0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Spesial Venezuela

    Pelajaran untuk Indonesia dari Venezuela: Berkah Tuhan Jadi Kutukan - CNN Indonesia

    6 min read

     

    Pelajaran untuk Indonesia dari Venezuela: Berkah Tuhan Jadi Kutukan

    Kamis, 15 Januari 2026 | 17:00 WIB
    MF
    MF
    Kekayaan minyak dan mineral Venezuela memicu krisis, konflik geopolitik, dan intervensi asing. (AP Photo/Edgar Frias)

    Jakarta, Beritasatu.com - Venezuela sejak lama dikenal sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam luar biasa. Cadangan minyak terbesar di dunia, gas melimpah, emas, hingga mineral tanah jarang menjadikan Venezuela seperti harta karun global.

    Namun, alih-alih membawa kemakmuran berkelanjutan, kekayaan ini justru menjadi sumber krisis ekonomi, konflik politik, dan perebutan kepentingan geopolitik.

    Dalam konteks inilah, berkat alam Venezuela kerap dipandang berubah menjadi kutukan yang membebani perjalanan bangsanya.

    Beragam Kekayaan Alam Venezuela

    Kekayaan sumber daya alam Venezuela tidak hanya terbatas pada minyak. Negara ini juga menyimpan cadangan gas alam terbesar keenam di dunia, serta beragam mineral strategis seperti emas, bijih besi, bauksit, koltan, dan thorium.

    Material tersebut sangat dibutuhkan industri modern, mulai dari ponsel pintar, kendaraan listrik, persenjataan, hingga energi terbarukan.

    BACA JUGA

    Trump Akhirnya Akan Temui Pemimpin Oposisi Venezuela María Machado

    Kondisi ini membuat Venezuela terus berada dalam radar kepentingan negara besar, khususnya Amerika Serikat. Pada era kepemimpinan Donald Trump, Washington secara terbuka menyoroti potensi energi Venezuela.

    Trump bahkan mengeklaim bahwa hak-hak perusahaan energi AS telah diambil alih pemerintah Caracas sejak konflik nasionalisasi industri minyak pada 2007.

    Pernyataan ini menegaskan bahwa bagi AS, Venezuela bukan semata isu ideologi, melainkan soal kendali atas sumber energi dan mineral bernilai strategis.

    Harapan yang Berubah Arah

    Ketika industri minyak Venezuela runtuh pada 2014-2015 dan krisis pangan serta obat-obatan meluas, pemerintah beralih ke sektor pertambangan. Pada 2016, dibentuklah Busur Pertambangan Orinoco, kawasan seluas sekitar 12% wilayah nasional di selatan Sungai Orinoco.

    Wilayah ini diyakini menyimpan lebih dari 8.000 ton emas, berlian, nikel, koltan, dan mineral tanah jarang lainnya. Namun dalam praktiknya, Busur Pertambangan Orinoco justru dikenal sebagai pusat kejahatan terorganisasi.

    Penambangan liar, korupsi politik dan militer, penyelundupan lintas negara, hingga kerusakan lingkungan berskala besar menjadi ciri kawasan ini.

    Aktivitas tambang melibatkan aliansi perusahaan yang dekat dengan elite kekuasaan serta kelompok bersenjata ilegal seperti ELN, sisa-sisa FARC, dan geng kriminal Tren de Aragua.

    Meski pemerintah menggandeng mitra asing seperti Turki dan Afrika Selatan, sebagian besar hasil tambang justru keluar negeri melalui jalur ilegal. Diperkirakan hanya sekitar 14% yang tercatat secara resmi.

    Selama puluhan tahun, Venezuela merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia. Sejak 1960-an hingga 1970-an, ekonomi negara ini tumbuh stabil seiring booming minyak.

    Data Bank Dunia menunjukkan PDB Venezuela pada 1960 berada di kisaran US$ 7,66 miliar dan terus meningkat sejalan dengan ekspor energi.

    Pada masa Presiden Hugo Chavez (1999-2013), pendapatan minyak digunakan secara masif untuk membiayai program sosial dalam kerangka Revolusi Bolivarian. Kebijakan ini sempat meningkatkan kesejahteraan jangka pendek dan memperkuat posisi politik pemerintah.

    Puncak kejayaan ekonomi Venezuela tercapai pada 2010, ketika PDB nominal menembus sekitar US$ 393,12 miliar. PDB per kapita kala itu mencapai US$ 13.643, bahkan sekitar lima kali lipat Indonesia pada tahun yang sama. Namun, fondasi pertumbuhan ini rapuh karena sangat bergantung pada satu komoditas utama.

