Kisah Rudy Terjebak Horor Macet Senin Pagi, Cipayung ke Cikini Naik Motor 3 Jam - Liputan6
Kisah Rudy Terjebak Horor Macet Senin Pagi, Cipayung ke Cikini Naik Motor 3 Jam
Hujan seolah menjadi isyarat bagi kemacetan untuk tumbuh lebih panjang dan lebih rapat dari hari-hari biasa.
- Rudi Juliansyah memulai perjalanan pagi lebih awal karena hujan deras.
- Perjalanan Rudi terhambat kemacetan parah dan genangan air di TB Simatupang hingga Cilandak.
- Waktu tempuh normal satu jam Rudi membengkak menjadi hampir tiga jam.
Liputan6.com, Jakarta - Hujan deras masih mengguyur ketika Rudi Juliansyah menstarter motornya, Senin pagi itu. Dari rumah kontrakannya di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, ia berangkat lebih awal dari biasanya.
Jam di ponselnya baru menunjukkan pukul 05.30 WIB, tak lama setelah azan Subuh berkumandang. Namun sejak dinihari, hujan turun tanpa jeda, membuat firasat Rudi pagi itu terasa berbeda.
Rudi bekerja di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Dalam kondisi normal, perjalanan dari rumah menuju kantor hanya memakan waktu sekitar satu jam. Jalur yang sudah ia hafal betul itu biasanya masih cukup bersahabat di pagi hari. Namun pagi itu, genangan air mulai terlihat bahkan sebelum ia benar-benar meninggalkan lingkungan rumah.
“Biasanya jam segini masih lancar. Tapi ini baru keluar gang saja sudah kelihatan berat,” ujar Rudi mengenang awal perjalanannya.
Memasuki jalur arteri utama, harapannya sempat muncul bahwa lalu lintas akan sedikit lebih longgar. Namun harapan itu pupus ketika ia tiba di Jalan TB Simatupang.
Hujan seolah menjadi isyarat bagi kemacetan untuk tumbuh lebih panjang dan lebih rapat dari hari-hari biasa.
Lautan Kendaraan
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3382095/original/054425100_1613796234-20210220-Tol-JORR-TB-Simatupang-Banjir-5.jpg)
Dari arah Cilandak menuju Fatmawati hingga Lebak Bulus, lautan kendaraan nyaris tak bergerak. Mobil-mobil pribadi berhimpitan dalam antrean panjang yang statis. Lampu rem menyala beruntun, membentuk garis merah yang seolah tak berujung. Di antara celah-celah sempit itulah, ribuan sepeda motor berusaha tetap melaju perlahan, zig-zag di antara bumper mobil yang nyaris saling menempel.
Rudi termasuk di antara mereka. Sesekali ia harus menurunkan kaki untuk menjaga keseimbangan, khawatir air yang menggenang menyembunyikan lubang di aspal. Suara klakson bersahutan, bercampur dengan derasnya hujan yang memukul helm dan jas hujan.
Kemacetan kian mengeras ketika ia mendekati Perempatan Cilandak menuju arah Pondok Indah. Di titik ini, arus kendaraan benar-benar tersendat. Tak sekadar melambat, lalu lintas nyaris tak bergerak sama sekali. Genangan air tampak di banyak titik, memaksa pengendara ekstra hati-hati. Beberapa motor terlihat memilih menepi, sementara mobil-mobil hanya bisa diam menunggu giliran bergerak beberapa meter.
“Di Cilandak sudah benar-benar mentok. Mau maju waswas mesin kemasukan air, mau putar balik juga nggak mungkin,” kata Rudi.
Waktu terus merambat. Jas hujan yang sejak awal dikenakan tak lagi cukup menahan dingin dan lembap. Air merembes dari sela-sela sarung tangan, membuat jari-jarinya mulai kaku. Sesekali Rudi melirik jam di ponselnya—angka terus bertambah, sementara jarak ke kantor seolah tak banyak berkurang.
Energi Terkuras
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4255388/original/099094100_1670573986-20221209-Cuaca-Ekstrem-Faizal-4.jpg)
Perjalanan yang biasanya hanya satu jam, pagi itu berubah menjadi perjuangan panjang. Ketika akhirnya meninggalkan kawasan TB Simatupang dan bergerak ke arah pusat kota, waktu tempuhnya sudah mendekati tiga jam. Energi terkuras bahkan sebelum ia tiba di kantor.
“Biasanya satu jam sudah sampai. Ini hampir tiga jam di jalan,” ujarnya singkat.
Bagi Rudi, hujan pagi itu bukan sekadar persoalan basah atau macet biasa. Ia mengubah rutinitas menjadi ujian kesabaran, memaksa para pekerja seperti dirinya bertarung dengan genangan, antrean panjang, dan waktu yang terus berjalan tanpa kompromi