaftarkan 24 orang sekaligus. 

    Sebelumnya, ia sudah mendaftarkan 11 orang.

    “Total sekarang sudah 35 orang. Mulai dari anak, cucu, keponakan, dan keluarga lainnya,” jelasnya.

    Ia menyebutkan motivasi utama mendaftarkan anak dan cucu sejak dini adalah masa tunggu haji yang panjang.

    “Sekarang daftar tunggu lama. Jadi nanti pas mereka dewasa, sudah ada panggilan,” ujarnya.

    Sementara itu, Kepala Kemenhaj Kabupaten GowaHaji Alim Bahri, mengaku takjub dengan semangat keluarga Haji Ali.

    “Proses pendaftaran berjalan lancar. Persyaratan yang dibawa sesuai ketentuan, seperti KTP dan KK,” tutur Alim Bahri.

    Ia menyebut, peristiwa ini menjadi pengalaman yang luar biasa.

    “Ini pertama kali saya temukan. Kami semua sangat takjub. Apalagi beliau orang biasa saja,” ujarnya.

    Menurut Alim Bahri, Haji Ali layak menjadi inspirasi bagi masyarakat.

    “Sosok Haji Ali ini bisa menjadi motivasi bagi siapa pun untuk mendaftarkan anak dan cucunya berhaji,” kata dia.

    Ia menambahkan, usia para pendaftar tergolong sangat muda.

    “Anak-anak dan cucunya masih belia, tapi sudah punya semangat besar untuk berhaji. Di usia mereka, biasanya belum terpikirkan soal haji,” jelasnya.

    Saat ini, daftar tunggu haji berlaku secara nasional dengan masa tunggu sekitar 26 tahun.

    “Setidaknya anak cucu beliau sudah mengantongi kursi haji. Perkiraan keberangkatan sekitar tahun 2051,” pungkasnya

    Hingga akhir Desember yang melunasi biaya haji 2026 di Gowa sekira 1.166 dan total JCH 1.413 orang.

    Laporan TribunGowa.com, Sayyid Zulfadli 

     


    Komentar
    Additional JS