    Setelah 2013, situasi berubah drastis. Kejatuhan harga minyak dunia, ditambah kebijakan kontrol harga, pembatasan nilai tukar, nasionalisasi industri, serta sanksi internasional, membuat ekonomi Venezuela runtuh. Pada 2020, PDB negara ini anjlok hingga sekitar US$ 42,84 miliar atau turun hampir 89% dari puncaknya.

    Krisis tersebut memicu hiperinflasi, kelangkaan barang, pengangguran tinggi, dan lonjakan kejahatan. Lebih dari tujuh juta warga Venezuela akhirnya meninggalkan negaranya dan mengungsi ke negara-negara tetangga, menjadikan krisis migrasi ini salah satu yang terbesar di dunia modern.

    Sejak 2021, terdapat tanda pemulihan terbatas. Pelonggaran kontrol ekonomi dan penggunaan dolar AS dalam transaksi domestik membantu menggerakkan kembali sebagian aktivitas ekonomi.

    Namun hingga 2024, PDB Venezuela masih berada di kisaran US$ 119,8 miliar dengan PDB per kapita sekitar US$ 4.217, jauh di bawah level sebelum krisis dan bahkan lebih rendah dibandingkan Indonesia.

    Sengketa Wilayah dan Tekanan Geopolitik

    Di tengah krisis internal, Venezuela juga terlibat sengketa perbatasan panjang dengan Guyana terkait wilayah Essequibo yang kaya minyak.

    Wilayah ini telah dikelola Guyana sejak 1899, namun terus diklaim Caracas. Sengketa ini semakin memanaskan situasi geopolitik kawasan, terlebih ketika potensi energi di wilayah tersebut mulai dieksplorasi.

    Ketegangan dengan Amerika Serikat meningkat seiring tuduhan Washington terhadap pemerintahan Nicolas Maduro, mulai dari pelanggaran HAM hingga keterkaitan dengan jaringan narkoba internasional. Bagi Caracas, semua tekanan tersebut diyakini berakar pada ambisi menguasai cadangan energi Venezuela.

    Pada periode kedua kepemimpinan Donald Trump, ketegangan meningkat signifikan. AS mengerahkan kekuatan militer di kawasan Karibia, memperketat sanksi, hingga melakukan operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada Januari 2026.

    Maduro ditangkap oleh pasukan elite AS dan dibawa ke Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan narkoterorisme.

    Washington menyebut langkah ini sebagai bagian dari perang melawan narkoba, sementara banyak pihak menilai operasi tersebut sebagai upaya langsung menggulingkan pemerintahan Venezuela demi menguasai minyak dan gasnya.

    Trump secara terbuka menyatakan keinginan melibatkan perusahaan minyak raksasa AS untuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela yang rusak dan memanfaatkan cadangan energi negara tersebut.

    Namun para analis menilai rencana itu menghadapi tantangan besar, mulai dari biaya miliaran dolar hingga waktu panjang untuk memulihkan produksi minyak yang saat ini jauh menurun.

    Meski memiliki cadangan minyak terbukti sekitar 303 miliar barel, produksi Venezuela telah merosot tajam. Pada November 2025, produksi minyak diperkirakan hanya sekitar 860.000 barel per hari, kurang dari sepertiga produksi satu dekade sebelumnya.

    Penurunan ini dipicu oleh kerusakan infrastruktur, sanksi internasional, serta eksodus tenaga ahli dari perusahaan minyak negara PDVSA. Karakter minyak Venezuela yang berat dan asam juga menuntut teknologi pengolahan khusus, sehingga membutuhkan investasi besar dan waktu panjang untuk kembali kompetitif.

    Perjalanan panjang ekonomi Venezuela menunjukkan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak otomatis menjamin kesejahteraan. Ketergantungan berlebihan pada satu komoditas, tata kelola yang lemah, serta konflik politik internal dan eksternal dapat mengubah potensi menjadi beban.

    BACA JUGA

    Iran Bukan Venezuela! Ini yang Mungkin Terjadi jika AS Intervensi

    Kisah Venezuela adalah cermin nyata bagaimana kekayaan alam bisa menjadi pedang bermata dua. Cadangan minyak, gas, dan mineral strategis yang melimpah seharusnya menjadi fondasi kemakmuran. Namun tanpa diversifikasi ekonomi, tata kelola yang kuat, dan stabilitas politik, berkat tersebut justru berubah menjadi kutukan.

    Komentar
    Additional JS