0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Iran Spesial

    Kronologi Lengkap Demo di Iran yang Tewaskan 646 Orang - Beritasatu

    5 min read

      

    Kronologi Lengkap Demo di Iran yang Tewaskan 646 Orang

    Selasa, 13 Januari 2026 | 09:53 WIB
    S
    S
    Para pengunjuk rasa berbaris di sebuah jembatan di Teheran, Iran, pada Senin 29 Desember 2025. (AP/Fars via AP)

    Jakarta, Beritasatu.com - Aksi demonstrasi pecah di Iran pada 28 Desember 2025 dan kemudian meluas ke seluruh negeri. Para pengunjuk rasa meluapkan kekecewaan yang kian mendalam terhadap memburuknya kondisi ekonomi Republik Islam Iran tersebut serta anjloknya nilai mata uang nasional.

    Ratusan orang dilaporkan tewas dan ribuan lainnya ditangkap seiring demonstrasi harian yang terus membesar, sementara pemerintah berupaya mengendalikannya.

    BACA JUGA

    Kronologi 4 WNI Diculik Perompak di Perairan Gabon

    Awalnya, protes berfokus pada lonjakan harga kebutuhan pokok dan tingkat inflasi tahunan yang sangat tinggi. Namun, para pengunjuk rasa kemudian mulai melantangkan seruan-seruan bernada antipemerintah.

    Berikut kronologi perkembangan demonstrasi tersebut dilansir dari AP:

    28 Desember 2025:

    Demonstrasi pecah di dua pasar utama di pusat Kota Teheran setelah nilai rial Iran merosot hingga US$ 1,42 juta , rekor terendah sepanjang sejarah. Pelemahan mata uang ini memperparah tekanan inflasi dan mendorong kenaikan harga pangan serta kebutuhan sehari-hari. Sebelumnya, pemerintah menaikkan harga bensin bersubsidi secara nasional pada awal Desember yang memicu ketidakpuasan publik.

    29 Desember 2025:

    Kepala Bank Sentral Iran Mohammad Reza Farzin mengundurkan diri ketika protes di Teheran meluas ke kota-kota lain. Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa di ibu kota.

    30 Desember 2025:

    Protes meluas ke lebih banyak kota serta sejumlah kampus universitas. Presiden Iran Masoud Pezeshkian bertemu dengan para pelaku usaha, mendengarkan tuntutan mereka, dan berjanji pemerintahannya tidak akan mengerahkan setengah-setengah upaya dalam mengatasi persoalan ekonomi.

    31 Desember 2025:

    Iran menunjuk Abdolnasser Hemmati sebagai gubernur baru bank sentral. Pejabat di wilayah selatan Iran melaporkan bahwa demonstrasi di Kota Fasa berubah menjadi rusuh setelah massa menerobos kantor gubernur dan melukai sejumlah polisi.

    1 Januari 2026:

    Korban jiwa pertama secara resmi dilaporkan. Otoritas menyebut sedikitnya tujuh orang tewas. Kekerasan paling intens terjadi di Azna, Provinsi Lorestan. Video yang beredar daring memperlihatkan benda-benda terbakar di jalanan dan suara tembakan, disertai teriakan “Tak tahu malu! Tak tahu malu!”. Kantor berita Fars melaporkan tiga orang tewas. Korban lain juga dilaporkan di Provinsi Bakhtiari dan Isfahan, sementara seorang relawan Basij berusia 21 tahun tewas di Lorestan.

    2 Januari 2026:

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tensi dengan menulis di platform Truth Social jika Iran membunuh demonstran damai secara brutal, Amerika Serikat akan datang menolong mereka. Peringatan ini disampaikan hanya beberapa bulan setelah pasukan AS mengebom fasilitas nuklir Iran. Trump juga menyatakan, tanpa penjelasan rinci AS siap tempur sepenuhnya.  Pada saat yang sama, protes meluas ke lebih dari 100 lokasi di 22 dari 31 provinsi Iran, menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS.

    3 Januari 2026:

    Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan para perusuh harus diberi pelajaran, yang dipandang sebagai lampu hijau bagi aparat keamanan untuk menindak lebih keras demonstrasi. Menurut HRANA protes meluas pada lebih dari 170 lokasi di 25 provinsi, dengan sedikitnya 15 orang tewas dan 580 orang ditangkap.

    6 Januari 2026:

    Para pengunjuk rasa menggelar aksi duduk di Grand Bazaar Teheran hingga akhirnya dibubarkan aparat menggunakan gas air mata. Jumlah korban tewas meningkat menjadi 36 orang, termasuk dua anggota pasukan keamanan. Demonstrasi telah menjangkau lebih dari 280 lokasi di 27 provinsi.

    BACA JUGA

    Iran Membara, Mampukah Gelombang Protes Mengguncang Rezim?

    8 Januari 2026:

    Menindaklanjuti seruan putra mahkota Iran yang hidup di pengasingan, massa berteriak dari jendela rumah dan turun ke jalan dalam aksi protes semalam. Pemerintah merespons dengan memblokir internet dan sambungan telepon internasional, sebagai upaya memutus akses negara berpenduduk 85 juta jiwa itu dari pengaruh luar.

    9 Januari 2026:

    Iran memberi sinyal akan melakukan penindakan keras, tetapi demonstrasi kembali terjadi. HRANA melaporkan sedikitnya 65 orang tewas akibat kekerasan aksi protes, sementara lebih dari 2.300 orang ditahan.

    10 Januari 2026:

    Demonstrasi memasuki pekan kedua, dengan jumlah korban tewas mencapai sedikitnya 116 orang. Jaksa Agung Iran Mohammad Movahedi Azad memperingatkan siapa pun yang ikut serta dalam demonstrasi akan dianggap sebagai ‘musuh Tuhan’ sebuah tuduhan yang dapat dijatuhi hukuman mati.

    11 Januari 2026:

    Trump menyatakan Iran mengusulkan perundingan setelah ancamannya untuk menyerang Republik Islam Iran terkait penindakan berdarah terhadap demonstran. Aktivis menyebut jumlah korban tewas meningkat menjadi sedikitnya 544 orang.

    12 Januari 2026:

    Iran menggelar demonstrasi propemerintah yang diikuti puluhan ribu orang di jalan-jalan, sementara jumlah korban tewas dilaporkan meningkat menjadi 646 orang.

    Komentar
    Additional JS